Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo hadir dalam acara buka puasa bersama jajaran TNI-Polri di Lapangan Bhayangkara, Mabes Polri, Jakarta, Rabu (11/3).
Acara tersebut turut dihadiri Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin, Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo, Ketua Komisi I DPR Utut Adianto, Penasihat Khusus Presiden Bidang Kamtibmas dan Reformasi Komjen (Purn) Ahmad Dofiri, Ketua Umum MUI Anwar Iskandar, Ustadz Adi Hidayat, serta sejumlah wakil menteri.
Dalam acara buka bersama ini, Polri turut mengundang anak yatim dan santri, pemberian santunan, lalu mendengarkan ceramah dari Ustaz Adi Hidayat. Acara kemudian dilanjutkan dengan salat Magrib berjemaah.
Melalui momentum Ramadan ini, Sigit menekankan pentingnya mempererat silaturahmi dan sinergi dalam menjaga stabilitas bangsa.
“Harapan kami, harapan kita semua, momentum ini tentunya menjadi momentum yang semakin mempererat tali silaturahmi kita, sinergitas kita dalam menghadapi berbagai macam persoalan, menghadapi tantangan bangsa yang tentunya membutuhkan soliditas, membutuhkan sinergisitas,” kata Sigit dalam sambutannya.
“Sehingga seberat apa pun tantangan yang kita hadapi, semuanya bisa kita jalankan dengan sebaik-baiknya, karena kita semua solid dan kompak,” lanjutnya.
Ia mengatakan, soliditas antara TNI dan Polri menjadi faktor penting untuk mengawal berbagai program nasional sekaligus menjaga stabilitas keamanan dan pertahanan negara.
“Kita ingat 350 tahun kita sempat dijajah karena kita dipecah belah oleh politik devide et impera. Itu adalah pelajaran yang tentunya harus selalu menjadi pengingat bagi kita bahwa Indonesia dengan negara sebesar ini, dengan berbagai macam suku bangsa, pulau, yang tentunya ini adalah keberagaman yang sangat luar biasa,” kata dia.
Ia mengingatkan, keberagaman tersebut harus menjadi kekuatan untuk bersatu, bukan justru dimanfaatkan pihak tertentu untuk memecah belah bangsa.
“Namun di satu sisi kita pernah punya pengalaman bahwa kita pernah dipecah belah. Pilihan kita, kita bersatu dalam kebhinnekaan atau kita memilih kemudian berhasil dihasut dan dipecah belah, dan kita mengalami kemunduran dan itu tugas kita bersama untuk menjaga NKRI kita yang tercinta,” ujarnya.
Sigit juga menyampaikan pesan Presiden Prabowo Subianto agar TNI dan Polri terus menjaga kekompakan dan bekerja sama dalam menjalankan tugas negara.
“Bapak Presiden berkali-kali selalu menyampaikan di dalam pidatonya, TNI dan Polri harus selalu bersatu, kompak dan bersinergi. Beliau menyampaikan bahwa TNI dan Polri sama-sama lahir dari kancah perjuangan dan ikut mempertahankan kemerdekaan,” katanya.
Ia menambahkan, Presiden juga menegaskan agar TNI dan Polri selalu dekat dengan masyarakat.
“Oleh karena itu beliau selalu sampaikan maka TNI harus jadi TNI rakyat, Polri harus jadi polisinya rakyat. Itu berkali-kali beliau sampaikan dan itu tentunya menjadi amanah dari panglima tertinggi kita, dari pimpinan tertinggi kita untuk betul-betul kita laksanakan dengan sebaik-baiknya sebagaimana sumpah kita pada saat kita menjadi TNI dan menjadi Polri,” ujar Sigit.
Dalam kesempatan itu, Sigit juga mengingatkan TNI dan Polri memiliki peran utama dalam sistem pertahanan dan keamanan negara sebagaimana diatur dalam konstitusi.
“Karena begitu kita sudah bersumpah maka kita menjadi milik negara dan kita adalah bagian dari yang harus menjaga dan menjalankan amanah dan sumpah tersebut,” kata Sigit.
“Saya tentunya mengingatkan bahwa amanat Undang-Undang Dasar jelas di Pasal 30 bahwa terkait dengan sistem pertahanan keamanan dan rakyat semesta, TNI dan Kepolisian Negara Indonesia adalah kekuatan utama dan rakyat sebagai kekuatan pendukung,” sambung dia.
Ia menambahkan, meskipun memiliki fungsi berbeda, TNI dan Polri pada hakikatnya saling melengkapi dalam menjaga pertahanan dan keamanan negara.
“Meski pun berbeda, namun pada hakikatnya menjaga pertahanan dan menjaga keamanan adalah satu kesatuan yang saling melengkapi karena dengan menjaga pertahanan dan keamanan maka stabilitas keamanan nasional, stabilitas pertahanan tentunya kita harapkan bisa tercipta,” ujar Sigit.
“Dan ini menjadi modal dasar, modal utama bagi negara, bagi bangsa, bagi masyarakat untuk kemudian bisa membangun karena syarat utama pembangunan adalah stabilitas keamanan stabilitas Kamtibmas,” lanjut dia.





