Microsleep saat Mudik Lebaran: Ancaman yang Datang Tanpa Disadari

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Mudik Lebaran selalu menjadi tradisi yang dinanti oleh masyarakat Indonesia. Pada mudik 2026, jutaan orang diperkirakan melakukan perjalanan jauh untuk kembali ke kampung halaman dan berkumpul bersama keluarga.

Namun di balik kebahagiaan tersebut, perjalanan mudik juga menyimpan berbagai risiko kesehatan dan keselamatan di jalan. Salah satu risiko yang sering tidak disadari adalah microsleep, yaitu kondisi tidur singkat yang dapat terjadi pada pengemudi akibat kelelahan atau kurang tidur selama perjalanan.

Microsleep adalah kondisi ketika seseorang tertidur sangat singkat—biasanya berlangsung antara 1 hingga 10 detik—akibat kelelahan atau kurang tidur. Meski terlihat singkat, kondisi ini sangat berbahaya, terutama ketika terjadi saat seseorang sedang mengemudi.

Bayangkan kendaraan melaju dengan kecepatan 80 km per jam. Jika pengemudi mengalami microsleep selama 5 detik, kendaraan dapat melaju lebih dari 100 meter tanpa kendali. Dalam kondisi lalu lintas padat saat arus mudik, situasi ini dapat dengan mudah berujung pada kecelakaan yang fatal.

Microsleep sering kali tidak disadari oleh pengemudi. Banyak orang merasa masih mampu melanjutkan perjalanan meskipun tubuh sebenarnya sudah sangat lelah.

Beberapa tanda awal microsleep sebenarnya dapat dikenali, seperti mata terasa berat, sering menguap, sulit fokus pada jalan, berkedip lebih lambat, atau tiba-tiba tersadar karena kendaraan sedikit keluar jalur.

Menurut Donny Nurhamsyah, Dosen Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, microsleep merupakan salah satu faktor risiko kecelakaan yang sering luput dari perhatian masyarakat.

Menurutnya, banyak pengemudi tidak menyadari bahwa tubuh sebenarnya telah memasuki kondisi kelelahan ekstrem.

Microsleep sering terjadi tanpa disadari. Dalam hitungan detik saja, pengemudi bisa kehilangan kontrol terhadap kendaraan. Pada kecepatan tinggi, kondisi ini sangat berbahaya karena kendaraan tetap melaju tanpa kendali,” jelas Donny.

Pada perjalanan mudik, risiko microsleep meningkat karena berbagai faktor. Persiapan perjalanan yang melelahkan, kurang tidur sebelum berangkat, perjalanan panjang berjam-jam, dan kondisi jalan yang monoton dapat mempercepat munculnya rasa kantuk. Selain itu, banyak pengemudi memaksakan diri untuk terus melaju agar cepat sampai tujuan.

Padahal, memaksakan diri mengemudi dalam kondisi lelah justru dapat meningkatkan risiko kecelakaan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa mengemudi dalam kondisi sangat mengantuk dapat memiliki risiko yang setara dengan mengemudi dalam kondisi terpengaruh alkohol.

Donny menekankan bahwa pencegahan microsleep sebenarnya dapat dilakukan dengan langkah sederhana. Salah satunya adalah dengan memastikan pengemudi memiliki waktu istirahat yang cukup sebelum perjalanan.

Pengemudi sebaiknya tidur minimal tujuh jam sebelum melakukan perjalanan jauh. Selain itu, penting untuk beristirahat setiap dua hingga tiga jam perjalanan agar tubuh tetap segar dan konsentrasi tetap terjaga.

Sebaiknya, pengemudi tidak ragu untuk berhenti ketika mulai merasakan tanda-tanda kantuk.

Jika mulai muncul gejala seperti sering menguap, mata terasa berat, atau sulit fokus pada jalan, sebaiknya segera berhenti di rest area atau tempat yang aman untuk beristirahat. Tidur singkat selama 15–20 menit sering kali cukup membantu memulihkan kewaspadaan.

Selain pengemudi, anggota keluarga yang berada di dalam kendaraan juga memiliki peran penting dalam menjaga keselamatan perjalanan. Penumpang dapat membantu dengan mengajak pengemudi berbicara, memperhatikan tanda-tanda kelelahan, dan mengingatkan untuk beristirahat jika diperlukan.

Keselamatan selama mudik tidak hanya bergantung pada kondisi kendaraan dan kepadatan lalu lintas, tetapi juga pada kondisi fisik dan kewaspadaan pengemudi.

Mudik seharusnya menjadi perjalanan penuh kebahagiaan menuju pertemuan dengan orang-orang tercinta. Jangan sampai perjalanan tersebut berubah menjadi tragedi hanya karena kita mengabaikan tanda-tanda kelelahan.

Perjalanan yang aman bukan tentang siapa yang paling cepat sampai, melainkan siapa yang paling bijak menjaga keselamatan selama perjalanan.

Beristirahatlah ketika lelah karena sampai dengan selamat jauh lebih penting daripada sampai lebih cepat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waspada Penularan Campak saat Silaturahmi Lebaran
• 55 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Pemerintah Imbau Penundaan Umroh Karena Konflik Timur Tengah
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Persija sudah kantongi nama legiun asing yang akan dipertahankan
• 9 jam laluantaranews.com
thumb
Kasus Campak di Indonesia Meningkat, IDAI Serukan Kejar Imunisasi Anak
• 11 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Pemerintah pantau terus kondisi WNI di Lebanon saat eskalasi konflik
• 8 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.