Memilih jalur pendidikan untuk anak bukanlah keputusan yang mudah. Setiap anak memiliki kebutuhan dan karakter yang berbeda, sehingga metode belajar yang cocok pun tidak selalu sama. Hal inilah yang dirasakan oleh Soviningrat Clefiena ketika melihat pengalaman anak pertamanya di sekolah formal.
Clefiena memutuskan menjalani homeschooling sejak anak pertamanya masih berusia balita. Keputusan tersebut diambil setelah beberapa kali mencoba pendidikan formal namun tidak memberikan dampak yang positif bagi anaknya. Menurutnya, anak pertamanya justru mengalami kemunduran dalam kemampuan bicara, kepercayaan diri menurun, hingga muncul rasa takut terhadap berbagai hal.
Anak pertama Clefiena memiliki karakter yang sangat berhati-hati dan cenderung melekat dengan ibunya sejak bayi. Bahkan, sejak kecil ia hanya nyaman digendong oleh ibunya. Kondisi ini membuat proses adaptasi di sekolah formal menjadi cukup sulit.
“Bahkan ketakutannya terhadap banyak hal semakin banyak. Anak pertama saya tipe anak yang cautious dan sangat nempel dengan saya. Sejak bayi hanya mau digendong oleh ibunya saja,” kata Clefiena kepada kumparanMOM, Kamis (26/2).
Jika taman kanak-kanak dikategorikan sebagai pendidikan formal, kedua anak Clefiena sebenarnya pernah mengalaminya. Saat ini, anak pertamanya, Fagan, berusia 14 tahun, sementara anak keduanya, Berry, berusia 10 tahun.
Kurikulum Homeschooling Disusun dari Minat AnakDalam menjalankan homeschooling, Clefiena sendiri yang menyusun kurikulum setelah berdiskusi dengan suami. Sumber pembelajaran yang digunakan pun sangat beragam, mulai dari buku sains, agama, matematika, hingga buku memasak, ekonomi, dan bisnis. Ide pembelajaran juga banyak diambil dari minat anak serta berbagai diskusi dengan banyak orang.
Clefiena juga mengaku memilih pendekatan homeschooling berbasis Islam karena latar belakang pendidikan agamanya. Menurutnya, Al-Qur’an dan Hadis merupakan panduan hidup yang sejalan dengan konsep STEAM (Science, Technology, Engineering, Art, and Mathematics).
Dalam keseharian, Clefiena berperan sebagai pendamping dan fasilitator belajar bagi anak-anaknya. Ketika anak memiliki minat atau proyek tertentu, mereka dapat berdiskusi dengan sang ibu dan kemudian melanjutkannya dengan para ahli yang sesuai dengan bidang tersebut.
“Karena saya dan suami LDM, anak-anak biasanya presentasi progress setiap malam melalui video call atau zoom sesuai kebutuhan, sambil berdiskusi berempat. Saya diskusi dengan suami melalui obrolan santai setiap waktu menyesuaikan dengan rutinitas masing-masing,” ucapnya.
Tantangan dan Dinamika Menjalani HomeschoolingMenariknya, biaya homeschooling menurut Clefiena tidak selalu mahal. Biaya tersebut sangat bergantung pada kebutuhan anak dan kemampuan keluarga. Ia pernah menghabiskan sekitar Rp400 ribu dalam sebulan untuk kegiatan belajar karena memanfaatkan buku yang sudah ada, berjalan kaki tanpa transportasi, hingga menggunakan kertas daur ulang.
“Tapi pernah juga sebulan kami menghabiskan dana yang fantastis karena project anak-anak yang mengharuskan kami stay berminggu-minggu di luar negeri. So, ini semua tergantung dengan keluarga masing-masing,” tegas perempuan lulusan ITB ini.
Menurutnya, homeschooling memiliki sejumlah kelebihan, sebab:
-Anak dapat belajar bertanggung jawab
-Bersosialisasi dengan berbagai kalangan dan usia
-Lebih percaya diri
-Menikmati proses belajar hampir setiap hari
-Motivasi belajar pun muncul dari dalam diri anak, bukan karena tekanan dari luar
Meski demikian, perjalanan homeschooling juga memiliki tantangan. Clefiena harus terus belajar, menentukan prioritas, mengatur emosi, serta selalu mengikuti perkembangan situasi terkini baik di dalam maupun luar negeri.
Ia juga mengakui pernah mengalami rasa kewalahan atau burnout. Saat kondisi itu terjadi, ia biasanya berkomunikasi dengan suami dan meminta waktu jeda dari anak-anak. Salah satu cara yang ia lakukan adalah menghabiskan waktu dengan membaca buku bersama anak-anak atau berjalan-jalan ke alam dan taman terdekat.
“Pernah overwhelmed maupun burnout. Saat overwhelmed maupun burnout saya akan berkomunikasi ke suami lalu mencoba meminta time out ke anak-anak. Biasanya saya akan seharian membaca buku bersama anak-anak saja (bisa lebih dari 10 jam membaca buku) dan terkadang anak juga memberi saran apa yang sebaiknya saya lakukan,” imbuh perempuan yang sempat lama tinggal di luar negeri ini.
Menurut Clefiena, homeschooling memang tidak cocok untuk semua keluarga. Setiap orang tua memiliki kondisi, kemampuan, serta visi keluarga yang berbeda.
Oleh karena itu, ia berpesan kepada para orang tua yang menjalani homeschooling untuk tidak merasa harus meniru keluarga lain. Yang terpenting adalah memahami visi keluarga dan percaya pada fitrah anak.
“Tidak perlu menjadi seperti orang lain/keluarga lain. Fokus kepada visi misi keluarga dan percaya dengan fitrah anak. Karena semua diciptakan oleh sang pencipta dengan fungsi, peran, dan tujuan masing-masing, tidak ada yang sia-sia,” pungkasnya.





