Jakarta (ANTARA) - Badan Pangan Nasional (Bapanas) memproyeksikan ketersediaan beras nasional mencapai sekitar 47 juta ton lebih sepanjang 2026, sebagai cerminan kondisi pasokan yang kuat dan surplus untuk memenuhi kebutuhan masyarakat dari produksi dalam negeri.
"Ketersediaan pangan nasional dipastikan dalam kondisi kuat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun," kata Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas Rachmi Widiriani di Jakarta, Rabu.
Dia menyebutkan berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Beras per 5 Maret 2026, Badan Pangan Nasional memperkirakan total ketersediaan beras nasional sepanjang tahun ini dapat mencapai sekitar 47,1 juta ton.
"Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia sepanjang 2026," ujarnya.
Baca juga: Akademisi: Ekspor beras 2.280 ton ke Arab, keberlanjutan swasembada
Ia menjelaskan kebutuhan beras masyarakat Indonesia relatif stabil setiap bulan, sehingga posisi stok nasional berada dalam kondisi aman.
"Kebutuhan beras per bulan masyarakat Indonesia, relatif stabil di angka 2,5 juta ton. Jadi untuk beras, Indonesia sudah surplus dan kita kuat," terang Rachmi.
Secara rinci, proyeksi total ketersediaan beras sebesar 47,1 juta ton berasal dari stok awal tahun yang diperkirakan mencapai 12,4 juta ton, ditambah dengan proyeksi produksi beras nasional tahun 2026 yang ditargetkan mencapai 34,7 juta ton.
Dengan total kebutuhan konsumsi nasional yang diperkirakan sekitar 31,1 juta ton, Indonesia diproyeksikan masih akan memiliki stok akhir tahun hingga 16 juta ton, sehingga memperkuat posisi ketersediaan beras nasional.
Kondisi itu sekaligus menegaskan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga, bahkan di tengah dinamika geopolitik global yang saat ini berkembang.
"Seperti yang beberapa kali Bapak Kepala Bapanas (Andi Amran Sulaiman) sampaikan, kita sudah mencukupi, kita surplus beras. Kemudian beberapa komoditas yang lain juga surplus, seperti telur ayam dan daging ayam," jelas Rachmi.
Bapanas menegaskan pemerintah terus memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga melalui penguatan produksi dalam negeri serta pengelolaan pasokan yang terencana.
Jika terdapat komoditas tertentu yang masih memerlukan tambahan pasokan dari luar negeri, kebijakan tersebut telah diperhitungkan sejak awal guna menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga di dalam negeri.
Baca juga: Bapanas pastikan beras ekspor ke Arab Saudi kantongi dokumen "HC"
"Jadi jangan khawatir untuk ketersediaan pangan saat ini. Kalau ada komoditas yang memang membutuhkan tambahan dari luar, misalnya bawang putih, maka itu sudah sejak awal diperkirakan," bebernya.
"Dihitung berapa kebutuhannya dan didatangkan dari luar sesuai dengan waktu kedatangan, diatur agar tadi harga di dalam negeri juga stabil," tambah Rachmi.
Secara terpisah, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menyampaikan sektor pangan menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kekuatan pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas negara.
"Bapak Presiden dari awal sudah sangat menekankan pentingnya soal swasembada pangan dan pada hari ini kita semua menjadi saksi hidup, saksi sejarah, betapa pentingnya persiapan yang sudah dilakukan dari satu tahun setengah yang lalu, ketika Bapak Presiden menjabat sebagai Presiden," kata Qodari.
Ia menambahkan, berbagai langkah penguatan ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah merupakan bagian dari strategi antisipatif dalam menghadapi potensi krisis global.
"Di tengah krisis, pada hari ini (pangan) kita boleh dibilang aman. Jadi Bapak Presiden Prabowo adalah sosok yang sangat visioner, mampu mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang akan terjadi di masa depan," katanya.
"Bapak Presiden Prabowo sudah berkali-kali, bertahun-tahun menegaskan tanpa pangan, tidak ada negara," tambah Qodari.
Baca juga: Pemerintah mulai salurkan bantuan beras-minyak goreng jelang Lebaran
Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi pangan nasional berada dalam keadaan aman dan terkendali, terutama untuk komoditas beras yang menjadi pangan pokok utama masyarakat.
“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Jadi Indonesia aman," kata Amran.
