Lebaran sebentar lagi, tiket perjalanan sudah dipesan atau kendaraan mulai diperiksa, hingga barang bawaan perlahan disiapkan untuk pulang ke kampung halaman. Tetapi, yang paling penting, jangan lupa mempersiapkan badan untuk melakukan perjalanan jauh ke kampung halaman.
Perjalanan panjang menuju rumah yang memakan waktu berjam-jam bisa memicu berbagai keluhan kesehatan. Perjalanan mudik sering kali membuat tubuh harus bertahan dalam posisi duduk statis. Kondisi ini dapat memicu berbagai keluhan kesehatan, mulai dari pegal di punggung dan leher, nyeri sendi, hingga kelelahan yang berlebihan.
Melihat fenomena tersebut, dokter spesialis ortopedi dan traumatologi dari Rumah Sakit Siloam Mampang, Isa An Nagib, mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mempersiapkan kendaraan dan logistik perjalanan. Kondisi tubuh juga perlu dipersiapkan agar tetap bugar selama Ramadhan dan saat mudik.
”Keluhan yang paling sering muncul dalam perjalanan mudik, apalagi jalur darat dan laut yang panjang, adalah masalah-masalah di sendi karena kita duduk di satu posisi yang lama. Jadi, ini perlu diperhatikan agar jangan sampai di kampung kampung kita malah tidak happy,” kata Isa di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Isa mengungkapkan, duduk statis selama satu jam saja sudah mengakibatkan sendi kaku, biasanya terasa nyeri pada lutut dan punggung. Risiko ini akan semakin terasa seiring bertambahnya usia. Di usia muda, pembentukan tulang masih lebih dominan, tetapi setelah usia 30 tahun, ”pembongkaran” tulang mulai lebih banyak terjadi.
Ketika otot bekerja terus-menerus, akan terjadi penumpukan asam laktat yang membuat otot terasa nyeri.
Karena itu, masyarakat yang akan mudik disarankan untuk mulai berolahraga untuk ”memanaskan” badan dan persendian sebelum menempuh perjalanan jauh. Olahraga ringan, seperti berjalan kaki di sekitar rumah, sangat dianjurkan.
Saat perjalanan mudik, lakukanlah peregangan secara berkala. Jika memungkinkan, berhenti sejenak di tempat istirahat setiap lebih kurang satu jam perjalanan untuk bergerak. Aktivitas sederhana, seperti berjalan ke kamar kecil atau turun dari mobil lalu berdiri, dapat membantu melancarkan peredaran darah dan mengurangi tekanan pada tulang belakang.
”Sering kali kita duduk agak membungkuk sambil main ponsel. Posisi ini bisa memberi tekanan pada tulang belakang dan membuat otot cepat tegang,” ucap Isa.
Terlebih, lanjut Isa, jika ada lansia dalam perjalanan mudik itu. Istirahat harus lebih sering agar tulang mereka yang sudah rapuh bisa lebih banyak diregangkan. Tidak boleh mengejar target waktu untuk sampai ke tujuan.
”Apalagi lansia, pastinya mereka sudah dengan masalah tulang, minimal grade 2 sudah ada pasti, bahkan mungkin grade 3 atau grade 4. Jadi, kita yang muda harus bijak,” tuturnya.
Dokter ortopedi lainnya, I Made Yudi Mahardika, mengingatkan bahwa gerakan tubuh tetap perlu dilakukan secara wajar dan tidak berlebihan. Kebiasaan memutar atau membunyikan sendi secara berulang tidak dianjurkan karena dapat merusak bantalan sendi dalam jangka panjang. Cara sederhana untuk meredakan pegal selama perjalanan adalah dengan pijatan ringan pada otot yang terasa tegang.
”Ketika otot bekerja terus-menerus, akan terjadi penumpukan asam laktat yang membuat otot terasa nyeri. Pijatan ringan bisa membantu meredakannya,” ujar Yudi.
Selain masalah otot dan sendi, kondisi tubuh selama perjalanan juga sangat dipengaruhi oleh asupan nutrisi dan cairan. Apalagi jika perjalanan mudik dilakukan saat menjalani puasa Ramadhan.
Dokter spesialis penyakit dalam Yosua Marulitua Manullang menambahkan, tubuh tetap membutuhkan energi dan cairan yang cukup untuk menjaga stamina selama perjalanan. Kekurangan cairan atau gula darah yang terlalu rendah dapat menimbulkan gejala seperti pusing, lemas, hingga sulit berkonsentrasi yang berbahaya terutama bagi pengemudi.
”Walaupun sedang puasa, pemudik tidak boleh melewatkan sahur. Tubuh tetap membutuhkan energi dan cairan agar tidak cepat lemas saat perjalanan panjang,” kata Yosua.
Dokter spesialis gizi klinik Firisha Virgidewi Witjaksono mengingatkan masyarakat agar tidak berlebihan saat berbuka puasa. Makanan tinggi lemak, seperti santan atau gorengan, yang identik dengan hidangan Lebaran ternyata menyimpan bahaya kesehatan di balik kelezatannya.
Ia menyarankan agar sahur dan berbuka tetap memperhatikan keseimbangan gizi dengan mengonsumsi protein, sayur, serta cukup cairan. ”Banyak orang berbuka dengan makanan tinggi gula atau lemak. Padahal, tubuh membutuhkan nutrisi seimbang agar tetap bertenaga selama puasa dan perjalanan,” kata Firisha.
Presiden Direktur PT Siloam International Hospitals David Utama menegaskan, mudik bukan sekadar perjalanan pulang. Mudik menjadi momen kebersamaan yang dinanti sepanjang tahun. Karena itu, mempersiapkan tubuh sama pentingnya dengan mempersiapkan kendaraan atau barang bawaan.
Dengan peregangan rutin, asupan gizi seimbang, serta istirahat yang cukup selama perjalanan, mudik bisa dijalani dengan lebih nyaman. Ketika tiba di kampung halaman, kebersamaan dengan keluarga pun dapat dinikmati sepenuhnya tanpa keluhan kesehatan yang mengganggu.
David menjelaskan, sebagai pusat unggulan ortopedi, Rumah Sakit Siloam Mampang berfokus pada perawatan cedera tulang, sendi, dan cedera olahraga dengan teknologi modern. Rumah sakit ini dilengkapi dengan sistem robotik VELYS Robotic-Assisted Solution untuk operasi penggantian lutut (knee replacement).





