Ketika Teknologi Tak Lagi Cukup

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Tidak dipungkiri teknologi menjadi perangkat bantu dalam proses pembelajaran. Perkembangan akal imitasi (AI) menjadi kondisi yang aktual, menciptakan kebergantungan. Wajah ruang kelas berubah drastis, papan tulis berganti Interactive Flat Panel (IFP) yang berkilau. Tumpukan buku cetak tergantikan perangkat digital.

Di tengah gegap gempita tersebut, muncul sebentuk kesadaran: Apakah semua kecanggihan ini membuat proses belajar lebih baik, atau sekadar memindahkan metode lama ke dalam layar baru?

Sejarah mencatat bahwa teknologi pembelajaran bukanlah sekadar tentang mesin atau perangkat keras. Secara mendasar, proses belajar adalah penerapan pengetahuan ilmiah secara sistematis untuk memecahkan masalah praktis belajar manusia (Subhan, 2025).

Sayangnya, kita sering terjebak dalam pemaknaan sempit bahwa teknologi adalah solusi instan. Padahal, tanpa strategi yang tepat, teknologi justru menjadi beban baru bagi guru dan siswa.

Format Dasar Belajar

Dalam pandangan Yusufhadi Miarso (2004), teknologi pendidikan adalah proses kompleks yang terintegrasi untuk menganalisis dan memecahkan masalah belajar secara sistemik.

Dengan begitu, laptop atau internet hanyalah variabel. Pokok masalahnya terletak pada bagaimana interaksi antara guru, siswa, dan sumber belajar dikelola.

Definisi terbaru dari Association for Educational Communications and Technology (AECT) pada 2008 menegaskan bahwa bidang teknologi pendidikan adalah studi dan praktik etis untuk memfasilitasi pembelajaran (Januszewski & Molenda, 2008).

Kata kuncinya termuat dalam terminologi fasilitasi, bukan kendali. Namun, realitas di lapangan menunjukkan paradoks.

Data UNESCO (2025) mengungkapkan bahwa penetrasi internet di perkotaan Indonesia mencapai 70%, tapi pada daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T), angka tersebut merosot hingga 45%.

Hal ini memperlihatkan bahwa revolusi digital secara nasional masih menyisakan jurang ketidakadilan yang lebar bagi anak bangsa di pelosok (Pakaya et al., 2023).

Tantangan AI dan Krisis Karakter

Situasinya semakin bertambah kompleks dengan kehadiran kecerdasan artifisial (AI): ChatGPT, Gemini, hingga DeepSeek. Saat ini, pertanyaan matematika serumit apa pun akan mudah terjawab dalam hitungan detik. Sisi positifnya, AI memungkinkan personalisasi belajar yang luar biasa (Younas et al., 2025).

Kondisi demikian menimbulkan konsekuensi, bak pedang bermata dua. Pada sisi yang lain, kondisi itu dapat pula memicu krisis integritas. Survei terbaru mencatat praktik plagiarisme berbasis AI mencapai angka mengkhawatirkan di tingkat pendidikan tinggi dan menengah (KPK, 2025).

Lebih menyedihkan lagi, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) melaporkan lonjakan kasus perundungan siber (cyber-bullying) di sekolah lebih dari dua kali lipat (FSGI, 2025).

Berbagai fenomena itu menjadi teguran keras bagi kita: teknologi yang tidak disertai dengan fondasi etika dan karakter justru bisa merusak ekosistem kemanusiaan di sekolah.

Deep Learning pada Kebisingan Digital

Pemerintah melalui Permendikdasmen No. 13 Tahun 2025 memperkenalkan pendekatan deep learning (pembelajaran mendalam). Kebijakan tersebut diambil untuk mengatasi problematika pendidikan yang relevan dan aktual.

Perlu dipahami bahwa skema deep learning bukanlah kurikulum baru, melainkan penyegaran metode pembelajaran yang menekankan tiga pilar: mindful (berkesadaran), meaningful (bermakna), dan joyful (menggembirakan) (Aripin, 2025).

Dalam konteks teknologi, deep learning menuntut guru untuk tidak sekadar menggunakan layar untuk presentasi, tetapi juga sebagai lingkungan pemecahan masalah yang kritis (Akmal et al., 2025).

Keberadaan AI tidak boleh menggantikan peran berpikir, tetapi menjadi asisten yang mendukung siswa bertanya "mengapa?" dan bukan sekadar "apa?"—dengan mendalam dan terstruktur.

Karena itu pula, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu'ti, sering menekankan pentingnya kesalehan digital (Mu'ti, 2025). Sebuah gagasan mengenai kecakapan teknologi yang harus berujung pada martabat manusia, bukan sekadar kecepatan memproses data.

Memanusiakan Teknologi

Agar deep learning tidak menguap begitu saja, dibutuhkan solusi yang membumi.

Pertama, digitalisasi sekolah tidak boleh berhenti pada pembagian perangkat. Guru-guru kita butuh pelatihan literasi digital yang humanis, bagaimana mengajar dengan hati di depan layar, bukan sekadar teknis mengoperasikan aplikasi (Anggraini et al., 2024).

Kedua, untuk daerah 3T tanpa internet stabil, inovasi konten offline—seperti radio pendidikan atau USB belajar—harus menjadi prioritas agar proses merdeka belajar bukan hanya milik anak Jakarta (Dewi, 2022).

Ketiga, sekolah harus menjadi ruang aman bagi kesehatan mental siswa yang kini mudah terpapar tekanan media sosial (Stanford University, 2024).

Secanggih apa pun algoritma AI, tatapan mata guru dalam memotivasi murid atau menciptakan kehangatan diskusi di sudut kelas tidak akan pernah bisa digantikan.

Teknologi pembelajaran hanyalah jembatan. Tujuannya yaitu memanusiakan manusia seutuhnya. Pendidikan sejati bukan hanya tentang kecerdasan buatan, melainkan juga tentang kecerdasan hati.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sinopsis JEJAK DUKA DIANDRA SCTV Episode 66, Hari Ini Rabu, 11 Maret 2026: Momen Romantis Dimitri dan Diandra Bikin Melisa Cemburu Berat
• 1 jam lalutabloidbintang.com
thumb
Kim Jong-Un Dukung Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran
• 4 jam lalubisnis.com
thumb
The Ultimate10K Series Bank BJB Gerakkan Sport Tourism Nasional
• 3 jam lalubisnis.com
thumb
4 Perampok Bersajam Sekap Pegawai SPBU di Babelan Kabupaten Bekasi
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Utusan Iran di PBB Ungkap 1.300 Warga Sipil Meninggal Akibat Serangan AS-Israel
• 48 menit lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.