Pendakwah Ustaz Adi Hidayat menyampaikan stabilitas suatu bangsa menurut Al-Qur’an harus ditopang oleh tiga unsur utama, yakni kekuatan spiritual, terpenuhinya kebutuhan ekonomi sehingga masyarakat tidak kelaparan, serta adanya rasa aman yang lahir dari kekompakan masyarakat.
Dalam tausiyah pada acara buka puasa bersama TNI-Polri, Adi Hidayat menjelaskan prinsip tersebut tercantum dalam Surah Al-Quraisy.
Menurut dia, ayat dalam surah tersebut menggambarkan tiga fondasi penting yang menentukan stabilitas sebuah bangsa sekaligus menjadi kunci pemulihan dari berbagai krisis.
“Di dalam surah Al-Quraisy, tiga algoritma ini ditampilkan dengan sangat terang, singkat, padat, dan jelas. Fal ya’budu rabba hazal-bait, kekuatan spiritual. Allazi at’amahum min ju’, stabilitas ekonomi, tak boleh ada yang lapar. Dan yang terakhir, Wa amanahum min khauf, kekompakan yang menjadikan jaminan rasa aman di lingkungan masyarakat itu dapat dirasakan,” ungkap Adi di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri, Jakarta Selatan, Rabu (11/3).
Ia mengatakan, pengalaman sejarah Indonesia menunjukkan bangsa ini pernah menghadapi berbagai krisis kompleks, mulai dari penjajahan hingga gejolak politik dan ekonomi.
“Kita punya pengalaman 350 tahun krisis yang sangat kompleks, ekonomi, politik, penjajahan. Kita baru lewati fase reformasi yang juga tidak begitu lama. Tapi atas berkat rahmat Allah Yang Mahakuasa, kita bisa dengan cepat pulih. Kita bisa dengan cepat memiliki semangat untuk membangun dan berkarya,” ujar dia.
Adi Hidayat menilai, prinsip-prinsip yang disebutkan dalam Al-Qur’an tersebut relevan untuk menjaga stabilitas dan mempercepat pemulihan bangsa dari berbagai tantangan.
Ia juga menilai momentum kebersamaan dalam acara buka puasa bersama TNI-Polri mencerminkan salah satu unsur penting dari stabilitas tersebut, yakni kekompakan yang menciptakan rasa aman di tengah masyarakat.
“Hari ini, ketiga unsur ini menyatu, diinisiasikan di Lapangan Bhayangkara Mabes Polri ini,” tuturnya.
Selain itu, Adi Hidayat menjelaskan ibadah puasa tidak hanya dimaknai sebagai ritual keagamaan, tetapi juga harus berdampak pada perilaku sosial yang lebih baik di masyarakat.
Ia mengutip hadis Nabi Muhammad SAW yang menekankan keberhasilan puasa terlihat dari kemampuan seseorang menahan diri dari perbuatan yang merusak hubungan sosial.
“Apa yang Nabi katakan? Puasa itu esensinya, yang berhasil menunaikan puasa itu, ketika ia mampu menghadirkan perisai pada dirinya, mencegah penyimpangan-penyimpangan yang ia bawa dalam konteks pengabdian sosial,” ungkap Adi Hidayat.
Menurutnya, puasa seharusnya mendorong umat untuk menjaga ucapan, menghindari provokasi, serta tidak terlibat dalam konflik yang dapat memecah belah masyarakat.
“Kata Nabi, jangan berkata yang kotor. Jangan bikin hoaks. Jangan bertindak sembrono,” kata Adi Hidayat.
Ia menambahkan, ketika seseorang menghadapi provokasi atau ajakan konflik, puasa justru menjadi pengingat untuk menahan diri.
“Jika ada yang provokasi. Jika ada yang ngajak-ngajak pecah belah. Jika ada yang ingin merusak. Jika ada yang ingin menghancurkan. Jika ada yang mengajak berkelahi. Tahan dirimu, buktikan engkau sedang puasa,” ungkapnya.
Ia pun juga mencontohkan momen yang terjadi saat aksi demonstrasi mahasiswa beberapa waktu lalu, di mana polisi yang berjaga mengenakan peci hingga sorban.
“Dihadapi oleh kawan-kawan Polri di lapangan itu, yang mengenakan peci, pakai sorban. Ternyata itulah inti puasa yang dipraktikkan. Dimaki dia tenang. Diprovokasi dia tenang,” ujar Adi Hidayat.
“Bahkan ada polwan yang berjilbab, yang dia kenakan syalnya, dituliskan kata-kata yang tak pantas untuknya, dia tidak bereaksi kecuali dengan kebaikan-kebaikan untuk membuktikan puasanya,” lanjutnya.
Menurutnya, itu adalah bentuk puasa yang sebenarnya. Adi juga mengatakan, bulan Ramadan menjadi waktu di mana orang meninggalkan hal-hal yang tidak baik.
“Tidak ada kriminalitas. Nabi katakan bagi makanan. Walaupun hanya seteguk air, walaupun hanya satu kurma, sifat sosial. Kita dilatih bersosial. Kita dilatih saling membantu. Kita dilatih meninggalkan segala hal-hal yang tidak pantas,” ungkap Adi Hidayat.
“Menariknya, algoritma ini menjadi rahmat di bulan puasa, saat orang-orang yang terbiasa berbuat salah pun, bisa libur dalam mengerjakan kesalahannya saat puasa,” tutup dia.





