KETUA Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, Sultan Baktiar Najamudin, menyatakan dukungan penuh terhadap langkah diplomasi Presiden Prabowo Subianto dalam menyikapi eskalasi ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat (AS)-Israel dan Republik Islam Iran.
Sultan menilai pilihan untuk tetap netral merupakan manifestasi nyata dari prinsip politik luar negeri Indonesia yang bebas dan aktif.
Sultan menegaskan bahwa sikap netralitas tersebut adalah wujud kedaulatan diplomasi bangsa.
Baca juga : Dino Patti Djalal Nilai Wacana Mediasi Prabowo di Konflik Iran-AS-Israel tak Realistis
Menurutnya, kepemimpinan nasional telah mengambil langkah yang tepat dalam menjaga marwah Indonesia di panggung internasional.
"Sikap netral terhadap para pihak yang berkonflik adalah wujud politik bebas aktif diplomasi bangsa Indonesia. Sebagai bangsa, kita harus menghormati pandangan, sikap, dan keputusan pemimpin nasional kita tersebut," ujar Sultan dalam keterangan tertulis, Rabu (11/3).
Menjaga Keseimbangan GlobalLebih lanjut, Sultan mengingatkan kembali peran historis Indonesia sebagai negara penggagas Gerakan Non-Blok. Ia memandang langkah Presiden Prabowo yang berupaya menjaga hubungan baik dengan semua kekuatan global sebagai kebijakan yang sangat bijaksana dan strategis bagi kepentingan nasional.
Baca juga : Anak SD Gantung Diri, Sultan: Tumbuh Kembang Anak Indonesia Tanggung Jawab Kolektif
"Kami sangat memahami dan sepenuhnya mendukung sikap diplomatik Presiden Prabowo. Presiden berupaya menjaga keseimbangan hubungan dengan semua negara sahabat," kata mantan Wakil Gubernur Bengkulu tersebut.
Selain mendukung posisi netralitas, Sultan juga mengapresiasi dimensi kemanusiaan dalam diplomasi Presiden.
Hal ini merujuk pada ucapan belasungkawa yang disampaikan Presiden atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei. Sultan menyebut tindakan tersebut mencerminkan empati mendalam rakyat Indonesia.
"Sebagai negara mayoritas Muslim, tentu kita sangat berempati dengan saudara-saudara kita yang menjadi korban perang di Iran. Namun, di saat yang sama, kita tetap menghormati kepentingan dan kebijakan luar negeri dari negara-negara sahabat lainnya," imbuh Sultan.
Prinsip Non-Blok yang TeguhKonsistensi sikap ini sebelumnya telah ditegaskan oleh Presiden Prabowo saat meresmikan 218 jembatan di Hambalang, Bogor, Senin (9/3).
Dalam acara tersebut, Presiden menekankan bahwa Indonesia akan tetap memegang teguh prinsip non-blok di tengah dinamika konflik global yang semakin kompleks.
Sultan menyimpulkan bahwa landasan utama kebijakan ini adalah persahabatan universal. Indonesia tidak ingin terjebak dalam polarisasi karena memandang semua pihak yang bertikai sebagai mitra strategis.
"Prinsipnya, Presiden ingin mengedepankan politik luar negeri yang independen karena semua pihak yang bertikai adalah sahabat baik Indonesia," pungkasnya. (Z-1)





