Profil Mojtaba Khamenei ramai dibahas pengamat politik dan masyarakat Internasional setelah wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel di Teheran pada 28 Februari 2026.
Pada tanggal 8 Maret 2026, Iran secara resmi menunjuk putra kedua Ali Khamenei ini untuk menggantikan sang Ayah, setelah tewasnya Ayatollah Ali Reza. Sesuai konstitusi Iran, pemimpin tertinggi secara definitif dipilih oleh lembaga ulama yang disebut Assembly of Experts atau Majelis Pakar. Lembaga ini beranggotakan 88 ulama yang memiliki kewenangan menentukan pemimpin tertinggi Republik Islam Iran.
Dalam berbagai laporan media internasional, nama Mojtaba Khamenei muncul sebagai kandidat paling kuat untuk menggantikan ayahnya.
Sosok Mojtaba Khamenei menarik perhatian masyarakat pemerhati geopolitik karena perannya yang disebut sangat berpengaruh dalam pemerintahan Iran. Ia dikenal sebagai putra kedua Ayatollah Ali Khamenei sekaligus sosok yang selama bertahun-tahun berada sangat dekat dengan pusat kekuasaan negara. Selama masa kepemimpinan ayahnya, Mojtaba kerap disebut sebagai orang kepercayaan yang menjalankan berbagai fungsi penting di sekitar kantor pemimpin tertinggi.
Mojtaba Khamenei lahir di Mashhad, Iran, pada 8 September 1969. Masa kecilnya berlangsung pada periode yang penuh gejolak politik di Iran. Pada masa itu, ayahnya dikenal sebagai tokoh revolusioner yang menentang monarki Persia di bawah Shah Mohammad Reza Pahlavi.
Kepindahan Mojtaba Ke TeheranSejak kecil, Mojtaba menyaksikan bagaimana ayahnya kerap ditangkap oleh aparat intelijen kerajaan yang dikenal sebagai SAVAK. Ayahnya juga dilaporkan mengalami penyiksaan karena aktivitas politiknya. Pengalaman tersebut membentuk pandangan Mojtaba terhadap dinamika politik Iran sejak usia muda.
Ketika Revolusi Islam Iran pecah pada 1979 dan menggulingkan monarki, posisi keluarga Khamenei berubah secara drastis. Ayahnya yang sebelumnya dianggap pemberontak kemudian menjadi bagian dari elite pemerintahan baru yang dipimpin Ayatollah Ruhollah Khomeini. Perubahan tersebut membuat Mojtaba pindah dari Mashhad ke Teheran bersama keluarganya.
Setelah pindah ke Teheran, Mojtaba mendapatkan pendidikan di lingkungan elite Iran. Ia menempuh pendidikan menengah di SMA Alavi, sebuah sekolah yang dikenal mencetak banyak tokoh penting dalam pemerintahan Iran. Ia menyelesaikan pendidikannya di sekolah tersebut pada 1987.
Perjalanan Militer Mojtaba KhameneiSelain dikenal di lingkaran politik, Mojtaba Khamenei juga dikenal di lingkungan militer. Pengalaman ini dimulai ketika Iran terlibat dalam perang besar melawan Irak pada dekade 1980-an. Pengalaman militer tersebut kemudian membentuk hubungan Mojtaba dengan aparat keamanan Iran.
Pada masa perang Iran-Irak, Mojtaba bertugas sebagai bagian dari angkatan bersenjata Iran. Ia ditempatkan dalam Batalyon Habib. Unit ini dikenal sebagai tempat berkumpulnya calon pejabat militer dan keamanan Iran di masa depan.
Pengalaman di Batalyon Habib menjadi pintu masuk bagi hubungan Mojtaba dengan Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC), pasukan elit Iran yang memiliki pengaruh besar dalam bidang militer, politik, dan ekonomi. Banyak anggota batalyon tersebut kemudian menjadi pejabat penting di IRGC maupun lembaga intelijen Iran.
