Iran telah menutup Selat Hormuz usai diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel pada akhir Februari lalu. Pihak Iran kini memberikan tawaran bagi negara-negara yang ingin melintasi jalur strategis perdagangan minyak dunia itu. Apa syaratnya?
Dirangkum detikcom, Rabu (11/3/2026), Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan dalam pengumuman yang ditayangkan televisi pemerintah Iran, IRIB, seperti dilansir The Guardian dan CNN, Selasa (10/3), negara-negara akan mendapatkan akses tanpa hambatan untuk melintasi Selat Hormuz, jika mereka mengusir Duta Besar AS dan Israel dari wilayah mereka.
"Setiap negara Arab atau negara Eropa yang mengusir Duta Besar Israel dan Amerika dari wilayahnya, akan memiliki kebebasan dan wewenang penuh untuk melewati Selat Hormuz mulai besok," kata IRGC dalam pengumumannya pada Senin (9/3) malam.
Selat Hormuz ditutup sejak AS dan Israel melancarkan serangan udara skala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Teheran membalas dengan gelombang serangan rudal dan drone terhadap target-target di Israel dan negara-negara Teluk yang menampung aset militer AS.
Serangan-serangan yang terjadi setelah perang meletus pada akhir Februari lalu itu hampir sepenuhnya menghentikan lalu lintas di Selat Hormuz, yang merupakan jalur penting untuk minyak dan barang-barang lainnya.
Selat Hormuz merupakan jalur perairan strategis yang biasanya menangani sekitar 20 persen dari perdagangan minyak dunia dan volume ekspor gas alam cair global. Namun, menurut perusahaan analisis Kpler yang mengoperasikan platform MarineTraffic, lalu lintas kapal tanker di sana menurun 90 persen dalam seminggu.
Perang yang terus berkecamuk antara Iran melawan AS dan Israel telah mendorong lonjakan harga minyak hingga melebihi US$ 100 per barel. Penyebabnya tidak hanya karena penutupan Selat Hormuz, tetapi juga perlambatan produksi minyak di Timur Tengah.
(ygs/rfs)





