DEPOK, KOMPAS.com - Sebanyak hampir 150 kepala keluarga (KK) masih aktif tercatat bekerja sebagai pemulung di Kampung Melati, Jalan Kampung Melati, Kota Depok.
Namun, sebagian warga lainnya kini mulai beralih ke pekerjaan lain, di antaranya menjadi tukang cuci atau ojek online (ojol).
“150 KK sekarang (masih pemulung), kan kalau dulu aktif semua merata bisa 200-an. Sekarang mereka (sisanya) mulai cari-cari kerja lain," kata Pengurus RT setempat, Sumanto, saat ditemui Kompas.com di lokasi, Selasa (10/3/2026).
Baca juga: WN Portugal Buronan Interpol Kasus Pembunuhan Ditangkap Imigrasi Jaksel
Ratusan warga yang mayoritas berasal dari Jawa Timur dan Jawa Tengah itu sebagian besar telah merantau dari kampung halamannya lebih dari 20 tahun.
Dalam kesehariannya, mereka berkeliling menggunakan gerobak untuk menyusuri jalan-jalan perumahan guna mencari barang rongsokan yang masih memiliki nilai jual.
Menurut Sumanto, wilayah kerja mereka tidak terlalu jauh dan biasanya hanya berada di sekitar Sukmajaya, Depok.
"Cari barangnya daerah sini saja, Perumnas terus ke dekat Pesona, soalnya kan kalau di sana pemulung enggak boleh masuk ya. Dulu mah banyak jadi lebih mencar ke mana-mana," ujar Sumanto.
Meski tidak diketahui secara pasti, Sumanto menilai warganya memiliki niat dan ketekunan yang tinggi. Karena itu, sebutan kampung pemulung di wilayahnya tidak pernah benar-benar hilang.
Bahkan, sebagian warga berhasil menyekolahkan anak-anak mereka hingga pendidikan tinggi dari hasil mengumpulkan barang rongsokan.
"Biarpun orangtuanya pemulung, anaknya pada belajar sehingga ya minimal pada belajar sampai SMA, terus ada juga beberapa yang pada kuliah," ungkapnya.
Baca juga: 22 WNI yang Dievakuasi dari Iran Tiba di Bandara Soekarno-Hatta
Pernyataan itu diperkuat oleh kisah seorang warga Kampung Melati bernama Supiah (65), yang merantau dari Bojonegoro, Jawa Timur, untuk bekerja sebagai pemulung di Depok.
Supiah memutuskan merantau pada 1996 dengan meninggalkan seorang anaknya di kampung halaman. Sementara itu, suaminya telah lama meninggal dunia, sehingga ia kini tinggal sendiri di sebuah bedeng sederhana.
Dalam sehari, Supiah memperoleh pendapatan berkisar Rp 50.000-Rp 75.000, tergantung pada hasil kumpulan barang rongsokan.
Meski demikian, Supiah dengan senang hati menyisihkan sebagian penghasilannya untuk dikirim ke cucu yang tinggal di kampung halaman.
Menurut dia, nominal berapa pun akan bisa berguna untuk anak semata wayangnya yang bekerja sebagai pedagang di Bojonegoro.