"Ketersediaan pangan nasional dipastikan dalam kondisi kuat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun," kata Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas Rachmi Widiriani di Jakarta, Rabu.
Dia menyebutkan berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Beras per 5 Maret 2026, Badan Pangan Nasional memperkirakan total ketersediaan beras nasional sepanjang tahun ini dapat mencapai sekitar 47,1 juta ton.
"Jumlah tersebut lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat Indonesia sepanjang 2026," ujarnya.
Baca juga: Akademisi: Ekspor beras 2.280 ton ke Arab, keberlanjutan swasembada
Ia menjelaskan kebutuhan beras masyarakat Indonesia relatif stabil setiap bulan, sehingga posisi stok nasional berada dalam kondisi aman.
"Kebutuhan beras per bulan masyarakat Indonesia, relatif stabil di angka 2,5 juta ton. Jadi untuk beras, Indonesia sudah surplus dan kita kuat," terang Rachmi.
Secara rinci, proyeksi total ketersediaan beras sebesar 47,1 juta ton berasal dari stok awal tahun yang diperkirakan mencapai 12,4 juta ton, ditambah dengan proyeksi produksi beras nasional tahun 2026 yang ditargetkan mencapai 34,7 juta ton.
Dengan total kebutuhan konsumsi nasional yang diperkirakan sekitar 31,1 juta ton, Indonesia diproyeksikan masih akan memiliki stok akhir tahun hingga 16 juta ton, sehingga memperkuat posisi ketersediaan beras nasional.
Kondisi itu sekaligus menegaskan ketersediaan pangan nasional tetap terjaga, bahkan di tengah dinamika geopolitik global yang saat ini berkembang.
"Seperti yang beberapa kali Bapak Kepala Bapanas (Andi Amran Sulaiman) sampaikan, kita sudah mencukupi, kita surplus beras. Kemudian beberapa komoditas yang lain juga surplus, seperti telur ayam dan daging ayam," jelas Rachmi.
Bapanas menegaskan pemerintah terus memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga melalui penguatan produksi dalam negeri serta pengelolaan pasokan yang terencana.
Jika terdapat komoditas tertentu yang masih memerlukan tambahan pasokan dari luar negeri, kebijakan tersebut telah diperhitungkan sejak awal guna menjaga keseimbangan pasokan dan stabilitas harga di dalam negeri.
Baca juga: Bapanas pastikan beras ekspor ke Arab Saudi kantongi dokumen "HC"
"Jadi jangan khawatir untuk ketersediaan pangan saat ini. Kalau ada komoditas yang memang membutuhkan tambahan dari luar, misalnya bawang putih, maka itu sudah sejak awal diperkirakan," bebernya.
"Dihitung berapa kebutuhannya dan didatangkan dari luar sesuai dengan waktu kedatangan, diatur agar tadi harga di dalam negeri juga stabil," tambah Rachmi.
Secara terpisah, Kepala Kantor Staf Kepresidenan (KSP) Muhammad Qodari menyampaikan sektor pangan menjadi salah satu prioritas utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, kekuatan pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas negara.
"Bapak Presiden dari awal sudah sangat menekankan pentingnya soal swasembada pangan dan pada hari ini kita semua menjadi saksi hidup, saksi sejarah, betapa pentingnya persiapan yang sudah dilakukan dari satu tahun setengah yang lalu, ketika Bapak Presiden menjabat sebagai Presiden," kata Qodari.
Ia menambahkan, berbagai langkah penguatan ketahanan pangan yang dilakukan pemerintah merupakan bagian dari strategi antisipatif dalam menghadapi potensi krisis global.
"Di tengah krisis, pada hari ini (pangan) kita boleh dibilang aman. Jadi Bapak Presiden Prabowo adalah sosok yang sangat visioner, mampu mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang akan terjadi di masa depan," katanya.
"Bapak Presiden Prabowo sudah berkali-kali, bertahun-tahun menegaskan tanpa pangan, tidak ada negara," tambah Qodari.
Baca juga: Pemerintah mulai salurkan bantuan beras-minyak goreng jelang Lebaran
Sebelumnya, Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman memastikan kondisi pangan nasional berada dalam keadaan aman dan terkendali, terutama untuk komoditas beras yang menjadi pangan pokok utama masyarakat.
“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir. Jadi Indonesia aman," kata Amran.





