JAKARTA, DISWAY.ID -- Seorang warga negara Indonesia (WNI), Abdul Wahid (54), menceritakan situasi mencekam saat terjadi konflik di wilayah Timur Tengah.
Saat kejadian, Wahid tengah bekerja di salah satu bandara di negara Iran.
Namun tiba-tiba, perusahaan menyuruhnya pulang lantaran medengar suara ledakan.
BACA JUGA:Dukung Jakarta Festive Wonders, APPBI Kumpulkan 2.100 Kantong Darah dari 30 Pusat Perbelanjaan
BACA JUGA:Senyum Panglima TNI Saat Ditanya Siaga Satu Ada Hubungan dengan Ekskalasi Timur Tengah
"Saya lagi di kantor waktu itu, terus disuruh bubar sama kantor. Suruh pulang ke apartemen, ya udah kita pulang, itu (saya) lagi di airport," tuturnya di Bandara Soetta, 10 Maret 2026.
Pria yang bekerja sebagai teknisi perawatan pesawat di Iran itu akhirnya pulang ke Apartemen.
Namun, situasi semakin tidak kondusif lantaran ia mendengar suara ledakan dari jarak yang cukup dekat.
"Iya, pertama dengar bom itu ya ternyata lebih dasyat lah, ngeri, karena emang di sekililing," tuturnya.
Wahid panik bukan kepayang. Getaran dari ledakan itu pun terasa sampai di apartemennya.
BACA JUGA:HUT Ke-70, PARFI Tegaskan Soliditas, Santunan dan Siap Produksi Film
BACA JUGA:KP2MI Segel PT Panca Banyu Aji Sakti di Jakarta Timur: Tak Boleh Lagi Tampung CPMI
"Ya kondisinya orang dengar bom ya nggak biasa lah, jadi ya takut lah. Jaraknya 1 kilo atau 2 kilo lah," ungkapnya.
Apartemen Wahid memang terletak di Tehran--titik terjadinya serangan dari Israel.
Ia pun hingga sekarang masih mengalami traumatik akan kejadian tersebut.
- 1
- 2
- 3
- »





