Saat bulan puasa tiba, salah satu kegiatan yang paling ditunggu banyak orang tentu saja berburu takjil. Bahkan kini muncul istilah “war takjil”, yaitu momen ketika orang-orang ramai-ramai berburu makanan dan minuman untuk berbuka puasa.
Menariknya, fenomena ini tidak hanya diikuti oleh umat Muslim saja. Banyak masyarakat dari berbagai latar belakang juga ikut meramaikan perburuan takjil. Tidak heran jika deretan pedagang takjil sering terlihat sangat ramai menjelang waktu berbuka.
Menanggapi hal tersebut, dosen IPB University, Dr Tjahja Muhandri, yang sehari-hari aktif membina pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), menilai war takjil sebagai fenomena sosial yang cukup unik dari berbagai sisi.
Menurutnya, salah satu alasan mengapa takjil begitu diminati adalah karena banyak makanan dan minuman yang jarang ditemui di hari biasa justru muncul saat Ramadan.
“Silakan dicek, akan banyak makanan atau minuman yang pada hari biasa tidak ada, tapi muncul saat Ramadan. Tersaji menarik, harganya murah. Maka rebutan makanan atau minuman takjil itu bisa jadi adalah rebutan ‘kenangan’,” katanya seperti dikutip dari laman IPB University, Selasa (10/3).
Ia menjelaskan bahwa pada awalnya takjil memang ditujukan bagi orang yang akan berbuka puasa. Namun seiring waktu, minat masyarakat semakin meningkat. Bahkan orang yang tidak sedang berpuasa pun ikut berburu berbagai menu takjil yang menarik.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan adanya tarikan pasar yang cukup kuat. Ketika banyak orang berburu takjil hingga berebut, hal tersebut menjadi sinyal bahwa permintaan konsumen memang sangat tinggi.
“Ketika konsumen sampai berebut beli, itu menandakan kebutuhan muncul dan pasar merespons dengan cepat,” jelasnya.
Dari sisi pelaku usaha, fenomena ini tentu membawa dampak positif, terutama bagi para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Banyak pedagang takjil yang dagangannya habis terjual setiap hari selama Ramadan.
Meski begitu, Tjahja mengingatkan agar para pelaku UMKM tetap kreatif dalam menawarkan produknya. Mereka juga perlu mengikuti tren yang sedang diminati konsumen agar tidak terjebak pada menu yang monoton.
Sementara dari sisi konsumen, war takjil justru memberikan keuntungan tersendiri. Banyaknya pilihan makanan dan minuman membuat masyarakat lebih mudah menentukan menu berbuka puasa untuk keluarga.
Kendati demikian, ia juga mengingatkan bahwa di balik ramainya fenomena ini, aspek kebersihan dan keamanan pangan tetap harus menjadi perhatian utama.
“Gunakan perlengkapan standar, minimal masker dan sarung tangan yang bersih ketika melayani konsumen. Ikuti tren, tidak masalah meniru produk yang sedang viral. Yang terpenting, tuliskan harga jual yang jelas agar konsumen tidak merasa akan ‘digetok harga’,” kata dia.
Tjahja juga menyoroti pentingnya pengawasan terhadap keamanan pangan. Menurutnya, fenomena war takjil membuka peluang bagi siapa saja untuk berjualan.
“Semua bisa jualan, bebas bikin produk, dan gelar lapak. Jadi aspek ini rentan untuk menimbulkan keracunan atau penyakit. Jadi, aspek kebersihan sangat penting untuk diperhatikan,” tambahnya.





