Anak-anak berlarian melewati gang sempit di kawasan padat penduduk di Pekojan, Tambora, Jakarta Barat, Selasa (10/3/2026). Sebuah plang papan kayu putih yang menjorok ke dalam gang memuat informasi mengenai Masjid Al-Anshor yang menjadi bangunan cagar budaya. Masjid tertua di Jakarta tersebut didirikan pada tahun 1648 oleh warga asal Malabar, wilayah pantai timur India.
Masjid yang bangunan aslinya berukuran 10 meter x 10 meter ini berdiri di tengah pusaran sejarah perkembangan Islam di Batavia (Batavia 1740: Menyisir jejak Betawi, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2010).
Kini, masjid yang didirikan orang Moor (kaum Muslim dari Gujarat, Hejaz, dan Bengali, India) tahun 1648 ini menjadi masjid tertua yang masih berdiri di Jakarta setelah Masjid Jayakarta dan Kota Jayakarta dibumihanguskan pasukan Gubernur Jenderal VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) Jan Pieterszoon Coen, 28-30 Maret 1619.
Sejarawan Adolf Heuken dalam buku Historical Sites of Jakarta menyebutkan, kawasan Pekojan merupakan pusat komunitas kaum Koja dari India pada abad ke-17 hingga ke-18 Masehi. Setelah Jayakarta berganti nama menjadi Batavia pada 12 Mei 1619, orang Moor di Banten pindah dan bermukim sebagai pedagang di Pekojan.
VOC menetapkan Pekojan sebagai kampung Arab atau lebih tepatnya kampung kaum Hadramis (orang-orang yang berasal dari Hadramaut, Yaman selatan), pada abad ke-18. Kala itu, Hadramis wajib tinggal di Pekojan sebelum pindah ke tempat lain. Tak heran apabila Pekojan menjadi kampung Arab tertua di Jakarta.
Masjid ini mengusung konsep arsitektur perpaduan India, China, dan Nusantara. Unsur Nusantara yang masih kentara terlihat dari kayu jati di pintu masuk dan mimbar. Sementara tiang-tiang penyangga masjid yang semula dibuat dari kayu jati kini sudah berganti menjadi marmer.
Jelang tengah hari, warga sekitar dan pekerja kantoran mulai berdatangan ke Masjid Al-Anshor untuk melaksanakan shalat Dzuhur. Masjid Al-Anshor tidak bisa dilepaskan dari sejarah bermukimnya para pendatang, yakni orang-orang Moor di Batavia. Hingga kini, kebiasaan pendatang masih terasa di sekitar masjid ini.
KOMPAS/AGUS SUSANTO
”Ceritanya, engkong, buyut, itu pada ngomong orang-orang dulu pernah mengungsi di sini waktu ada huru-hara zaman Belanda, orang-orang China juga termasuk. Alhamdulillah pada selamat waktu itu. Pandangan pasukan Belanda seakan kabur melihat tempat ini. Bersejarah juga ini masjid karena bisa menyelamatkan banyak nyawa,” kata Iskandar, pengurus Masjid Al-Anshor.
Tak jauh dari Masjid Al-Anshor, berjarak 700 meter, berdiri Masjid Azzawiyah yang juga berdekatan dengan Masjid An-Nawier. Masjid Azzawiyah dibangun tahun 1812 oleh Habib Ahmad bin Hamzah Alatas, seorang ulama yang berasal dari Tarim, Hadramaut, Yaman.
Masjid ini awalnya hanya berupa mushala kecil. Masjid ini juga digunakan sehari-hari untuk beribadah, namun tidak untuk shalat Jumat. Pelaksanaan shalat Jumat dijadikan satu di Masjid Jami’ An-Nawier yang hanya berjarak 50 meter.
Masjid Jami’ An-Nawier terletak di Jalan Pekojan Raya 71, Jakarta Barat. Masjid yang dibangun pada tahun 1760-1780 oleh Sayid Abdullah bin Hussein Al-Aydrus ini merupakan salah satu satu masjid tua di Jakarta.
Masjid ini mengusung arsitektur bangunan gaya Arab dan neoklasik. Atap mihrab berbentuk kubah dan mimbarnya berbahan kayu berwarna coklat tua. Sementara itu, plafon masjid masih berupa kayu seperti aslinya. Plafon ini disangga oleh pilar yang berjumlah 33 buah, sesuai dengan jumlah bacaan zikir setelah shalat fardu. Pintu masjid dibuat lima buah yang menyimbolkan rukun Islam.
Jelang sore, langit yang cerah berubah dengan cepat menjadi gelap. Hujan deras tiba-tiba mengguyur. Masih ada satu masjid yang harus dikunjungi, yakni Langgar Tinggi. Langgar Tinggi hanya berjarak 160 meter dari Masjid An-Nawier. Bangunan dua lantai yang berada di tepian Kali Angke itu dibangun sekitar awal abad ke-19 atau tepatnya tahun 1829.
KOMPAS/AGUS SUSANTO
KOMPAS/AGUS SUSANTO
Aam (62) tengah menyapu lantai pijakan tangga sembari tangannya meraba-raba besi pegangan tangga. ”Saya dari kecil tinggal di sini (lantai satu Langgar Tinggi), mata saya katarak, dua-duanya tidak bisa melihat, kabur. Pernah dioperasi, tapi kembali katarak lagi, hanya kenal suara saja. Silakan naik kalau mau melihat-lihat,” katanya.
Bangunan ini dulu merupakan tempat tinggal pedagang Yaman sekaligus tempat shalat, mengaji, dan menyiarkan ajaran Islam. Bangunan di lantai dua dijadikan langgar. Sementara lantai satu yang semula dijadikan penginapan kini difungsikan pengurus langgar sebagai toko untuk menjual wewangian. Arsitektur langgar ini merupakan perpaduan gaya arsitektural Eropa, Tionghoa, dan Jawa.
Kampung Arab Pekojan menjadi saksi sejarah perkembangan Islam di Jakarta. Dengan bangunan-bangunan cagar budaya bernuansa Islam yang masih terjaga, kawasan ini bisa menjadi alternatif mengisi waktu luang selama bulan Ramadhan.





