Tidak terasa, puasa Ramadan tahun ini sudah memasuki minggu-minggu terakhir. Jika diperhatikan, perut tak lagi seberisik saat awal puasa. Malah, ada sesuatu yang terasa berbeda, kepala menjadi lebih jernih dan tubuh terasa jauh lebih ringan. Selama ini, fenomena tersebut sering kali hanya dikaitkan dengan kedamaian spiritual, buah dari disiplin, dan keberhasilan menahan hawa nafsu.
Tentu saja penjelasan itu tidak salah. Namun, dari kacamata sains, ada cerita yang jauh lebih menarik. Diam-diam, jauh di dalam triliunan sel tubuh kita, sedang berlangsung sebuah aktifitas bersih-bersih besar-besaran.
Fenomena ini disebut autophagy. Berasal dari bahasa Yunani, autos (diri sendiri) dan phagein (memakan), artinya secara harfiah adalah sel memakan dirinya sendiri. Terdengar agak menyeramkan, justru inilah salah satu mekanisme pertahanan dan efisiensi paling cerdas yang dirancang oleh tubuh manusia.
Coba bayangkan sebuah kota yang petugas kebersihannya mogok kerja. Dalam hitungan minggu, jalanan pasti lumpuh tertimbun gunungan sampah. Hal serupa bisa terjadi di dalam sel kita. Sel-sel kita memproduksi protein setiap detik. Sayangnya, tidak semua berjalan mulus. Ada protein yang kerjanya sudah selesai dan harus pensiun, ada yang cacat produksi sejak awal, hingga organel (seperti mitokondria) yang sudah menua dan soak. Jika dibiarkan, sampah-sampah mikroskopis ini akan menumpuk dan membuat sel gagal berfungsi.
Di sinilah autophagy turun tangan menjalankan fungsinya untuk kegiatan bersih-bersih. Dia bukan hanya sekadar tukang sapu yang membuang kotoran ke tempat pembuangan akhir, melainkan sebuah sistem daur ulang tingkat tinggi. Komponen-komponen usang di dalam sel yang berserakan tadi dipecah, diekstrak bahan bakunya, lalu dirakit kembali menjadi komponen seluler yang segar.
Tanpa proses ini, sampah seluler akan terus menumpuk dan dapat memicu penyakit. Penyakit Alzheimer dan Parkinson, sangat erat kaitannya dengan penumpukan gumpalan protein rusak di otak yang gagal dibersihkan. Berkat pemetaan rinci mengenai cara kerja autophagy inilah, ilmuwan Jepang Yoshinori Ohsumi diganjar Hadiah Nobel Kedokteran pada 2016. Temuannya sukses merombak total cara dunia medis memandang proses penuaan dan penyakit degeneratif.
Pertanyaannya, di mana letak peran puasa dalam proses ini?
Sel kita tidak menyalakan mode autophagy setiap saat. Sistem daur ulang ini baru aktif secara optimal saat tubuh berada dalam krisis energi. Saat kita makan, kadar gula darah dan insulin melonjak tajam. Tubuh pun masuk ke mode simpan dan bangun. Dalam fase ini, autophagy otomatis tertidur pulas, untuk apa repot-repot merombak dan mendaur ulang barang bekas kalau masih ada bahan baru sedang melimpah ruah?
Namun ceritanya berbalik 180 derajat ketika kita berpuasa. Saat asupan makanan terhenti, gula darah dan insulin merosot. Tubuh mulai mencari sumber energi alternatif. Demi efisiensi, sakelar autophagy pun dinyalakan. Berdasarkan riset, sinyal ini mulai menyala setelah tubuh tidak menerima asupan kalori selama 12 hingga 16 jam.
Pola puasa Ramadan di Indonesia yang rata-rata memakan waktu 12 hingga 14 jam sudah cukup untuk mengaktifkan mekanisme autophagy. Begitu pula dengan tren intermittent fasting (puasa 16 jam, makan 8 jam) yang belakangan viral. Meski sering dipuja-puji di media sosial sekadar sebagai trik menurunkan berat badan, manfaat lainnya justru sangat jauh lebih besar.
Fakta ini membuat kita tersadar, bahwa puasa bukanlah tren kesehatan yang baru. Ramadan telah dijalankan selama lebih dari 1.400 tahun. Tradisi puasa juga mengakar kuat dalam sejarah agama lainnya seperti Kristen, Yahudi, Hindu, dan Buddha. Ritual spiritual kuno ini secara alami telah memicu proses penyembuhan biologis yang kini mati-matian dipelajari oleh dunia medis modern.
Lalu, dampak konkret apa yang didapat oleh tubuh?
Di otak, autophagy rajin menyapu protein abnormal sebelum sempat menggumpal, memberikan petunjuk rasional mengapa puasa sering dikaitkan dengan fungsi kognitif yang lebih tajam. Di ranah sistem imun, sel-sel pertahanan kita menggunakan trik autophagy sebagai benteng lapis kedua untuk menelan dan menghancurkan bakteri serta virus nakal yang berhasil menyusup masuk ke dalam sel. Sementara itu, pada ranah anti-penuaan, studi pada hewan uji menunjukkan bahwa memperkuat mekanisme autophagy mampu memperlambat penuaan dan memperpanjang usia. Meski pada manusia studinya masih terus dikembangkan, arah temuan sains sejauh ini sangat menjanjikan.
Selama ini, kita terlalu sering dicekoki pemahaman bahwa menjadi sehat berarti harus menambahkan sesuatu ke dalam tubuh, seperti menelan suplemen, minum vitamin, atau mengonsumsi berbagai jenis superfood. Padahal, praktik puasa mengingatkan kita pada sebuah realitas, bahwa tubuh manusia memiliki kehebatan luar biasa untuk memperbaiki dirinya sendiri, asalkan ia sesekali diberi jeda untuk beristirahat.
Jadi, saat kepala terasa lebih jernih atau tubuh terasa lebih ringan di penghujung Ramadan ini, itulah nikmat sesungguhnya. Itu bukan semata-mata karena ketenangan batin, melainkan juga bukti nyata bahwa di dalam sana, sel-sel otak kita sedang sibuk beres-beres demi versi diri kita yang lebih segar. Pada akhirnya puasa tidak hanya membuat kita menjadi lebih baik secara spiritual, namun juga membuat kita menjadi lebih baik secara fisik and emosional.