Selama perang Iran-Irak, Mojtaba dilaporkan terlibat dalam sejumlah operasi militer, di antaranya:
- Operasi Beit ol-Moqaddas 2
- Operasi Beit ol-Moqaddas 4
- Operasi Fajar 10
Setelah Ayatollah Ruhollah Khomeini wafat pada 1989, Ali Khamenei ditunjuk sebagai pemimpin tertinggi Iran. Peristiwa tersebut mengubah posisi Mojtaba secara signifikan karena ia kini menjadi anak pemimpin tertinggi negara. Setelah sang ayah pindah ke Teheran, Mojtaba masuk ke sekolah elit untuk dipersiapkan sebagai pengganti sejak dini.
Selain bersekolah di SMA Alavi, Mojtaba juga melanjutkan pendidikan keagamaan di kota Qom, yang dikenal sebagai pusat utama pendidikan ulama Syiah di Iran dan salah satu lembaga hawzah paling berpengaruh di dunia Islam.
Dalam pendidikannya, Mojtaba juga dibimbing oleh sejumlah tokoh agama terkemuka, antara lain:
- Ayatollah Mohammad-Taqi Mesbah Yazdi
- Ayatollah Lotfollah Safi Golpayegani
- Ayatollah Sayyed Mohsen Kharrazi
Salah satu gurunya, Ayatollah Mohammad-Taqi Mesbah Yazdi, dikenal memiliki pandangan konservatif terhadap demokrasi Barat. Ia juga pernah mengeluarkan fatwa yang menyatakan Iran berhak memiliki “senjata khusus” yang sering diartikan sebagai senjata nuklir.
Peran Politik Mojtaba KhameneiSeiring berjalannya waktu, Mojtaba Khamenei semakin dikenal dalam dunia politik Iran. Meskipun tidak memiliki jabatan formal dalam pemerintahan, ia disebut memiliki pengaruh besar di sekitar kantor pemimpin tertinggi.
Dalam berbagai laporan, Mojtaba dikenal sebagai sekretaris, ajudan, sekaligus orang kepercayaan ayahnya. Ia juga kerap disebut sebagai gatekeeper, yaitu orang yang menjadi penghubung bagi pihak yang ingin menemui pemimpin tertinggi Iran.
Memasuki akhir 1990-an, Mojtaba mulai terlihat aktif dalam berbagai aktivitas politik. Ia kerap mendampingi ayahnya dalam berbagai peristiwa penting, termasuk ketika terjadi gelombang protes mahasiswa di Iran pada 1999.
Pada pemilu presiden Iran 2005, Mojtaba diduga memainkan peran penting dalam dinamika politik nasional. Ia awalnya disebut mendukung Mohammad Bagher Ghalibaf sebagai calon presiden.
Namun, kemudian dukungannya dialihkan kepada Mahmoud Ahmadinejad, seorang politikus konservatif yang pada akhirnya memenangkan pemilihan tersebut. Ahmadinejad kemudian menjabat sebagai Presiden Iran selama dua periode, yakni 2005-2009 dan 2009-2013.
Alasan Terpilihnya Mojtaba KhameneiSalah satu faktor yang membuat terpilihnya Mojtaba adalah kedekatan dengan Islamic Revolutionary Guard Corps. Pasukan tersebut dilaporkan mendukung Mojtaba sebagai pemimpin tertinggi berikutnya. Menurut sejumlah laporan media internasional, IRGC bahkan disebut telah berusaha memengaruhi Majelis Pakar untuk memilih Mojtaba.
Selain dikenal dekat dengan IRGC, Mojtaba juga memiliki pengaruh besar di Kantor Pemimpin Tertinggi selama kepemimpinan ayahnya. Faktor tersebut membuat namanya sering disebut sebagai kandidat paling kuat untuk memimpin Iran.




