EtIIndonesia. Menurut laporan New Tang Dynasty Television, pada 9 Maret 2026 otoritas Iran mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei, putra kedua dari Ali Khamenei, akan mewarisi posisi dan menjadi Pemimpin Tertinggi Iran.
Menanggapi hal tersebut, Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyampaikan ucapan selamat, sementara kelompok Hezbollah menyatakan kesetiaannya.
Mojtaba Khamenei Dikabarkan TerlukaPembawa acara kemudian menghubungi koresponden di Washington untuk menanyakan tanggapan Gedung Putih dan perkembangan terbaru konflik yang telah berlangsung selama 10 hari.
Menurut laporan koresponden, otoritas Iran pada 9 Maret mengumumkan bahwa Mojtaba Khamenei yang berusia 56 tahun telah dipilih sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Namun media resmi Iran juga mengkonfirmasi bahwa Mojtaba terluka akibat serangan dalam konflik antara AS dan Iran.
Di media sosial, beberapa warganet Iran bahkan berspekulasi bahwa Mojtaba mungkin telah meninggal dunia sebelumnya, dan penunjukan dirinya hanya merupakan “pengalihan perhatian” agar pihak lawan tidak mengetahui siapa sebenarnya pengambil keputusan di balik rezim tersebut.
Spekulasi juga menyebut bahwa kabar “luka-luka” tersebut bisa menjadi alasan bagi pemerintah Iran untuk tidak menampilkannya di depan publik.
Trump: “Kita Lihat Saja”Ketika diwawancarai oleh The Times of Israel, Presiden Donald Trump tidak memberikan tanggapan langsung terhadap penunjukan tersebut dan hanya mengatakan: “Kita lihat saja nanti.”
Dalam wawancara sebelumnya, Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya memiliki suara dalam menentukan pengganti pemimpin Iran. Ia menyatakan bahwa jika tanpa persetujuan Amerika Serikat, pemerintahan tersebut tidak akan bertahan lama.
Trump juga mengatakan bahwa ia tidak ingin pasukan Kurdi terlibat dalam perang, dan tanpa alasan yang cukup ia juga tidak akan mengirim pasukan darat AS ke Iran, karena tidak ingin melihat korban dari militer AS maupun sekutunya.
Ia juga menambahkan bahwa saat ini tidak perlu bagi Inggris mengirim kapal induk.
Trump mengatakan: “Kami juga tidak ingin kembali setiap lima atau sepuluh tahun untuk melakukan hal yang sama lagi. Jadi kami ingin memilih seorang pemimpin yang tidak akan membawa negaranya ke dalam perang. Mereka mengusulkan untuk mengirim dua kapal induk, mungkin saja, mungkin saja. Tapi saya sudah menjawab bahwa kami tidak memerlukannya sekarang. Sekarang bukan waktunya. Jika dua minggu lalu kapal induk bisa dikirim, mungkin itu akan lebih baik.”
Serangan Udara Masih BerlanjutSaat ini Amerika Serikat dan Israel masih terus melakukan serangan udara skala besar terhadap Iran, sementara Iran tetap melancarkan serangan rudal dan drone ke negara-negara tetangganya.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menuduh Iran telah menyandera dunia melalui serangan balasan, dan menyatakan bahwa Amerika Serikat sedang mencapai tujuan perang sesuai rencana.
Pembicaraan Trump dengan PM InggrisPembawa acara juga menyinggung perhatian besar masyarakat internasional terhadap konflik tersebut, termasuk percakapan telepon antara Trump dan Perdana Menteri Inggris.
Koresponden menjelaskan bahwa pada 8 Maret, Trump berbicara melalui telepon dengan Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer. Mereka membahas perkembangan terbaru di Timur Tengah dan kerja sama pertahanan regional, termasuk penggunaan pangkalan Royal Air Force milik Inggris untuk mendukung operasi pertahanan.
Pada Senin (9 Maret), Starmer mengatakan bahwa diskusi dengan Amerika Serikat mencakup berbagai aspek. Terkait Iran, AS menggunakan pangkalan udara Inggris dan berbagi intelijen, sementara militer Inggris membantu negara-negara Teluk meningkatkan kemampuan pertahanan mereka.
Tujuh Tentara AS TewasPada akhir pekan, jenazah tentara Amerika pertama yang meninggal dunia dalam konflik tersebut telah dipulangkan ke Amerika Serikat.
Presiden Donald Trump bersama Ibu Negara Melania Trump menghadiri upacara pemulangan jenazah di Dover Air Force Base, di negara bagian Delaware.
Saat ini telah dipastikan bahwa tujuh tentara AS tewas ketika Iran menyerang pangkalan militer Amerika di Kuwait.
Trump Minta Australia Beri Suaka Tim Sepak Bola Wanita IranPada Senin, Trump juga menyatakan dalam sebuah unggahan bahwa Australia seharusnya memberikan suaka kepada tim nasional sepak bola wanita Iran, karena mereka mungkin menghadapi risiko kematian jika kembali ke Iran.
Ia juga mengatakan bahwa jika Australia tidak dapat menerima mereka, maka Amerika Serikat akan memberikan suaka.
Saat ini tim sepak bola wanita Iran sedang berada di Australia untuk mengikuti AFC Women’s Asian Cup 2026, dan baru saja menyelesaikan pertandingan fase grup. (Hui)





