EtIndonesia. Operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran kini telah memasuki minggu kedua sejak konflik besar di kawasan Timur Tengah pecah pada 28 Februari 2026. Dalam perkembangan terbaru, Israel melancarkan salah satu serangan udara terbesar sejak perang dimulai dengan menargetkan infrastruktur energi strategis di ibu kota Iran.
Serangan Udara Besar-besaran di Teheran
Menurut pernyataan resmi militer Israel pada 8 Maret 2026, lebih dari 80 pesawat tempur dikerahkan dalam operasi udara besar yang berlangsung sejak dini hari hingga pagi hari untuk menyerang sejumlah target strategis di Teheran.
Serangan kali ini menandai perubahan strategi penting, karena untuk pertama kalinya operasi udara Israel secara terang-terangan menargetkan fasilitas penyimpanan minyak dan infrastruktur energi Iran, yang juga berperan sebagai pusat logistik militer.
Beberapa lokasi utama yang menjadi sasaran serangan antara lain:
- Depot minyak Shahran, salah satu fasilitas penyimpanan bahan bakar terbesar di Teheran
- Beberapa gudang penyimpanan bahan bakar di wilayah timur laut ibu kota
Citra satelit yang beredar setelah serangan menunjukkan ledakan besar disertai kebakaran hebat di sejumlah fasilitas tersebut. Asap hitam pekat terlihat membumbung tinggi ke langit dan dapat terlihat dari berbagai wilayah di kota.
Pemerintah Iran mengonfirmasi bahwa sebagian kebakaran berhasil dikendalikan oleh tim pemadam kebakaran. Namun pihak berwenang juga mengakui bahwa fasilitas-fasilitas yang terkena serangan memang memiliki fungsi logistik yang berkaitan dengan operasi militer.
Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa setidaknya lima fasilitas terkait minyak terkena dampak langsung serangan udara tersebut. Insiden itu dilaporkan menewaskan empat orang serta menyebabkan kerusakan material yang sangat besar.
Bandara Militer Mehrabad Juga Terus Menjadi Target
Selain infrastruktur energi, militer Israel juga terus menggempur kawasan di sekitar Bandara Internasional Mehrabad di Teheran.
Bandara ini tidak hanya berfungsi sebagai bandara sipil, tetapi juga merupakan salah satu pusat transportasi militer utama Iran, yang digunakan untuk operasi logistik dan pergerakan pesawat militer.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa area di sekitar bandara tersebut telah menjadi target serangan berulang dalam beberapa hari terakhir, sebagai bagian dari upaya Israel untuk melemahkan kemampuan mobilisasi militer Iran di ibu kota.
Iran Meluncurkan Gelombang Serangan Balasan
Di tengah meningkatnya tekanan militer, Iran melancarkan serangan balasan besar-besaran terhadap Israel.
Dalam 24 jam terakhir hingga 8 Maret 2026, Iran dilaporkan telah meluncurkan setidaknya 12 gelombang rudal balistik yang diarahkan ke wilayah Israel.
Sebagian besar rudal tersebut berhasil dicegat oleh sistem pertahanan udara Israel, termasuk sistem Iron Dome dan sistem pertahanan multilapis lainnya.
Namun demikian, sebuah kilang minyak di dekat kota Haifa dilaporkan terkena serpihan rudal yang jatuh, yang kemudian memicu kebakaran lokal di area industri tersebut.
Serangan Drone Iran Meluas ke Negara-Negara Teluk
Selain menyerang Israel, Iran juga memperluas serangan menggunakan drone dan rudal ke beberapa negara di kawasan Teluk Persia.
Beberapa insiden yang dilaporkan antara lain:
Bahrain
Sebuah fasilitas industri yang digunakan untuk pemurnian air laut (desalinasi) mengalami kerusakan akibat serangan drone.
