International Women’s Day 2026 Soroti Pentingnya Ruang Aman bagi Perempuan

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

International Women’s Day (IWD) 2026 kembali menjadi pengingat bahwa perjuangan menuju kesetaraan gender belum selesai. Di banyak tempat, perempuan telah menunjukkan kemajuan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, diplomasi, sains, hingga industri kreatif. Namun di saat yang sama, masih banyak hambatan yang membuat perempuan tidak bisa berkembang secara optimal.

Dua hal yang sering menjadi fondasi penting bagi kemajuan perempuan adalah rasa aman dan akses terhadap kesempatan yang setara. Tanpa keduanya, potensi yang dimiliki perempuan kerap terhambat bahkan sebelum benar-benar berkembang.

Realita ini terlihat jelas dalam berbagai data kekerasan berbasis gender. Catatan Tahunan (CATAHU) Komnas Perempuan 2024 menunjukkan bahwa terdapat 445.502 kasus Kekerasan Berbasis Gender terhadap Perempuan (KBGtP) yang dilaporkan sepanjang 2024. Angka tersebut meningkat lebih dari 43 ribu kasus dibandingkan tahun sebelumnya.

Mayoritas kekerasan terjadi di ranah personal, seperti dalam hubungan atau keluarga, dengan 309.516 kasus. Sementara itu, 12.004 kasus terjadi di ranah publik atau komunitas. Seiring berkembangnya ruang digital, kekerasan berbasis gender juga semakin sering terjadi secara online, memperluas bentuk ancaman yang dihadapi perempuan.

Angka tersebut menunjukkan bahwa isu keamanan bagi perempuan bukan sekadar persoalan individu, melainkan persoalan sosial yang membutuhkan perhatian bersama.

Kekerasan pada Perempuan yang Tidak Selalu Terlihat

Ketika membicarakan kekerasan, banyak orang masih membayangkan luka fisik. Padahal, bentuk kekerasan yang paling sering terjadi justru kerap tidak terlihat.

Data CATAHU menunjukkan, kekerasan seksual menjadi yang paling banyak dilaporkan, yakni 36,43 persen. Setelah itu disusul kekerasan psikis sebesar 26,94 persen, kekerasan fisik 26,78 persen, serta kekerasan ekonomi 9,84 persen.

Kekerasan psikis sering kali lebih sulit dikenali karena tidak meninggalkan bekas yang tampak. Padahal dampaknya bisa berlangsung lama dan memengaruhi kondisi mental korban.

Psikolog Agata Paskarista, M.Psi., Psikolog, menjelaskan, bentuk kekerasan seperti ini sering kali tersamarkan dalam perilaku yang tampak biasa.

“Kekerasan psikis sering luput disadari karena tidak meninggalkan luka fisik. Ia bisa dibungkus sebagai perhatian, kontrol, atau candaan, padahal dampaknya sangat serius, kasus child grooming dan juga manipulasi menunjukkan bagaimana kekerasan psikis berdampak jangka panjang bagi kehidupan korban. Edukasi tentang tanda kekerasan menjadi kunci agar kekerasan dapat dikenali lebih dini,” ujarnya dalam acara L’Oréal Indonesia Media Gathering di Kuningan, Jakarta Selatan pada Kamis (5/3).

Menurut Agata, pemahaman masyarakat tentang berbagai bentuk kekerasan masih menjadi tantangan besar. Banyak korban tidak menyadari bahwa apa yang mereka alami merupakan bentuk kekerasan, terutama ketika perilaku tersebut muncul dalam hubungan personal.

Karena itu, edukasi menjadi langkah penting agar masyarakat dapat mengenali tanda-tanda kekerasan lebih awal dan mengetahui cara meresponsnya dengan tepat.

Ia juga menekankan bahwa membantu korban tidak selalu berarti menghadapi pelaku secara langsung.

“Intervensi tidak selalu berarti konfrontasi. Bisa dimulai dari langkah sederhana, memastikan korban merasa aman, mengalihkan situasi, atau mencari bantuan. Yang terpenting, jangan menyalahkan korban. Kekerasan bukan kesalahan korban, dan victim-blaming hanya memperparah trauma serta membuat korban semakin enggan melapor,” tegasnya.

Setelah Rasa Aman, Perempuan Membutuhkan Akses

Rasa aman merupakan langkah awal yang penting. Namun agar perempuan benar-benar bisa berkembang, mereka juga membutuhkan akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan peluang ekonomi.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2025 menunjukkan, perempuan di Indonesia masih mewakili 36,66 persen pekerja formal. Artinya, partisipasi perempuan dalam sektor pekerjaan formal masih lebih rendah dibandingkan laki-laki.

Selain itu, sekitar 40 persen perempuan pernah mengambil jeda karier karena tanggung jawab pengasuhan atau peran domestik di keluarga. Ketika perempuan keluar dari dunia kerja dalam waktu lama, banyak dari mereka menghadapi kesulitan untuk kembali.

Kondisi ini menunjukkan, kesenjangan kesempatan masih terjadi. Tanpa akses yang memadai, banyak perempuan tidak dapat mengembangkan potensi mereka secara maksimal, meskipun memiliki kemampuan yang sama.

Berbagai inisiatif pemberdayaan pun mulai bermunculan untuk menjawab tantangan tersebut, mulai dari pelatihan keterampilan hingga program yang membantu perempuan kembali ke dunia kerja setelah jeda karier.

Program pelatihan keterampilan, misalnya di bidang tata rias dan tata rambut, menjadi salah satu jalur yang membuka peluang ekonomi baru bagi perempuan dengan keterbatasan akses pendidikan atau pekerjaan. Di sisi lain, program returnship juga mulai diperkenalkan untuk membantu perempuan yang ingin kembali berkarier setelah mengambil jeda.

Langkah-langkah ini menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak hanya soal membuka pintu kesempatan, tetapi juga memastikan mereka memiliki dukungan dan bekal yang cukup untuk melangkah.

Ketika Perempuan Berkembang, Dampaknya Lebih Luas

Perjuangan menuju kesetaraan gender memang tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan dukungan dari berbagai sektor, mulai dari individu, komunitas, hingga institusi.

International Women’s Day setiap tahunnya menjadi momentum untuk kembali mengingatkan bahwa kesetaraan gender bukan hanya isu perempuan, melainkan isu bersama. Ketika perempuan memiliki rasa aman dan akses yang setara untuk berkembang, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga keluarga, komunitas, dan masyarakat secara luas.

Karena itu, membangun lingkungan yang aman dan suportif bagi perempuan bukan sekadar upaya melindungi, tetapi juga investasi bagi masa depan yang lebih setara.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Militer AS Ungkap Jumlah Korban dalam Perang dengan Iran, Angkanya Mencapai Ratusan
• 12 jam laluokezone.com
thumb
Terima Setoran Bandar Narkoba, Dua Polisi Polres Toraja Utara Dipecat
• 8 jam lalusuara.com
thumb
Pembunuhan di Bantul, Pelaku Ikut Melayat Seusai Membacok Korban
• 4 jam lalukompas.id
thumb
Megawati Kirim Ucapan Selamat kepada Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei
• 22 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kim Jong-Un Dukung Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
• 4 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.