VIVA – Thailand dan Vietnam memberlakukan sejumlah langkah darurat, menyusul eskalasi konflik di Timur Tengah yang memicu kenaikan harga minyak dunia. Kedua negara mendorong pembatasan aktivitas pegawai dan penghematan energi di berbagai lini.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul, Selasa, mengumumkan langkah-langkah penghematan energi untuk instansi pemerintah dan perusahaan milik negara di tengah kenaikan harga minyak dunia akibat eskalasi konflik di Timur Tengah.
Langkah penghematan yang dilakukan Thailand, termasuk penerapan kerja jarak jauh alias work from home (WFH) bagi pegawai negeri sipil di sana, dilakukan karena dampak dari kenaikan harga minyak itu dapat mengancam keamanan energi di negeri gajah putih itu.
"PM Thailand telah menginstruksikan instansi pemerintah dan perusahaan untuk segera menerapkan langkah-langkah yang memungkinkan karyawan bekerja dari rumah, ketika tugas mereka tidak berdampak terhadap penyediaan layanan publik," kata Wakil Juru Bicara Pemerintah Thailand Lalida Periswiwatana dalam konferensi pers di Gedung Pemerintah, Bangkok.
Seluruh perjalanan dinas luar negeri yang dibiayai Pemerintah Thailand untuk para pegawai, termasuk untuk tujuan pendidikan dan magang, telah ditangguhkan dan harus dilakukan di dalam negeri, tambah Periswiwatana.
Pemerintah Thailand sedang mengembangkan program penghematan energi lebih luas untuk periode mendatang, termasuk penutupan harian stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) mulai pukul 22.00 hingga 06.00 waktu setempat.
"Timur Tengah adalah pemasok energi terbesar di dunia dan konflik yang sedang berlangsung di sana menyebabkan volatilitas harga minyak dan energi global secara konstan. Pemerintah pun menganggap penanganan krisis energi yang mengancam sebagai prioritas utama," kata juru bicara tersebut.
Pemerintah Thailand juga sedang meninjau proposal dari kementerian energi setempat untuk memperkenalkan langkah-langkah penghematan lebih ketat jika situasi semakin memburuk.
Permintaan rata-rata harian di Thailand untuk produk minyak saat ini mencapai sekitar 32,7 juta galon. Per tanggal 5 Maret, total cadangan minyak di Thailand tercatat sekitar 2,1 miliar galon, yang memerlukan sebagian besar minyak mentah impor, kata Periswiwatana.
Kementerian Energi Thailand pun mengusulkan beberapa langkah konservatif untuk gedung perkantoran publik, termasuk mengatur suhu pendingin udara pada 25-26 derajat Celcius, mendorong penggunaan pakaian lengan pendek daripada jas dan dasi kecuali pada acara resmi, serta mengurangi konsumsi listrik.





