Penulis: Fityan
TVRINews – Dubai
Ketegangan di Jalur Minyak Dunia Meningkat, Tiga Kru Kapal Thailand Dilaporkan Hilang
Eskalasi konflik di kawasan Teluk kian memanas setelah tiga kapal komersial dilaporkan terkena serangan proyektil misterius saat melintasi Selat Hormuz pada Rabu 11 maret 2026.
Insiden ini menambah daftar panjang gangguan keamanan maritim dengan total sedikitnya 14 kapal telah menjadi sasaran sejak pecahnya konflik di wilayah tersebut.
Lalu lintas pelayaran di jalur sempit yang krusial bagi distribusi energi global ini nyaris terhenti total. Kondisi ini terjadi menyusul dimulainya operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.
Terhambatnya jalur ini mengancam ekspor seperlima pasokan minyak mentah dunia, yang memicu lonjakan harga minyak global ke level tertinggi sejak tahun 2022.
Insiden Kapal Mayuree Naree
Dampak paling serius dialami oleh kapal curah kering berbendera Thailand, Mayuree Naree. Operator kapal, Precious Shipping,
mengonfirmasi bahwa armada mereka dihantam oleh dua proyektil yang belum diketahui asalnya. Ledakan tersebut memicu kebakaran hebat di ruang mesin.
"Tiga awak kapal dilaporkan hilang dan diyakini terjebak di ruang mesin," tulis pernyataan resmi Precious Shipping.
Pihak perusahaan menambahkan bahwa mereka tengah berkoordinasi dengan otoritas terkait untuk melakukan proses penyelamatan. Sementara itu, 20 awak kapal lainnya berhasil dievakuasi dengan selamat ke daratan Oman.
Dua Kapal Lain Alami Kerusakan Selain Mayuree Naree, dua kapal lainnya juga melaporkan serangan dalam waktu yang hampir bersamaan:
- ONE Majesty: Kapal kontainer berbendera Jepang ini terkena proyektil saat lego jangkar sekitar 25 mil laut dari pantai Uni Emirat Arab (UEA). Mitsui O.S.K. Lines menyatakan kerusakan terjadi di atas garis air, namun kapal tetap laik laut dan seluruh kru dalam kondisi aman.
- Star Gwyneth: Kapal curah berbendera Kepulauan Marshall ini mengalami kerusakan pada bagian palka saat berada di lepas pantai UEA. Pemilik kapal, Star Bulk Carriers, memastikan tidak ada cedera pada kru maupun kebocoran teknis.
Di tengah ancaman Garda Revolusi Iran yang akan menargetkan setiap kapal yang melintas, industri pelayaran internasional mendesak adanya pengawalan militer.
Namun, sumber yang dikutip dari Arab News menyebutkan bahwa Angkatan Laut AS sejauh ini enggan memberikan pengawalan harian karena risiko serangan yang dianggap terlalu tinggi.
Meski demikian, Presiden AS Donald Trump menyatakan kesiapan negaranya untuk memberikan pendampingan angkatan laut jika diperlukan, sembari mengancam akan meningkatkan serangan jika gangguan di Selat Hormuz terus berlanjut.
Editor: Redaksi TVRINews





