JAKARTA, KOMPAS – Peringatan Nuzulul Qur’an menjadi momentum untuk menegaskan kembali makna perdamaian dan persatuan dalam kehidupan masyarakat. Di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, Presiden Prabowo Subianto mengajak seluruh masyarakat untuk menggalang persatuan dalam menghadapi situasi yang penuh bahaya.
Renungan perdamaian dan persatuan disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam peringat Nuzulul Qur’an 1477 Hijriah di Istana Negara, Jakarta, Selasa (10/3/2026) malam. Selain Presiden, acara itu juga dihadiri oleh Wakil Presiden Gibran Rakabuming, Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Ahmad Muzani, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Puan Maharani, dan Ketua Dewan Perwakilan Daerah Sultan B Najamudin. Selain itu, hadir pula para pimpinan lembaga negara lainnya, anggota Kabinet Merah Putih, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, dan para perwakilan santri.
Dalam pidatonya, Presiden mengatakan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an merupakan kesempatan untuk memahami dan meresapi makna perdamaian yang diajarkan di dalam Al Qur’an. Kitab suci umat Islam juga memuat pesan bahwa perbedaan merupakan sesuatu yang lumrah sehingga semestinya tidak membawa perpecahan. Perbedaan atau kebhinekaan justru bisa menjadi dasar yang kuat untuk membangun persatuan.
Di tengah dunia yang penuh ketidakpastian, bahkan penuh bahaya karena banyak pemimpin negara berkekuatan besar yang tidak menjaga perdamaian, Prabowo mengajak segenap bangsa Indonesia untuk terus menggalang persatuan. Dalam konteks nasional, itu bisa diwujudkan dengan membangun kerukunan antarwarga. Adapun dalam konteks antarnegara, Indonesia akan menjaga hubungan baik dengan semua negara.
“Kita hormati semua kekuatan di dunia, yang besar maupun yang kecil. Ini adalah jalan yang telah ditunjuk oleh pendiri-pendiri bangsa kita. Ini juga ditunjuk oleh hampir semua guru-guru agama dari semua agama, bahwa kita akan berusaha sangat keras untuk menjaga perdamaian,” kata Prabowo.
Ia menegaskan, membangun perdamaian dan persatuan juga tak bisa hanya dilakukan dengan berdoa dan berharap, tetapi juga dengan ikhtiar dan kerja keras, terutama dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan untuk rakyat. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk memberantas korupsi, penyelewengan, segala bentuk praktik yang dilarang oleh semua agama.
“Tidak ada negara yang berhasil manakala pemerintahannya tidak mampu membersihkan diri dari korupsi. Ini ajaran agama dan sejarah,” tutur Prabowo.
Untuk mewujudkan itu, ia pun meyakini dibutuhkan pemimpin yang bersedia melindungi segenap rakyat, apapun suku, ras, dan agamanya. Sebab, pemimpin sejatinya memiliki kekuasaan yang bersumber dari Tuhan. Adapun kekuasaan harus digunakan untuk membela kebenaran, serta membawa kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.
Cendekiawan Muslim Quraish Shihab yang hadir memberikan tausiah di acara itu juga mengingatkan bahwa pemimpin negara harus menegakkan keadilan tanpa dipengaruhi kebencian maupun kepentingan kelompok. Sebab, kepemimpinan merupakan amanah besar yang selalu disertai ujian. “Semakin tinggi kedudukan seseorang, semakin berat ujiannya,” ujarnya.
Menurut Quraish, Al-Qur’an menempatkan keadilan sebagai prinsip mendasar dalam kehidupan sosial, termasuk dalam menjalankan kepemimpinan. Al-Qur’an juga mengingatkan agar kebencian terhadap suatu kelompok tidak membuat seseorang berlaku tidak adil. Keadilan, kata dia, berarti menempatkan segala sesuatu pada tempatnya serta memberikan hak kepada pemiliknya secara tepat.
Tidak ada negara yang berhasil manakala pemerintahannya tidak mampu membersihkan diri dari korupsi. Ini ajaran agama dan sejarah.
Untuk menggambarkan prinsip kepemimpinan yang adil, Quraish mengutip pidato Khalifah Abu Bakar As-Shiddiq ketika pertama kali diangkat sebagai pemimpin umat Islam. Dalam pidato tersebut, Abu Bakar menegaskan bahwa pemimpin bukanlah orang terbaik di antara masyarakatnya.
Seorang pemimpin harus bersedia menerima koreksi jika melakukan kesalahan dan perlu didukung masyarakat ketika menjalankan kebenaran. Prinsip keadilan itu tercermin dalam sikap Abu Bakar yang berpihak kepada mereka yang lemah.
“Yang kuat di antara kamu lemah di sisiku sampai aku mencabut hak orang lain yang diambilnya. Yang lemah kuat di sisiku sampai aku mengembalikan haknya kepadanya,” kata Quraish mengutip pidato Abu Bakar.
Menurut dia, prinsip tersebut tetap relevan dalam kehidupan berbangsa saat ini. Penegakan keadilan yang konsisten akan menjadi fondasi bagi terciptanya kedamaian di tengah masyarakat.
Lebih jauh, Quraish menyinggung bahwa dalam upaya menjaga persatuan sering kali diperlukan pengorbanan. Ia mencontohkan peristiwa Perjanjian Hudaibiyah ketika Nabi Muhammad SAW bersedia menghapus beberapa kata penting dalam naskah perjanjian demi tercapainya perdamaian dengan kaum Quraisy.
Semangat pengorbanan demi persatuan, lanjut Quraish, juga pernah ditunjukkan oleh para pendiri bangsa Indonesia ketika menyepakati penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi menjaga persatuan nasional.
Selain itu, Quraish menjelaskan bahwa Al-Qur’an juga mengajarkan keseimbangan dalam kehidupan. Ia menuturkan bahwa Al-Qur’an mengandung banyak contoh keseimbangan, baik dalam susunan kata maupun pesan moral yang disampaikannya. Misalnya, kata “hari” dalam Al-Qur’an disebut sebanyak 365 kali, sama dengan jumlah hari dalam setahun, sedangkan kata “bulan” disebut sebanyak 12 kali.
Menurut Quraish, keseimbangan tersebut mengandung pesan agar manusia menjalani kehidupan secara seimbang, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara jasmani dan rohani serta antara kehidupan dunia dan akhirat. Dalam kehidupan sosial, keseimbangan itu juga tercermin dalam sikap menghargai perbedaan.





