REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Keluhan kesehatan mental menjelang hari raya Idul Fitri 2026 meningkat. Pada pekan ketiga Ramadhan 1447 H/2026 dinilai melonjak lebih dari 27 persen ketimbang periode sebelum puasa.
Temuan ini diungkap Chief Marketing Officer Halodoc Fibriyani Elastria yang mengatakan tren keluhan kesehatan bergerak dinamis sepanjang Ramadhan. Pada awal puasa, ujar Fibriyani, masyarakat banyak mengeluhkan gangguan fisik, namun memasuki pekan ketiga, keluhan mental justru mendominasi.
Baca Juga
Penerimaan Pajak Tumbuh 30,4 Persen hingga Februari 2026, Ditopang PPN dan PPnBM
29 warga Israel Terinjak-injak Saat Berebut Hindari Rudal Iran
Harga Minyak Bergejolak Akibat Perang, Luhut Akhirnya Buka Suara
“Keluhan yang semakin meningkat dari minggu ke minggu adalah terkait kesehatan mental. Puncaknya terjadi di minggu ketiga, meningkat lebih dari 27 persen dibandingkan sebelum Ramadhan,” ujar Fibriyani dalam 'Halodoc Talks bertajuk Transitioning Safely: Managing Ramadan Health Risks During Eid Festivities' di Jakarta, Selasa (10/3/2026).
Ia menjelaskan, keluhan yang muncul antara lain gangguan tidur, rasa cemas berlebihan, jantung berdebar, hingga sesak napas. Kondisi tersebut dipicu berbagai faktor, terutama tekanan keluarga menjelang Lebaran.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Berdasarkan data Halodoc, sebanyak 58 persen pemicu kecemasan berasal dari konflik atau tekanan dalam keluarga. Tekanan tersebut antara lain ekspektasi soal pernikahan, anak, kondisi ekonomi, hingga dinamika hubungan antaranggota keluarga.
Selain itu, perubahan pola tidur, kelelahan yang terakumulasi selama tiga pekan puasa, serta tekanan sosial juga berkontribusi terhadap meningkatnya kecemasan.
Jamaah membaca Alquran saat malam Itikaf di Masjid Istiqlal, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Pada 10 hari terakhir bulan suci Ramadhan, sejumlah umat muslim melakukan itikaf atau menetap di dalam masjid untuk menjemput malam lailatul qadar dengan memperbanyak ibadah dan membaca Alquran. - (Republika/Thoudy Badai)