Bisnis.com, JAKARTA – Sinarmas Asset Management berencana menerbitkan sedikitnya tiga produk baru reksa dana pada 2026. Tidak hanya yang memiliki underlying asset instrumen investasi dalam negeri, produk anyar ini nantinya juga akan berisi underlying asset asal China.
Chief Investment Officer Sinarmas AM Genta Wira Anjalu menerangkan penerbitan ketiga produk ini dilakukan dalam rangka mengejar target dana kelolaan Sinarmas AM sebesar Rp70 triliun pada tahun ini.
”Yang pertama tadi Global Simas S&P 500 ESG Syariah, kita juga akan berencana untuk mengeluarkan global fund syariah juga yang bertemakan China, kita juga sedang proses untuk pengembangan ETF emas. Dari tiga itu akan menjadi kontributor dalam peningkatan AUM kita,” katanya kepada wartawan di Jakarta, Selasa (10/3/2026) malam.
Produk anyar pertama tahun ini, Global Simas S&P 500 ESG Syariah telah terbit pada 5 Maret 2026 lalu. Sementara itu, produk ETF emas ditargetkan launching pada Juni 2026 dan produk berbasis instrumen investasi dari China diprediksi rampung pada paruh kedua 2026. Namun, Genta tidak terang menjelaskan underlying asset produk terakhir.
Mengenai prospek produk, Genta menilai, di tengah kondisi ketidakpastian global, produk ETF emas memiliki prospek yang cukup positif. Total dana kelolaan selama satu tahun selepas penerbitan produk itu ditargetkan berada pada kisaran Rp500 miliar—Rp1 triliun.
”Itu cukup bagus karena kalau kami lihat, apalagi di tengah kondisi geopolitik yang dalam situasi yang tidak pasti. Aset-aset seperti emas itu yang menjadi safe haven buat para investor,” katanya.
Saat ini, Sinarmas tengah dalam koordinasi dengan berbagai pihak, seperti Bank Kustodian, Bank Bullion, hingga sekuritas, dalam rangka mengembangkan ETF emas. Sinarmas juga tengah menyiapkan infrastruktur produk tersebut.
Sementara terhadap reksa dana China based, Sinarmas menargetkan dana kelolaan mencapai Rp200—Rp500 miliar selepas diterbitkan. Produk ini dinilai penting sebagai instrumen diversifikasi di tengah kondisi pasar keuangan global yang tidak menentu.
”Jadi yang bisa kami lakukan adalah kami melakukan investasi secara diversifikasi dan ini bisa menjadi salah satu alternatif investasi. Jadi kalau dari para investor sudah memiliki reksa dana yang Indonesia based, US based, China based itu juga bisa menjadi salah satu pilihan,” tambahnya.
Sebelumnya diberitakan, Sinarmas AM menargetkan dana kelolaan mencapai Rp70 triliun pada tahun ini.
Presiden Direktur Sinarmas Asset Management Alex Widjajakusuma, menerangkan bahwa hingga saat ini, total dana kelolaan yang digenggam Sinarmas AM mencapai Rp65 triliun. Angka tersebut bertumbuh sekitar Rp3 triliun dari Rp62,39 triliun pada akhir 2025.
”Saat ini kami mengelola dana investasi, total dana kelolaan kami mencapai Rp65 triliun. Dan, kami menargetkan pertumbuhan dana kelolaan hingga mencapai Rp70 triliun melalui pengembangan berbagai produk investasi,” katanya dalam Market Outlook Sinarmas AM, Selasa (10/3/2026).
Optimisme Sinarmas AM terutama didasarkan pada potensi pertumbuhan industri manajer investasi dalam negeri. Alex menerangkan bahwa total dana kelolaan industri manajer investasi di Tanah Air telah melampaui Rp1.800 triliun, dengan total produk mencapai 2.385 aset dan sedikitnya 20 juta nasabah.
Alex menerangkan bahwa pertumbuhan tersebut telah mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor terhadap instrumen investasi yang dikelola oleh manajer investasi Tanah Air. Hal ini sekaligus menunjukkan peran strategis industri manajer investasi dalam mendorong pengembangan pasar keuangan dalam negeri.
Salah satu upaya Sinarmas AM dalam mencapai target tersebut adalah dengan mengandalkan pemanfaatan teknologi analisis data dan AI dalam pengelolaan portofolio. Upaya ini diklaim telah mampu memberikan imbal hasil yang kompetitif di tengah volatilitas pasar global.





