Bisnis.com, JAKARTA – Fluktuasi harga minyak mentah tak terbendung dalam hitungan hari. Terbaru, harga minyak dunia anjlok dalam laju terparah dalam empat tahun terakhir seiring pelaku pasar mencari petunjuk kelangsungan arus minyak melalui Selat Hormuz.
Berdasarkan data Bloomberg, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri hari dengan penurunan 12% atau kejatuhan harga terbesar sejak Maret 2022 ke level US$83 per barel.
Fokus utama pasar saat ini masih mengarah ke Selat Hormuz di Iran. Gedung Putih menyatakan bahwa Amerika Serikat tidak mengawal kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz. Pernyataan ini bertentangan dengan unggahan media sosial yang kini telah dihapus dari Menteri Energi Chris Wright yang sebelumnya mengklaim hal tersebut terjadi.
Kantor berita semi-resmi Iran, Fars, juga menyatakan tidak ada pengawalan militer AS. Selat tersebut biasanya menangani sekitar seperlima aliran minyak global.
Will Todman, peneliti senior dalam Program Timur Tengah di Center for Strategic and International Studies, mengatakan unggahan yang telah dihapus itu kemungkinan akan mendorong Iran untuk semakin memperkuat pendekatan yang sedang dijalankannya saat ini.
"Karena negara tersebut [Iran] mengetahui bahwa Amerika Serikat memiliki sedikit pilihan untuk meredakan dampaknya terhadap ekonomi global," kata Todman, dikutip Bloomberg pada Rabu (11/3/2026).
Dia menambahkan bahwa situasi ini juga dapat meningkatkan kecemasan di kalangan produsen minyak di kawasan Teluk, yang mungkin mempertanyakan apakah Washington membatalkan operasi semacam itu.
Para pelaku pasar yang memantau arus pengiriman melalui jalur perairan penting tersebut mengungkapkan frustrasi atas perubahan pesan dari pihak AS yang terjadi hampir dari menit ke menit.
Beberapa orang bahkan melaporkan mengalami kerugian akibat tajuk berita yang saling bertentangan. Hal ini menambah gejolak harga yang ekstrem sepanjang pekan ini, ketika hampir setiap informasi baru memicu pergerakan pasar, sekaligus menegaskan betapa rentannya pasokan energi global terhadap situasi geopolitik saat ini.





