Drama China bukan lagi hanya menjadi konsumsi domestik. Dalam beberapa tahun terakhir, serial seperti The Untamed, Love Between Fairy and Devil, hingga Hidden Love berhasil menembus pasar global dan menarik jutaan penonton dari berbagai negara.
Streaming platform membuat drama China semakin mudah diakses, termasuk oleh penonton di Indonesia yang kini semakin akrab dengan produksi hiburan dari negeri tersebut.
Namun di balik popularitas tersebut, muncul pertanyaan yang lebih politis: Apakah drama China sekadar hiburan global, atau bagian dari cara Tiongkok membangun pengaruhnya di dunia?
Fenomena ini menunjukkan bahwa industri hiburan China sedang mengalami ekspansi global yang signifikan. Dari perspektif hubungan internasional, popularitas tersebut tidak hanya menarik sebagai tren budaya populer, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika pengaruh global Tiongkok.
Dalam politik global modern, pengaruh tidak selalu dibangun melalui kekuatan militer atau ekonomi. Budaya populer juga dapat menjadi alat persuasi yang efektif. Film, musik, dan drama televisi mampu membentuk persepsi publik tentang suatu negara tanpa harus menyampaikan pesan politik secara eksplisit.
Konsep ini dikenal dalam studi hubungan internasional sebagai soft power. Joseph Nye menjelaskan bahwa negara dapat memengaruhi pihak lain melalui daya tarik budaya, nilai, dan citra yang mereka tampilkan kepada dunia. Selama beberapa dekade, Amerika Serikat berhasil memanfaatkan industri hiburan sebagai instrumen soft power melalui dominasi Hollywood dan budaya pop nya yang mendunia.
Kini, Tiongkok tampaknya mulai memainkan strategi yang serupa. Seiring meningkatnya kekuatan ekonomi dan ambisi geopolitiknya, ia juga berupaya memperkuat pengaruh melalui jalur budaya. Pemerintah Tiongkok memberikan perhatian besar pada pengembangan industri kreatif domestik, termasuk produksi film dan drama televisi yang semakin diarahkan untuk menjangkau pasar internasional.
Salah satu simbol dari ambisi tersebut adalah Hengdian World Studios di Provinsi Zhejiang, yang sering disebut sebagai salah satu kompleks studio film terbesar di dunia. Tempat ini menjadi lokasi produksi berbagai drama sejarah dan film epik yang tidak hanya ditujukan untuk pasar domestik, tetapi juga untuk distribusi global.
Infrastruktur industri hiburan berskala besar seperti ini menunjukkan bagaimana negara memandang budaya populer bukan sekadar sektor ekonomi, melainkan juga instrumen strategis untuk membangun citra dan pengaruh di tingkat internasional.
Drama televisi kemudian menjadi salah satu medium yang menonjol dalam strategi tersebut. Produksi drama China berkembang pesat, baik dari sisi cerita, teknologi produksi, maupun distribusi global melalui digital platform. Hasilnya, drama China kini tidak hanya ditonton oleh audiens domestik, tetapi juga oleh jutaan penonton di berbagai belahan dunia.
Di balik kisah romantis, fantasi, atau sejarah yang ditampilkan, drama China juga sering menghadirkan gambaran tertentu tentang masyarakat dan negara. Banyak serial menonjolkan nilai keharmonisan sosial, stabilitas negara, dan kebanggaan terhadap peradaban Tiongkok yang panjang. Narasi semacam ini secara tidak langsung membangun citra positif tentang Tiongkok di mata penonton global.
Dalam studi propaganda dan persuasi, media populer memang sering digunakan untuk membentuk persepsi publik secara halus. Pesan politik tidak selalu hadir dalam bentuk pidato atau slogan. Ia dapat muncul melalui cerita, karakter, dan nilai yang disisipkan dalam sebuah narasi hiburan.
Ketika penonton di berbagai negara mulai mengenal bahasa, budaya, dan simbol identitas Tiongkok melalui drama televisi, pengalaman budaya tersebut secara perlahan membentuk cara mereka memandang negara tersebut. Tanpa disadari, hiburan dapat menjadi sarana persuasi yang bekerja secara halus, tetapi efektif.
Namun di sisi lain, industri hiburan di Tiongkok juga berada dalam kerangka regulasi politik yang kuat. Negara memiliki peran besar dalam menentukan tema dan narasi yang boleh ditampilkan dalam produksi media. Konten yang dianggap sensitif secara politik biasanya dibatasi, sementara cerita yang menampilkan citra positif negara lebih mudah diproduksi dan dipromosikan.
Situasi ini membuat batas antara soft power dan propaganda menjadi semakin kabur. Ketika negara memiliki pengaruh besar terhadap industri hiburan, pesan budaya yang disebarkan tidak sepenuhnya netral.
Meski demikian, daya tarik drama China tetap sulit diabaikan. Cerita yang emosional, visual yang menarik, serta kualitas produksi yang terus meningkat membuat drama China mampu bersaing di pasar global dan mendapatkan tempat di hati penonton internasional, termasuk di Indonesia.
Fenomena ini menunjukkan bahwa hiburan tidak lagi sepenuhnya terpisah dari politik global. Di era digital, film dan drama televisi dapat menjadi sarana bagi negara untuk membangun citra, memengaruhi persepsi, dan memperluas pengaruhnya tanpa harus menggunakan kekuatan keras.
Ketika jutaan penonton di berbagai negara mengenal Tiongkok melalui drama yang mereka tonton, hiburan bukan lagi sekadar hiburan. Ia juga menjadi bagian dari persaingan narasi dalam politik internasional.
Bagi penonton, drama China mungkin hanya kisah cinta atau fantasi sejarah yang menghibur. Namun bagi negara, budaya populer dapat menjadi instrumen penting untuk membentuk bagaimana dunia melihat identitas, nilai, dan kekuatannya.
Di titik inilah pertanyaannya menjadi semakin relevan: Ketika hiburan mampu membentuk cara kita memandang suatu negara, apakah drama China hanya sekadar tontonan global, atau sebenarnya bagian dari strategi pengaruh politik yang lebih luas?


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5525890/original/060663300_1773076996-415A7171.JPG.jpeg)

