EtIndonesia. Menurut laporan New Tang Dynasty Television, operasi militer gabungan antara Amerika Serikat dan Israel pada Selasa (10/3/2026) secara resmi memasuki minggu kedua.
Dikarenakan sebagian lembaga pemerintah AS, termasuk Kementerian Keamanan Dalam Negeri, masih mengalami penutupan operasional (shutdown), pada Senin (9 Maret) pagi antrian pemeriksaan keamanan di berbagai bandara di seluruh Amerika Serikat sempat mencapai hingga tiga jam.
Sementara itu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyampaikan pidato yang mengecam serangan militer Iran terhadap negara-negara tetangganya di kawasan Teluk. Ia mengkritik keras Iran dengan mengatakan bahwa negara tersebut “menyandera seluruh dunia.”
Selain itu, menurut informasi terbaru, Presiden Donald Trump mengatakan kepada CBS News bahwa perang kemungkinan akan segera berakhir.
Rubio: Iran Menyerang Negara Tetangga dan Infrastruktur EnergiKoresponden NTD di Washington melaporkan bahwa Rubio menghadiri upacara peringatan bagi warga Amerika yang menjadi sandera atau ditahan secara tidak sah, yang diselenggarakan di Kemenlu AS pada Senin (9/3/2026).
Dalam kesempatan itu, ia mengecam Iran karena melalui serangan terhadap negara-negara tetangga, Iran telah menjadikan seluruh dunia sebagai sandera. Ia juga menegaskan kembali bahwa operasi militer yang disebut “Operation Epic Pury” bertujuan untuk menghancurkan kemampuan rezim Iran dalam melanjutkan aktivitas terorisme.
Rubio mengatakan: “(Rezim Iran) mencoba menyandera seluruh dunia. Mereka menyerang negara-negara tetangga, infrastruktur energi negara tetangga, dan warga sipil di negara tetangga. Mereka juga menyerang kedutaan.”
Ia menekankan bahwa militer AS setiap hari menghancurkan rezim yang ia sebut sebagai rezim teroris Iran dengan kekuatan yang luar biasa dan presisi tinggi.
“Tujuan operasi ini sangat jelas. Mungkin tidak banyak kamera yang merekam operasi mereka. Tetapi saya ingin semua orang tahu bahwa militer AS melakukan tugasnya dengan sangat baik,” katanya.
“Setiap hari jumlah rudal Iran berkurang, peluncurnya berkurang, pabrik mereka melambat, dan kekuatan angkatan laut mereka juga sedang dilemahkan. Kami akan terus berupaya tanpa henti sampai setiap warga Amerika yang ditahan secara tidak adil bisa pulang ke rumah,” jelasnya.
Tim Sepak Bola Wanita Iran Memicu PerhatianSelain itu, sebuah insiden yang melibatkan tim nasional sepak bola wanita Iran juga menarik perhatian publik.
Tim tersebut sebelumnya tersingkir dari turnamen Piala Asia Wanita di Australia. Para pemain sempat khawatir akan keselamatan mereka jika harus kembali ke Iran.
Presiden Donald Trump sebelumnya secara terbuka meminta Australia untuk memberikan suaka kepada para pemain tersebut.
Trump kemudian mengatakan bahwa Perdana Menteri Australia Anthony Albanese memberitahunya bahwa lima pemain tim nasional wanita Iran telah ditempatkan dengan aman.
Trump juga menulis dalam pernyataannya bahwa setelah berbicara dengan Albanese, ia mengetahui bahwa pemain lainnya juga sedang diupayakan penempatannya. Namun demikian, beberapa pemain merasa harus kembali ke Iran karena khawatir keluarga mereka mungkin menghadapi ancaman.
Sebelumnya, Trump juga menyatakan kekhawatirannya bahwa para pemain tersebut mungkin menghadapi risiko kematian jika kembali ke Iran. Ia menyerukan kepada Perdana Menteri Australia: “Berikan mereka suaka. Jika Anda tidak melakukannya, Amerika Serikat akan menerima mereka.”
Menurut FIFPRO (serikat pemain sepak bola profesional internasional), tim tersebut menolak menyanyikan lagu kebangsaan Iran saat bertanding di Piala Asia. Akibatnya, mereka sempat dicap oleh otoritas Iran sebagai “pengkhianat di masa perang.”
Laporan Reuters yang mengutip SBS News menyebutkan bahwa lima pemain tim sepak bola wanita Iran saat ini berada di bawah perlindungan Polisi Federal Australia. (Hui)
Reporter NTD Television Zhang Liang dan Wang Ziyi melaporkan dari Washington, D.C., Amerika Serikat.





