Sejak pecahnya perang Iran menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap berbagai target di Iran pada 28 Februari, banyak kontak di dalam negeri tidak lagi dapat dihubungi—baik melalui telepon maupun internet.
Statistik dari organisasi pemantau internet NetBlocks menunjukkan bahwa konektivitas internet sejak akhir bulan lalu hanya tersisa sekitar satu persen dari tingkat normal.
Hanya segelintir kontak yang masih dapat dihubungi melalui aplikasi komunikasi seperti Imo, Telegram, atau WhatsApp, dan lebih jarang lagi melalui Instagram.
"Saya meninggalkan kota setelah sebuah bangunan di jalan kami dibom," tutur seorang ibu tunggal yang memilih tetap anonim. Ia mengatakan tidak mengetahui siapa saja yang tinggal di gedung apartemen di lingkungannya di kota megapolitan Teheran tersebut.
Saat perang pecah, fotografer berusia 42 tahun itu awalnya yakin akan tetap tinggal di rumah hingga serangan yang menargetkan pejabat Iran dapat membebaskan rakyat. Namun pada malam hari ketiga perang, ia terpaksa meninggalkan kota bersama anaknya dan pergi ke rumah kerabat di pinggiran kota.
"Kami melihat beberapa roket jatuh," katanya. Ia mengaku lega karena kini tidak lagi berada di Teheran.
Ketakutan akan "hujan beracun"Di kota itu kini muncul kekhawatiran akan hujan asam. Setelah serangan Israel terhadap sejumlah depot minyak di sekitar ibu kota, asap hitam pekat dan beracun menyelimuti metropolis tersebut. Otoritas lingkungan Iran meminta warga tetap berada di dalam rumah.
Organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent Society memperingatkan bahwa bahan kimia yang terkandung dalam gerimis dapat membahayakan kulit dan paru-paru.
Tidak hanya depot minyak, banyak target serangan lainnya juga berada di kawasan padat penduduk di Teheran. Setiap kali serangan terjadi, warga sipil turut menjadi korban karena mereka tidak tahu bagaimana melindungi diri. Di kota itu tidak ada sirene peringatan maupun bunker perlindungan.
Menurut organisasi hak asasi manusia Human Rights Activists in Iran (HRANA) yang berbasis di Amerika Serikat, sejak awal perang hingga 8 Maret sebanyak 1.205 warga sipil di Iran telah tewas, termasuk sedikitnya 194 anak-anak. Jumlah korban dari kalangan militer tercatat 187 orang, sementara 316 korban lainnya belum dapat dipastikan apakah warga sipil atau militer.
Di antara korban sipil terdapat sedikitnya 110 siswi sekolah berusia antara tujuh hingga dua belas tahun yang tewas pada hari pertama perang dalam serangan terhadap sebuah sekolah perempuan di kota Minab di selatan negara itu. Investigasi tim dari The New York Times dan platform investigasi Bellingcat secara terpisah menyimpulkan bahwa sekolah tersebut kemungkinan besar diserang oleh militer Amerika Serikat—yang jika benar terjadi dapat dikategorikan sebagai kejahatan perang.
Seruan kepada organisasi internasional"Tidak satu pun pihak yang berperang mematuhi aturan," kata Moin Khazaeli, seorang peneliti hak asasi manusia asal Iran yang sejak 2009 tinggal di Swedia.
Ia menambahkan bahwa infrastruktur seperti fasilitas minyak di Iran tidak secara otomatis merupakan target militer—sama halnya dengan infrastruktur sipil dan kawasan permukiman yang diserang oleh Republik Islam di negara-negara tetangga. Menurutnya, pemerintah Iran juga tidak melindungi warganya sendiri.
"Tidak ada bunker perlindungan atau sistem alarm, dan hampir tidak ada informasi mengenai bagaimana masyarakat harus bersikap—terlebih karena internet juga dimatikan," ujarnya.
Ia menilai organisasi internasional harus memastikan Iran membuka akses bantuan kemanusiaan bagi penduduknya. "Yang lebih penting lagi, Republik Islam Iran bertanggung jawab atas apa yang sedang terjadi. Organisasi internasional harus mendorong agar terjadi transisi kekuasaan secara damai sehingga masyarakat dapat menentukan sendiri bagaimana mereka ingin hidup."
Sebelum perang pecah, hampir setiap percakapan dengan warga Iran—yang mengalami penindasan brutal terhadap demonstrasi nasional pada Januari—dipenuhi satu harapan: Perubahan rezim melalui penyingkiran tokoh-tokoh utama Republik Islam Iran. Namun dengan berlalunya hari demi hari dalam perang ini, harapan akan perubahan rezim yang cepat semakin memudar.
Banyak orang masih tetap berada di Teheran karena mereka harus bekerja dan mencari nafkah. Banyak pula yang khawatir situasi akan semakin memburuk setelah penunjukan pemimpin baru Iran, Mostafa Chamenei.
Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Jerman
Diadaptasi oleh Ayu Purwaningsih
Editor: Yuniman Farid
width="1" height="1" />
Saksikan Live DetikPagi:
(ita/ita)





