Pada Selasa lalu (10/3/2026) Amir Saeid Iravani duta besar sekaligus perwakilan tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengatakan, sejak 28 Februari lalu serangan militer yang dilancarkan oleh Amerika Serikat dan Israel, membuat 1.300 warga sipil meninggal dunia sekaligus merusak beberapa fasilitas sipil yang berjumlah 9.669.
Dampak serangan itu juga membuat beberapa kerusakan fasilitas mulai dari 7.943 rumah tinggal, 1.617 pusat komersial dan layanan, 32 fasilitas medis dan farmasi, 65 sekolah dan lembaga pendidikan, 13 gedung Bulan Sabit Merah, serta beberapa fasilitas pasokan energi, kata Iravani kepada pers dalam sebuah pernyataan yang dikutip antara.
“Mereka dengan sengaja dan tanpa pandang bulu menargetkan warga sipil dan infrastruktur sipil di seluruh negara saya. Mereka tidak menghormati hukum internasional dan tidak menahan diri dalam melakukan kejahatan ini,” ungkap Iravani.
Kawasan permukiman padat penduduk dan infrastruktur sipil sengaja dijadikan target, seiring berjalannya serangan militer AS-Israel angka korban dan kerusakan terus berlanjut tambahnya.
Iravani menyebutkan beberapa contoh serangan terhadap target sipil, termasuk serangan masif terhadap fasilitas penyimpanan bahan bakar di Teheran dan kota-kota lain pada Sabtu (7/3) malam lalu, yang melepaskan sejumlah besar polutan berbahaya dan beracun ke atmosfer.
Untuk diketahui, ledakan tersebut menyebabkan polusi udara yang parah dan beresiko untuk kesehatan bagi warga sipil mulai dari anak-anak, perempuan, lansia, hingga mereka yang memiliki kondisi kesehatan serius, kata Iravani, sebagaimana dikutip Antara.
“Serangan-serangan keji ini juga melanggar kewajiban lingkungan internasional, termasuk yang tercantum dalam Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim dan Konvensi tentang Keanekaragaman Hayati,” tuturnya.
Dia menambahkan beberapa contoh serangan lainnya yaitu serangan terhadap Bandar Udara Mehrabad di Teheran pada Sabtu pagi lalu, yang mengakibatkan kerusakan parah pada beberapa pesawat sipil dan fasilitas bandara sekaligus menghancurkan fasilitas air tawar di Pulau Qeshm di Provinsi Hormozgen, yang mana menggangu pasokan air ke 30 desa.
Pada Minggu (8/3/2026) dini hari lalu, pasukan Israel melancarkan serangan teroris yang disengaja terhadap Hotel Ramada di Beirut, Lebanon, yang menyebabkan empat diplomat Iran meninggal dunia.
“Pembunuhan diplomat secara terarah di wilayah negara berdaulat lain merupakan tindakan teroris yang serius, kejahatan perang, dan pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional,” kata Iravani.
Dia mendesak masyarakat internasional harus bertindak sekarang untuk menghentikan perang tersebut.
“Kami akan mengambil semua tindakan yang diperlukan demi membela rakyat kami, wilayah kami, dan kemerdekaan kami,” ujar Iravani.(ant/zan/ham/rid)




