Punya Lahan atau Rumah Kosong? Ini Peluang Cuan Bangun Kosan Co-Living

bisnis.com
3 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Permintaan hunian komunal alias co-living di Tanah Air semakin menjanjikan, membuka peluang tersendiri bagi para pemilik properti yang berminat mengejar pendapatan pasif lewat aset indekos elite.

Cove Indonesia sebagai salah satu manajemen properti co-living ternama, mengungkap minat konsumen itu membuatnya bisa mengoperasikan sekitar 200 properti dengan kisaran 6.000 kamar di Jabodetabek, Bandung, Surabaya, dan Bali.

Country Director of Investment Cove, Rizky Kusumo menambahkan tahun ini pihaknya pun terus berekspansi dan melakukan upgrade beberapa aset dalam portofolio, hingga targetnya mencapai 8.000 kamar pada akhir 2026. 

"Tren ini juga alasan kami berani berekspansi ke wilayah potensial di Malang, Yogyakarta, Semarang, dan beberapa daerah di Pulau Lombok," ungkap Rizky dalam diskusi bersama media, Senin (9/3/2026).

Rizky mengungkap tren co-living turut membuka mata para pemilik tanah di kota besar Indonesia untuk coba bekerja sama dengan Cove untuk membangun dari nol.

Sekadar info, Cove sebelumnya lebih banyak melakukan renovasi aset indekos atau apartemen yang sudah jadi, atau melakukan konversi dari aset properti non-hospitality.

Baca Juga

  • KONSEP HUNIAN : Co Living Masih Sekadar Gimmick
  • GAYA HIDUP : Eco Living Mulai Ngetren, Tapi Butuh Edukasi
  • SouthCity Tawarkan Hunian Co Living Rp300 Juta-an

"Tren partner yang kerja sama dari aset berupa tanah kosong dari nol mulai marak, bahkan mayoritas membanding-bandingkan dengan membuka lapangan padel. Saat ini kami sudah ada dua contoh yang dibangun dari awal, yakni di Cipete dan Cikini," jelasnya. 

Lantas, bagaimana peluang cuan membangun hunian dengan konsep co-living ke depan?

Rizky mengungkap bahwa konsep indekos komunal semakin diminati pelajar, pekerja baru, maupun profesional muda di Indonesia. Porsinya sekitar 80% bekerja, sisanya mahasiswa. 

Demi mendapatkan keutamaan konsep co-living, mereka biasanya tipe konsumen yang mengincar adanya privasi dan kenyamanan, namun tetap memiliki ruang publik dan tempat bersosialisasi yang elegan.

Sebagai info, konsep co-living cenderung mengutamakan hunian dengan perabotan lengkap, WiFi, layanan pembersihan, dan fasilitas bersama seperti dapur, ruang tamu, dan coworking space dalam satu atap.

"Pada prime area, biasanya punya jabatan asisten manajer ke atas, mengincar hunian dengan sewa sekitar Rp4 juta. Tak jarang juga statusnya pasutri. Tapi kalau daerah mahasiswa, biasanya tipe sewa yang Rp2 juta. Mayoritas lebih suka bayar bulanan yang lebih fleksibel," ujarnya.

Menjadi partner Cove, berpeluang merasakan tren tingkat okupansi terkini rata-rata 85%, efisiensi biaya 87% ketimbang membangun sendiri, rasio benefit-cost 15%, dan harga nilai properti tembus 12% di atas harga pasar.

Oleh karena itu, Rizky melihat bahwa membangun co-living secara jangka panjang cenderung lebih menjanjikan ketimbang bisnis fasilitas olahraga, sebab merupakan kebutuhan primer dan tak bergantung dengan tren sesaat.

Bagi para pemilik properti yang berminat menjadi calon partner, Rizky menekankan jangan ragu untuk berdiskusi dengan Cove, sebab pihaknya telah memiliki tim analisis, pengembangan, bahkan desain. 

"Terpenting kenalan dulu, mengobrol, kemudian kami akan lihat apakah lokasinya cocok untuk co-living. Setelah itu asesmen, bisa dibikin berapa lantai, berapa kamar, dan lain sebagainya," tutupnya.

Senior Marketing Manager Cove, Chitra Rufina Praditha menambahkan ada tren konsumen cenderung ingin hunian fleksibel yang dekat dengan akses transportasi umum. 

Oleh karena itu, partner Cove begitu terdiversifikasi, mulai dari perorangan yang punya aset di dekat stasiun, sampai korporasi besar sekaliber Taspen properti, Lippo Karawaci, hingga KAI. 

"Ada tren pemilik aset rumah di dekat MRT atau LRT ingin bekerja sama dengan Cove buat mendapat passive income demi persiapan pensiun," ungkapnya.

Chitra menjelaskan ada dua pilihan yang bisa diambil calon partner, yaitu mengambil waralaba saja dan mengoperasikan sendiri, atau menyerahkan manajemen secara penuh.

Mengambil waralaba Sahabat Cove Licence akan mendapatkan optimasi pemasaran, layanan kontrak dan dukungan untuk penyewa, serta aplikasi pemilik properti dengan reporting real-time.

Sementara untuk full management, akan mendapatkan semua fasilitas, termasuk dengan manajemen staf.

"Kalau under full management, terima beres, bahkan sampai hiring house keeper dan lain-lain. Nanti revenue sharing saja yang berbeda. Tapi keduanya kami punya standar, setiap properti Cove akan kami upgrade ruang komunalnya menjadi lebih kekinian dan elegan sesuai ciri khas kami," tambahnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KSAD Luncurkan Program 200 Jembatan Garuda di Wilayah Terdampak Bencana
• 20 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Polisi Pastikan Pensiunan JICT Dibunuh Perampok Bukan Karena Kritik Korupsi
• 2 jam laluviva.co.id
thumb
Sedang Berlangsung! Jadwal TV dan Link Streaming Liga Champions Newcastle United vs Barcelona
• 15 jam laluviva.co.id
thumb
Doa Quraish Shihab Buat Presiden Prabowo, Singgung Penguasa Jujur dan Durhaka: Kekuasaan atas Kehendak Tuhan
• 7 jam laludisway.id
thumb
Menag Serahkan SK Presiden kepada Pengurus Baznas 2026–2031
• 13 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.