FAJAR, MAKASSAR — Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan menggelar sosialisasi Pemilihan Duta Bahasa di Aula Prof Mattulada, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Hasanuddin (Unhas).
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperkuat peran generasi muda dalam menjaga, mengembangkan, dan mempromosikan bahasa Indonesia di tengah berbagai tantangan kebahasaan.
Pihak Balai Bahasa menjelaskan bahwa kegiatan sosialisasi tetap dilaksanakan meskipun pada tahun ini terjadi pemangkasan anggaran yang cukup signifikan, yakni mencapai sekitar 50 persen.
Meski demikian, program Pemilihan Duta Bahasa tetap dianggap penting karena berkaitan dengan amanat konstitusi yang harus dijalankan oleh lembaga bahasa di seluruh Indonesia.
Amanat tersebut berakar pada Pasal 36 Undang-Undang Dasar 1945 yang menetapkan bahasa Indonesia sebagai bahasa negara. Ketentuan itu kemudian diterjemahkan dalam berbagai program kebahasaan yang dijalankan oleh lembaga bahasa di daerah.
Dalam pelaksanaannya, terdapat empat fokus utama yang menjadi tanggung jawab Balai Bahasa, yakni pembinaan bahasa, pelindungan bahasa, pengembangan bahasa, serta internasionalisasi bahasa Indonesia.
Namun, keterbatasan sumber daya manusia masih menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan berbagai program tersebut secara optimal.
Karena itu, Balai Bahasa berupaya memperkuat kolaborasi dengan berbagai elemen masyarakat, termasuk kalangan perguruan tinggi. Kerja sama dengan mahasiswa dinilai strategis karena generasi muda memiliki potensi besar sebagai agen perubahan dalam mempromosikan penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Melalui program Pemilihan Duta Bahasa, mahasiswa didorong untuk terlibat aktif dalam gerakan literasi bahasa. Peserta tidak hanya mengikuti proses seleksi, tetapi juga dituntut mempersiapkan diri secara matang, mulai dari pengetahuan kebahasaan, kemampuan komunikasi, hingga kepedulian terhadap isu bahasa di masyarakat.
Dengan demikian, Duta Bahasa diharapkan tidak sekadar menjadi simbol, tetapi juga motor penggerak berbagai kegiatan kebahasaan. Mereka diharapkan mampu menjadi jembatan antara lembaga bahasa dan masyarakat luas dalam upaya menjaga, mengembangkan, serta memperkenalkan bahasa Indonesia hingga ke tingkat internasional. (*/)
Penulis: Aisyah Fasha Wulandari M.
Mahasiswa Magang FAJAR, Universitas Hasanuddin





