SEMARANG, KOMPAS — Perang AS dan Iran dikhawatirkan turut berdampak pada menipisnya stok bahan bakar minyak di Tanah Air. Sebagian warga di Jawa Tengah sampah bolak balik datang ke SPBU untuk isi BBM karena khawatir.
Beberapa waktu terakhir, viral pernyataan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia yang menyebutkan bahwa pasokan BBM nasional cukup untuk 21 hari. Pernyataan itu muncul merespons konflik yang memanas antara AS dan Iran.
Usai mengetahui pernyataan tersebut, sejumlah warga di Jateng mengaku resah. Mereka khawatir tak kebagian BBM dan terhambat mobilitasnya karena hal tersebut.
Sumadiyono (62), warga Kecamatan Candisari, Kota Semarang, langsung membeli dua jeriken berukuran masing-masing 10 liter setelah mendapatkan informasi mengenai kondisi pasokan BBM nasional. Jeriken itu lalu dibawa ke dua stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di dekat rumahnya untuk memborong BBM.
"Sehari itu saya beli bensin 20 liter di jeriken untuk disimpan," kata Sumadiyono, Selasa (10/3/2026).
Ia pun kembali lagi ke SPBU untuk mengisikan BBM bagi dua sepeda motor lainnya yang ada di rumahnya. Hal itu ia lakukan karena khawatir kehabisan.
Kepanikan juga dirasakan oleh Rina (25), warga Kecamatan Semarang Selatan. Karyawan swasta yang biasanya mengisi BBM maksimal dua kali sepekan menjadi tiga kali dalam sepekan.
Rina menyebut, ia biasanya mengisi BBM hanya ketika indikator menunjukkan BBM mendekati habis. Dalam beberapa terakhir, ia bolak balik isi BBM meski jumlahnya baru berkurang satu baris atau sekitar setengah liter.
"Saya begitu karena panik, jangan-jangan malah stok BBM itu enggak sampai 20 hari. Saya juga enggak melihat ada mitigasi dari pemerintah, ditambah lagi ada informasi kapal Pertamina terjebak di Selat Hormuz. Tambah panik lah," ucap Rina.
Alfath (28), warga Kecamatan Tahunan, Jepara juga merasakan kepanikan serupa. Hal itu terjadi setelah melihat antrean panjang di sejumlah SPBU yang biasanya sepi. Alfath yang biasa menghabiskan waktu kurang dari 5 menit untuk mengantre, harus mengantre lebih dari 10 menit.
Di sejumlah SPBU tersebut, Alfath juga melihat orang-orang mengantre sambil membawa jeriken hingga galon kosong untuk diisi BBM. "Saya sempat tanya sama orang-orang yang bawa jeriken dan galon itu. Katanya mereka mau menyetok karena takut kalau nanti BBM langka," ujar Alfath.
Tak hanya harus mengantre lebih lama, Alfath yang biasanya menggunakan BBM jenis pertamax juga harus membayar lebih karena kenaikan harga BBM jenis itu. Kenaikan harga pertamax sebesar Rp 800 per liter.
Menurut petugas SPBU yang ditanyai Alfath, kenaikan harga pertamax terjadi sejak 1 Maret 2026. Meski kenaikan harga kurang dari Rp 1.000 per liter, angka itu tetap dinilai Alfath cukup tinggi.
Selain terhambat saat mengantre maupun mengalami kenaikan harga BBM, Alfath juga mengaku kesulitan mencari gas elpiji bersubsidi di wilayahnya. Ia sudah mencoba mendatangi sejumlah pangkalan di sekitar rumahnya, namun stoknya kosong.
"Kalau pun ada, lokasi pangkalannya cukup jauh dan harganya pun cukup mahal. Jika biasanya tabung 3 kg sama isinya itu Rp 150.000, ini jadi Rp 170.000," kata Alfath.
Tak hanya di Jepara, gas elpiji 3 kg juga disebut Rina langka di Semarang. Rina yang biasanya bisa membeli gas elpiji eceran di warung dekat rumahnya, harus berpindah tempat hingga dua kali untuk mencari gas elpiji.
"Sudah pindah dua kali, pertama di warung eceran itu tidak ada. Terus saya cari ke pangkalan juga tidak ada. Baru bisa dapat itu pas cari di agen yang jaraknya sekitar 2 kilometer dari rumah," ucap Rina.
Area Manager Communication, Relations, and Corporate Social Responsibility Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, Taufiq Kurniawan mengatakan, stok BBM di wilayahnya masih cukup hingga Lebaran. Selama ini, Pertamina disebut Taufiq selalu menjaga stok sekitar 15-20 kali lipat konsumsi harian.
"Kami selalu menjaga stok BBM di level 15-20 kali lipat konsumsi normal setiap harinya. Jadi, mau sampai setahun ke depan juga stoknya rata-rata segitu," ujar Taufiq.
Taufiq menyebut, konsumsi BBM di wilayahnya bakal meningkat selama masa mudik Lebaran. Untuk BBM jenis pertalite, konsumsinya 8.391 kiloliter per hari, akan naik sekitar 30 persen dari konsumsi normal. Kemudian, Pertamax dan Pertamax Turbo juga disebut Taufiq bakal meningkat sebesar 31 persen dan 51 persen dari jumlah normalnya, meskipun tak menrinci jumlahnya.
"Untuk solar malah akan turun sekitar 12 persen dari konsumsi normalnya sekitar 6.342 kiloliter per hari," katanya.
Menurut Taufiq, di wilayahnya tidak ada gejolak panic buying BBM seperti yang terjadi di daerah-daerah lain. Ia mengimbau masyarakat untuk tidak panik apalagi membeli BBM berlebihan karena pemerintah telah memberikan jaminan ketersediaan BBM di dalam negeri.
Terkait elpiji subsidi, Taufiq juga menyebut akan ada kenaikan konsumsi sebesar 9 presen dari konsumsi normal. Konsumsi normal elpiji di Jateng sekitar 4.307 metrik ton per hari.
Menurut Taufiq, tidak ada kekosongan elpiji bersubsidi di wilayahnya. Seiring dengan kenaikan jumlah kebutuhan, alokasi elpiji yang digelontorkan ke masyarakat juga disebut Taufiq juga ditingkatkan.
"Memang ada informasi penimbunan, seperti yang terjadi di Kudus. Ini karena mendekati momen Lebaran, orang mengerahkan segala cara untuk melakukan itu," ucap Taufiq.
Di tengah kondisi seperti itu, ada oknum-oknum yang disebut Taufiq berupaya untuk menaikkan harga melebihi harga eceran tertinggi (HET). Gas elpiji 3 kg yang harusnya dijual Rp 18.000 per tabung dijual hingga Rp 35.000 per tabung.





