Ramadan dan Gagasan Dakwah Pembangunan Bung Hatta

harianfajar
1 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, MAKASSAR — Bertepatan dengan hari ke-18 Ramadan sekaligus peringatan Haul ke-46 Sang Proklamator, diskusi tentang pemikiran Mohammad Hatta kembali digelar.

Di tengah suasana menanti waktu berbuka, program “Membaca Kembali Bung Hatta” seri ke-16 diselenggarakan oleh Ma’REFAT Institute bekerja sama dengan Forum Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta dan Book Club Alumni SPBH-1, pada Minggu, 8 Maret 2026.

Diskusi yang dimulai pukul 16.00 Wita ini mengangkat tema “Dakwah dan Pembangunan” dengan menghadirkan Mohammad Muttaqin Azikin sebagai pemantik tunggal. Ia merupakan Alumni Sekolah Pemikiran Bung Hatta (SPBH) angkatan pertama sekaligus Direktur Eksekutif Ma’REFAT Institute Sulawesi Selatan.

Dalam pemaparannya, Muttaqin mengajak peserta menelusuri kembali gagasan Bung Hatta pada 1972 yang disampaikan melalui sambutan tertulis dalam Musyawarah Besar II IMMIM se-Sulawesi dan Maluku di Makassar. Dalam tulisan tersebut, Hatta menyoroti hubungan erat antara dakwah dan tanggung jawab sosial umat Islam dalam membangun masyarakat.

Menurut Hatta, semakin besar jumlah umat Islam, semakin besar pula tanggung jawab mereka dalam mendorong kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, dakwah tidak semestinya hanya berfokus pada ibadah ritual, tetapi juga menanamkan kesadaran sosial untuk berkontribusi dalam pembangunan kehidupan masyarakat.

Muttaqin menjelaskan bahwa Bung Hatta kerap memulai tulisannya dengan Surah Al-Fatihah yang ia anggap sebagai sari pati ajaran Al-Qur’an. Basmalah dan hamdalah yang mengawali surah tersebut, kata Muttaqin, mengingatkan manusia akan kasih sayang Tuhan sekaligus menegaskan bahwa segala pujian hanya ditujukan kepada Allah.

“Ketika seseorang memiliki kesadaran kepada Tuhan, orientasi hidupnya menjadi lebih lurus dan tindakannya akan diarahkan pada kebaikan,” ujar Muttaqin.

Ia menambahkan, ayat iyyaka na‘budu wa iyyaka nasta‘in dimaknai Bung Hatta sebagai penegasan bahwa manusia hanya menyembah kepada Allah dan hanya kepada-Nya memohon pertolongan. Kesadaran ini melahirkan sikap tawakal dan keikhlasan. Manusia yang ikhlas inilah yang diharapkan mampu mencurahkan tenaga dan pikirannya bagi pembangunan.

Kesadaran spiritual tersebut, lanjut Muttaqin, akan membentuk orientasi hidup seseorang. Ketika seseorang menyadari bahwa segala pujian hanya bagi Allah, maka kepentingan dunia tidak lagi menjadi tujuan utama, melainkan pengabdian kepada Tuhan yang menjadi landasan dalam setiap tindakan.

Muttaqin juga menyinggung firman Allah dalam Surah Ar-Ra’d ayat 11 yang menyatakan bahwa perubahan suatu kaum bergantung pada upaya mereka sendiri untuk mengubah keadaan. Bagi Bung Hatta, ayat ini menegaskan bahwa perubahan sosial tidak mungkin terjadi tanpa usaha manusia.

Di akhir pemaparannya, Muttaqin menegaskan bahwa Bung Hatta memandang pembangunan sebagai tanggung jawab bersama. Pemerintah berperan dalam urusan besar, pengusaha pada sektor menengah terutama ekonomi dan modal, sementara masyarakat kecil dapat memperkuat diri melalui koperasi.

“Setiap orang punya peran dalam pembangunan dan harus ikut serta dalam usaha tersebut sesuai kecakapannya masing-masing,” ujarnya.

Dalam sesi tanggapan, sejumlah peserta mengaitkan pemikiran Bung Hatta dengan kondisi dakwah masa kini. Salah seorang peserta menyoroti bahwa berbuat baik tidak seharusnya bergantung pada situasi lingkungan, melainkan lahir dari kesadaran kepada Allah. Dengan orientasi tersebut, seseorang tidak mudah patah semangat dalam berkontribusi bagi masyarakat.

Menanggapi hal itu, Muttaqin menegaskan bahwa dalam pandangan Bung Hatta, setiap aktivitas manusia—termasuk kerja sosial dan pembangunan masyarakat—harus berangkat dari kesadaran spiritual dan keikhlasan dalam pengabdian kepada Allah.

Ia menutup diskusi dengan mengingatkan bahwa Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas amal sekaligus kontribusi sosial. Dalam perspektif Bung Hatta, pembangunan tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia yang dilandasi nilai-nilai ketuhanan dan keikhlasan.

Diskusi berakhir pukul 18.00 Wita. Seperti seri-seri sebelumnya, kegiatan ini diikuti peserta dari berbagai latar belakang, mulai dari aparatur sipil negara, aktivis lingkungan, akademisi, mahasiswa, hingga pelaku usaha UMKM. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
EJAE Jadi Artis K-Pop Terpopuler di AS usai Raih 2,1 Miliar Streaming
• 5 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Trump Beri Sinyal Perang Lawan Iran Akan Selesai
• 11 jam laludetik.com
thumb
Kasus Korupsi Rita Widyasari, KPK Periksa Ketum Pemuda Pancasila Japto Soerjosoemarno
• 11 jam laluokezone.com
thumb
Perayaan 20 Tahun, Tsubaki Hadirkan Perawatan Rambut ala Salon Jepang 
• 4 jam lalutabloidbintang.com
thumb
H-10 Lebaran, Pemudik Mulai Padati Terminal Kampung Rambutan 
• 11 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.