Perang Iran versus Amerika Serikat-Israel menghadirkan tantangan berat pada aktivitas perdagangan dunia. Secara khusus, bagaimana dampaknya, baik langsung maupun tidak langsung, terhadap ekspor komoditas nonmigas Indonesia?
Dari artikel ini Anda bisa mendapatkan informasi sebagai berikut:
- Bagaimana gambaran perdagangan RI dan negara-negara Teluk?
- Apakah perang di Timur Tengah sudah dirasakan dampaknya oleh eksportir Indonesia?
- Di tengah konflik, apakah ada komoditas perdagangan yang diuntungkan?
- Apakah Indonesia bisa memetik keuntungan maksimal dari kenaikan harga CPO dan emas dunia?
Perdagangan Indonesia dengan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) yang terdiri dari Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Oman, dan Qatar selama ini diwarnai defisit. Hal ini disebabkan perdagangan RI dengan GCC didominasi impor migas yang besar.
Kementerian Perdagangan RI mencatat, pada 2023 total perdagangan RI-GCC senilai 15,7 miliar dolar AS. Nilai ekspor Indonesia ke GCC sebesar 6,1 miliar dolar AS dan impornya mencapai 9,6 miliar dolar AS sehingga neraca perdagangan RI terhadap GCC defisit sebesar 3,5 miliar dolar AS.
Pada 2024, total perdagangan Indonesia-GCC mencapai 15,6 miliar dolar AS. Ekspor Indonesia ke GCC tercatat sebesar 7 miliar dolar AS dan impor dari GCC 8,5 miliar dolar AS. Defisit perdagangan di sisi Indonesia mengecil jadi 1,5 miliar dolar AS dibandingkan tahun 2024.
Komoditas ekspor utama RI ke GCC, antara lain, berupa mobil dan kendaraan bermotor, minyak sawit, perhiasan, kapal suar, kertas, dan kertas karton tanpa lapisan. Adapun komoditas yang diimpor RI selain migas adalah produk setengah jadi dari besi atau baja bukan paduan, alkohol asiklik, belerang, polimer dari etilena, dan aluminium tidak ditempa.
Deputi Bidang Distribusi dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Ateng Hartono dalam konferensi pers, Senin (2/3/2026), memberikan gambaran mengenai perdagangan migas dan nonmigas Indonesia dengan beberapa negara di Teluk.
Total impor migas Indonesia pada Januari 2026 sebesar 891,8 juta dolar AS atau sekitar Rp 150,25 triliun. Arab Saudi dan UEA berkontribusi paling besar terhadap total impor migas Indonesia, masing-masing sebesar 8,84 persen dan 6,34 persen.
Sementara itu, ekspor RI ke Oman senilai total 428,8 juta dolar AS dengan komoditas utamanya lemak dan minyak hewan/nabati, kendaraan dan suku cadang, dan mineral.
Adapun ekspor RI ke UEA senilai total 4,0 miliar (Rp 67,5 triliun). Komoditas utamanya adalah logam mulia dan perhiasan, lemak dan minyak hewan/nabati, serta kendaraan dan suku cadang. Ekspor nonmigas RI ke Iran 249,1 juta dolar AS dengan komoditas utamanya adalah buah-buahan, kendaraan dan bagiannya, serta lemak dan minyak hewan/nabati.
Ateng belum bisa mengungkapkan berapa persen dampak perang Iran versus AS-Israel terhadap ekspor Indonesia ke kawasan Teluk.
Sejumlah daerah di Indonesia telah melaporkan dampak nyata dari perang di Timur Tengah terhadap ekspor ke kawasan tersebut.
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jawa Barat Nining Yuliastiani, Senin (9/3/2026), mengatakan, salah satu perusahaan tekstil dan produk tekstil di Jawa Barat telah melaporkan adanya penangguhan pengiriman dari pembeli di Timur Tengah sebanyak 10 kontainer. Hal ini mengakibatkan penumpukan stok di gudang.
Masih di Jawa Barat, Wanoja Coffe, salah satu pelaku usaha produksi green bean atau biji kopi mentah arabika di Kabupaten Bandung, Jawa Barat, memutuskan untuk sementara menghentikan ekspor ke kawasan Timur Tengah.
”Kami memutuskan menunda ekspor ke kawasan Timur Tengah sambil memantau kondisi keamanan akibat konflik Iran kontra AS-Israel,” kata Direktur Wanoja Coffee Satrea, Rabu (4/3/2026). Tahun 2025, Wanoja mengekspor 60 ton kopi ke negara-negara di Timur Tengah.
Penundaan ekspor dilakukan akibat lonjakan biaya logistik untuk ekspor seiring kenaikan harga minyak.
Di Lampung, ekspor rutin komoditas pertanian, seperti nanas segar dan nanas irisan kaleng, pisang, kopi, kayu manis, serta getah damar ke UEA, Arab Saudi, Oman, Turki, dan Pakistan terdampak.
Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional dan Promosi Luar Negeri Tommy Kaihatu mengatakan, dari sisi perdagangan luar negeri, konflik di Timur Tengah berpotensi menghambat kinerja ekspor Jatim meskipun saat ini kondisinya masih tergolong solid.