Kuwait
Sebuah gedung tinggi milik Badan Jaminan Sosial Kuwait dilaporkan terkena serangan drone dan terbakar. Gedung tersebut kemudian ditutup sementara untuk publik.
Arab Saudi
Sistem pertahanan udara Saudi dilaporkan berhasil mencegat sejumlah target rudal yang diarahkan ke wilayahnya.
Serangan terhadap negara-negara Teluk ini memperluas potensi konflik regional dan menimbulkan kekhawatiran akan meluasnya perang ke seluruh kawasan Timur Tengah.
Negara-Negara Teluk Mengeluarkan Kecaman Keras
Serangan Iran terhadap fasilitas di negara-negara Teluk segera memicu reaksi keras dari pemerintah setempat.
Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengeluarkan pernyataan yang menyebut tindakan Iran sebagai:
“Agresi terang-terangan terhadap target sipil.”
Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Kuwait mengecam keras serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan kriminal yang tidak dapat diterima.
Di sisi lain, Kementerian Pertahanan Kuwait menegaskan bahwa negara tersebut memiliki hak penuh untuk membela diri serta berhak mengambil langkah-langkah yang diperlukan guna melindungi kedaulatannya.
Menariknya, serangan tersebut terjadi hanya beberapa jam setelah Presiden Iran menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga, sebuah perkembangan yang memperlihatkan adanya ketegangan internal dalam kepemimpinan Iran.
Presiden Iran Dikritik Keras oleh Garda Revolusi
Pada 7 Maret 2026, Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyampaikan pidato yang disiarkan di televisi nasional.
Dalam pidato tersebut, ia:
- menyampaikan permintaan maaf kepada negara-negara tetangga
- menyatakan bahwa Iran tidak akan lagi menyerang negara-negara di kawasan
Namun hanya beberapa jam setelah pidato itu disampaikan, media Raja News, yang dikenal dekat dengan Garda Revolusi Iran (IRGC), secara terbuka mengkritik keras pernyataan presiden.
Media tersebut bahkan menyatakan bahwa:
“Mikrofon harus diambil dari tangan Presiden Pezeshkian.”
Pernyataan ini dianggap sebagai kritik yang sangat tajam dan tidak biasa dalam politik Iran.
Raja News juga melaporkan bahwa kurang dari satu jam setelah pidato presiden, juru bicara Staf Umum Angkatan Bersenjata Iran serta penasihat komandan Garda Revolusi segera tampil di media untuk:
- mengoreksi pernyataan presiden
- membatasi dampak politik dari pidato tersebut
Media tersebut bahkan menuduh bahwa memberikan hak bicara kepada presiden adalah kesalahan besar dari Komite Kepemimpinan Sementara Iran, serta menilai bahwa Pezeshkian tidak memiliki kecakapan politik dasar.
Ketegangan Internal dalam Struktur Kekuasaan Iran
Dalam struktur kekuasaan Iran, Garda Revolusi Iran (IRGC) merupakan kekuatan militer yang sangat kuat dan langsung berada di bawah komando Pemimpin Tertinggi, yaitu Ayatollah Ali Khamenei.
Sementara itu, presiden sebagai kepala pemerintahan sipil tidak memiliki kendali langsung atas militer.
Menurut konstitusi Iran, apabila Pemimpin Tertinggi meninggal dunia atau tidak mampu menjalankan tugasnya, maka sebuah Komite Kepemimpinan Sementara akan mengambil sebagian tanggung jawab kepemimpinan negara hingga pemimpin baru dipilih.
Dalam situasi saat ini, sikap media yang mewakili Garda Revolusi yang secara terbuka menantang komite tersebut dianggap sebagai perkembangan yang sangat tidak biasa.
Beberapa analis politik menilai bahwa dinamika ini menunjukkan ketegangan serius di dalam struktur kekuasaan Iran, yang berpotensi memperumit situasi politik domestik di tengah konflik militer yang semakin intens di kawasan Timur Tengah. (***)





