Bisnis.com, JAKARTA – PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) menargetkan pendapatan konsolidasi mencapai US$1,6 miliar atau sekitar Rp26,98 triliun (asumsi kurs Rp16.864 per dolar AS) usai melakukan transformasi kinerja atau fase reborn.
Direktur Utama Krakatau Steel Akbar Djohan mengatakan inisiatif tahun ini menjadi titik penting bagi perusahaan untuk beralih dari fase bertahan menuju penguatan posisi di industri baja. Tak hanya menargetkan industri baja, KRAS juga mengembangkan berbagai lini bisnis pendukung, seperti kawasan industri, kepelabuhanan, logistik, penyediaan air industri, hingga pembangkit listrik.
“Melalui KRAS Reborn, perseroan menetapkan visi untuk mencapai target pendapatan konsolidasi sebesar US$1,6 miliar sebagaimana tertuang dalam RKAP 2026,” ujarnya, Selasa (10/3/2026).
Dia menjelaskan target ini bukan sekadar angka finansial, melainkan transformasi mentalitas menuju reborn state yang mengedepankan kolaborasi lintas entitas antara holding dan anak perusahaan. Fokusnya adalah penyelesaian proyek yang berdampak langsung pada profitabilitas dan efisiensi dalam mencapai target strategis.
Direktur Komersial, Pengembangan Usaha, dan Portofolio KRAS Hernowo menargetkan kinerja keuangan tetap positif tahun ini seiring dengan mandat hilirisasi dari Danantara. Perseroan diminta terlibat dalam proyek pengolahan pasir besi dan bijih besi menjadi baja, serta pengembangan stainless steel berbasis nikel.
“Tahun lalu kinerja sudah hijau, selanjutnya tidak boleh merah lagi,” imbuh Hernowo.
Tak hanya itu, perseroan juga akan terlibat dalam program revitalisasi galangan kapal. Hingga saat ini perseroan secara rutin memasok 400.000 ton baja untuk industri galangan kapal nasional.
Lewat upaya penguatan industri maritim Indonesia dan amanat dari Danantara untuk memasok baja ke PT PAL sebagai pionir galangan kapal, pihaknya meyakini penyerapan baja ke industri lokal makin masif.
Dia berharap penguatan industri maritim nasional juga beriringan dengan penggunaan bahan baku lokal, termasuk baja yang diproduksi dalam negeri. Pasalnya, kebutuhan baja untuk industri galangan cukup besar.
“Kalau dibangun di domestik semua bisa double dengan catatan materialnya tidak impor. Nah, jadi kalau materialnya domestik itu bisa double industri kapal kita ya dari sisi penyerapan bahan baku,” jelasnya.
Berdasarkan Laporan Keuangan kuartal III/2025, KRAS membukukan laba bersih sebesar US$24 juta. Kinerja tersebut ditopang efektivitas restrukturisasi kewajiban, efisiensi operasional, serta keberhasilan program pelunasan dipercepat yang memperbaiki struktur keuangan perseroan secara signifikan.