”Nilai ekspor Jawa Timur mencapai sekitar 30 miliar dolar AS dengan surplus perdagangan lebih dari 800 juta dolar AS. Sekitar 10 persen dari ekspor tersebut ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah,” ujar Tommy, Selasa (3/3/2026).
Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu pemicu melejitnya harga minyak sawit mentah atau CPO. Trading Economics mencatat, pada 9 Maret 2026, harga CPO berjangka di Bursa Derivatif Malaysia tembus 4.375 ringgit Malaysia per ton atau 1.111 dolar AS per ton. Harganya melejit 3,27 persen dalam sehari dan 5,35 persen dalam sebulan. Harga tersebut tertinggi sejak Oktober 2025.
Hingga 10 Maret 2026 pukul 12.00, harga CPO berjangka tersebut kembali naik menjadi 4.568 ringgit Malaysia. Baru setengah hari, harganya naik 4,41 persen.
Penyebab utama kenaikan harga CPO itu adalah ekspektasi pasar terhadap peningkatan bahan baku biodiesel yang dipicu kenaikan harga minyak mentah.
Minyak sawit kini diperdagangkan dengan diskon besar dibandingkan bahan bakar fosil. Saat ini, selisih harganya cukup menguntungkan untuk meningkatkan permintaan dari industri biodiesel.
Kenaikan harga CPO itu juga dipicu sejumlah faktor lain, seperti penurunan musiman produksi CPO di sejumlah negara produsen CPO di Asia Tenggara lantaran libur hari raya Idul Fitri. Kedua, prospek permintaan yang membaik dari sejumlah negara importir, terutama India dan China. Ketiga, harga CPO masih lebih rendah ketimbang harga minyak nabati pesaingnya, yakni minyak biji bunga matahari.
Wakil Presiden Bidang Industri dan Riset Regional PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani berpendapat, gejolak harga minyak mentah bisa merambat ke harga minyak nabati, termasuk CPO. Jika konflik di Timur Tengah berlangsung selama 3-6 bulan, harga minyak mentah Brent diperkirakan bisa tembus 99,3 dolar AS-132,8 dolar AS per barel.
”Dalam skenario tersebut, harga CPO bisa mencapai 1.177 dolar AS-1.409 dolar AS per ton. Kenaikan harga CPO itu dapat menguntungkan Indonesia. Namun, hal itu tetap bergantung pada lancar atau tidaknya permintaan CPO dari sejumlah negara,” katanya.
Selain, komoditas yang harganya meningkat adalah emas. Kenaikannya 12,8 persen bulanan dan hampir 75 persen tahunan.
Seharusnya kenaikan harga CPO dunia memberikan keuntungan pada Indonesia sebagai produsen terbesarnya. Namun, Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono, Selasa (10/3/2026), mengatakan, kenaikan harga minyak mentah memang kerap diikuti dengan kenaikan harga CPO. Namun, kenaikan harga CPO yang dipicu perang di Timur Tengah hanya bersifat sementara.
Apabila perang itu mereda dan harga minyak mentah kembali turun, harga CPO pasti akan turut terkoreksi. Oleh karena itu, Gapki belum mengubah proyeksi harga CPO pada 2026, yakni sekitar 4.000 ringgit Malaysia atau di kisaran 1.050 dolar AS-1.150 dolar AS per ton.
Selain itu, ketika harga CPO sedang tinggi, permintaan CPO dari sejumlah negara justru turun. Perang yang memicu penutupan Selat Hormuz itu juga menyebabkan ekspor CPO ke negara-negara di kawasan Teluk terhambat. Beberapa tujuan ekspor CPO di kawasan itu adalah UEA, Oman, Israel, Irak, dan Iran.
Gapki mencatat, pada 2025 total ekspor CPO Indonesia ke Timur Tengah sebanyak 1,83 juta ton atau senilai 1,9 miliar dolar AS. Tiga negara yang berkontribusi besar terhadap ekspor tersebut adalah Arab Saudi (651.000 ton), UEA (475.000 ton), dan Oman 219.000 ton.
Adapun Irak, Israel, dan Iran masing-masing berada di urutan ke-5, ke-8, dan ke-9 sebagai negara tujuan ekspor CPO RI di kawasan Timur Tengah pada 2025. Volume ekspor CPO ke Irak sebesar 124.000 ton, Israel 30.000 ton, dan Iran 24.000 ton.
Selain konflik di Timur Tengah, Wakil Presiden Bidang Industri dan Riset Regional PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani berpendapat, kenaikan tarif pungutan ekspor CPO beserta produk-produk turunannya yang berlaku per 1 Maret 2026 juga memengaruhi kinerja ekspor CPO dan produk turunannya. Tarif pungutan ekspor CPO dinaikkan dari 10 persen menjadi 12,5 persen.
Sama seperti CPO, Indonesia juga tidak menikmati banyak keuntungan dari kenaikan harga emas global. Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Novani Karina Saputri, menjelaskan, lonjakan harga emas memicu pergeseran permintaan domestik ke aset lindung nilai. Di sisi lain, penutupan sementara tambang Grasberg milik PT Freeport Indonesia menekan ekspor emas nasional.
Situasinya sekarang adalah ekspor logam mulia turun 11,6 persen secara tahunan, sementara impor emas melonjak lebih dari 150 persen. Hal ini memberi tekanan pada surplus perdagangan.





