Masjid Baitusolihin, Jejak Sejarah dan Kearifan Lokal Penyebaran Islam di Kaki Gunung Pulosari

tvrinews.com
15 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Jaya Wirnata

TVRINews, Kabupaten Pandeglang

Di Desa Nembol, Kecamatan Mandalawangi, Kabupaten Pandeglang, berdiri sebuah masjid kuno yang diperkirakan telah berusia ratusan tahun, yakni Masjid Baitusolihin. Masjid ini menjadi saksi bisu sejarah perjuangan para ulama dalam menyebarkan agama Islam di kawasan kaki Gunung Pulosari.

Masjid Baitusolihin menyimpan berbagai nilai sejarah dan kearifan lokal yang mendalam. Salah satu ciri khas bangunan ini adalah keberadaan empat tiang utama yang terbuat dari kayu jati asli yang hingga kini masih kokoh menopang atap bangunan. Keempat tiang tersebut melambangkan arah mata angin, yaitu barat, utara, selatan, dan timur. Secara filosofis, tiang-tiang ini juga dimaknai sebagai simbol empat sahabat Nabi Muhammad SAW yang setia dan gigih dalam mendakwahkan ajaran Islam.

Keunikan lainnya terlihat pada interior masjid, mulai dari area tempat imam dan mimbar yang dihiasi ukiran bermotif klasik, hingga seperangkat alat debus yang masih tersimpan rapi. Alat tersebut berbentuk menyerupai gendang dengan rantai di sekelilingnya serta besi berujung tajam di bagian bawah. Pada masa lampau, perangkat ini digunakan dalam atraksi debus sekaligus menjadi bagian dari media dakwah Islam yang khas di tanah Banten.

Tokoh masyarakat sekaligus pengurus Masjid Baitusolihin, Hudori, menjelaskan bahwa rumah ibadah ini memiliki kaitan erat dengan ulama dari Timur Tengah.

“Masjid ini diperkirakan berdiri sekitar tahun 1553 Masehi atau telah berusia lebih dari empat abad. Masjid ini menjadi pusat kegiatan ibadah sekaligus penyebaran dakwah Islam bagi masyarakat di sekitar kaki Gunung Pulosari. Masyarakat setempat meyakini masjid ini dibangun oleh seorang ulama yang datang dari Timur Tengah,” ungkap Hudori pada Selasa, 10 Maret 2026.

Hingga saat ini, Masjid Baitusolihin telah beberapa kali mengalami renovasi untuk menjaga ketahanannya. Meski demikian, keaslian struktur utama tetap dipertahankan dengan baik, terutama pada bagian empat tiang kayu penyangga, mimbar kuno, serta koleksi alat debus bersejarah.

Selain berfungsi sebagai tempat ibadah salat, masjid ini tetap menjadi pusat berbagai aktivitas keagamaan masyarakat, mulai dari pengajian rutin, peringatan hari besar Islam, hingga berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan lainnya.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
8 Hal Diketahui soal KPK OTT Bupati-Wabup Bupati Rejang Lebong
• 7 jam laludetik.com
thumb
Kondisi Terkini Jalur Pantura Plumbon Cirebon Jelang Mudik, Penambahan Lapisan Aspal
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Hukum kemarin, OTT Bupati Rejang Lebong hingga vonis Semuel Abrijani
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Lamine Yamal Selamatkan Barcelona dari Kekalahan Lawan Newcastle United
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Story Terakhir Intan Larasita Istri Bupati Rejang Lebong yang Kena OTT KPK, Unggah Foto Masakan Ini
• 22 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.