Berterima Kasih kepada Dua Pohon

erabaru.net
7 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Seorang pemuda sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas dan disukai semua orang. Di sekolah ia selalu menjadi siswa teladan dan pengurus kelas. Saat kelas dua SMP, ia mengikuti Olimpiade Matematika tingkat nasional dan meraih juara pertama.

Belum genap 17 tahun, ia sudah diterima tanpa tes di sebuah universitas ternama.

Namun pada musim panas sebelum kuliah dimulai, takdir memberinya pukulan yang nyaris tak tertahankan. Saat menyeberang jalan, sebuah mobil melaju kencang dan menabraknya. Ia kehilangan kedua kakinya dan tangan kirinya.

Bagi seorang remaja yang selalu berprestasi dan memiliki harga diri tinggi, peristiwa itu seperti kiamat. Ia merasa hidupnya hancur. Ia tak lagi melihat tujuan ataupun makna hidup. Bahkan sempat terlintas keinginan untuk mengakhiri hidupnya.

Suara klakson mobil yang terdengar dari kejauhan saja sudah cukup membuatnya gelisah dan marah. Emosinya tak stabil.

Setelah keluar dari rumah sakit, keluarganya mengirimnya ke desa tempat bibinya tinggal, agar ia bisa beristirahat dan menenangkan diri.

Di sanalah ia bertemu dua pohon yang mengubah hidupnya.

Dua Pohon yang Aneh

Desa itu tenang, jauh dari hiruk-pikuk kota. Hari-harinya berlalu tanpa semangat. Ia hanya makan dan tidur, tidur dan makan. Setengah tahun berlalu dalam keputusasaan.

Suatu sore, saat semua orang pergi ke ladang dan sekolah, ia sendirian di rumah. Karena bosan, ia mendorong kursi rodanya keluar halaman kecil itu.

Sekitar lima puluh meter dari rumah bibinya, ia melihat dua pohon elm yang tampak aneh. Batangnya terpelintir seperti tali, namun tetap berdiri tegak ke atas.

Di antara kedua pohon itu terbentang kawat besi sepanjang tujuh atau delapan meter. Ujung-ujung kawat itu tertanam dalam batang pohon—seolah-olah kawat itu tumbuh menyatu dengan pohon.

Tetangga yang melihatnya penasaran lalu menjelaskan:

Beberapa tahun lalu, seseorang memasang kawat itu untuk menjemur pakaian ketika kedua pohon masih kecil. Seiring waktu, batang pohon tumbuh membesar. Bagian yang terikat kawat tidak bisa berkembang bebas dan terluka dalam. Orang-orang mengira kedua pohon itu akan mati.

Namun setelah satu musim dingin yang basah, pohon-pohon itu justru menumbuhkan tunas baru. Tahun demi tahun, batangnya makin membesar hingga akhirnya “menelan” kawat besi itu ke dalam tubuhnya.

Kawat yang dulu melukai, kini menjadi bagian dari batangnya.

Titik Balik

Hatinya terguncang.

Pohon kecil saja tahu melawan tekanan dan bertahan hidup. Lalu mengapa ia, seorang manusia, menyerah begitu saja pada nasib?

Ia merasa malu.

Dengan satu-satunya tangan yang tersisa, ia berusaha berdiri dari kursi roda. Dengan susah payah, ia membungkuk hormat kepada dua pohon yang sederhana namun luar biasa itu.

Tak lama kemudian, ia meminta untuk kembali ke kota. Ia membuka kembali buku-bukunya, melanjutkan kuliah secara otodidak, dan membangun hidupnya dari nol.

Bertahun-tahun kemudian, ia mendirikan perusahaan sendiri, memiliki aset bernilai jutaan, dan terpilih sebagai salah satu “Sepuluh Pemuda Berprestasi” di kotanya.

Saat ditanya siapa yang paling ingin ia ucapkan terima kasih, ia menjawab tanpa ragu:

“Saya ingin berterima kasih kepada dua pohon.”

Renungan

Hidup penuh kejutan. Kadang kita dijatuhkan begitu dalam tanpa peringatan. Namun kebangkitan tidak selalu datang dari nasihat panjang atau teori besar. Terkadang ia lahir dari hal sederhana—sebuah peristiwa kecil, sepotong kalimat, atau dua pohon di tepi jalan.

Kisah ini mengingatkan kita:

Manusia sering menyebut dirinya makhluk paling mulia. Namun saat menghadapi kesulitan, kita kadang kalah tangguh dibanding makhluk lain.

Dua pohon itu tidak bisa memilih takdirnya. Mereka hanya memilih untuk terus tumbuh.

Begitu pula kita. Kita mungkin tidak bisa memilih semua yang terjadi dalam hidup. Tetapi kita selalu bisa memilih sikap kita terhadapnya.

Dan satu lagi pelajaran penting:

Jangan pernah merasa diri terlalu kecil untuk memberi dampak.
Mungkin satu kata yang Anda ucapkan, satu tindakan sederhana yang Anda lakukan, bisa menjadi “dua pohon” bagi seseorang yang hampir menyerah pada hidupnya. (jhon)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Miliano Jonathans Cedera ACL, John Herdman Belum Memutuskan Akan Memanggil Pemain Baru atau Tidak
• 9 jam lalubola.com
thumb
Persija Sumbang 17 Pemain ke Timnas Indonesia, Ungguli Persib! Herdman Punya Banyak Amunisi dari Macan Kemayoran
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Bisa Diproses Hukum, Polri: Warga yang Dipalak THR Laporkan ke Hotline 110
• 9 jam lalusuara.com
thumb
Sule Minta Maaf usai Dihujat Gara-gara Ngonten di Rumah Duka Vidi Aldiano
• 1 jam lalumediaindonesia.com
thumb
DPR RI Tegaskan Pasal 304 KUHD Tetap Konstitusional dalam Sidang Uji Materi di Mahkamah Konstitusi
• 15 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.