Jakarta, CNBC Indonesia - Warga di ibu kota Iran, Teheran, kini menjalani kehidupan sehari-hari dalam bayang-bayang serangan udara yang terus mengguncang kota. Sekolah ditutup selama berhari-hari, banyak toko menghentikan operasional, dan sebagian masyarakat memilih tetap berada di rumah untuk menghindari risiko pemboman di tengah konflik yang melibatkan Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Meski hidup dalam ketidakpastian, sebagian warga berusaha menjalani hari seperti biasa. Mahvash, seorang warga Teheran berusia 70 tahun, mengatakan keluarganya hanya bisa bertahan dengan keyakinan dan rutinitas sederhana. Tuhan menjadi dasarnya.
"Kami telah menaruh kepercayaan kami kepada Tuhan," ujarnya, seperti dikutip AFP, Kamis (12/3/2026).
Untuk saat ini, makanan masih tersedia di toko-toko. Setiap hari saya membeli sayuran dan roti, hanya itu. Kami masih memiliki air dan listrik sehingga masih bisa hidup normal, alhamdulillah," tambahnya.
Sejak konflik meningkat, rutinitas normal nyaris hilang dari kota metropolitan yang padat penduduk tersebut. Ketidakpastian menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari karena warga tidak menerima peringatan sebelumnya ketika serangan udara menghantam ibu kota.
Untuk mengurangi dampak ledakan, banyak warga menempelkan lakban di jendela rumah mereka guna mencegah pecahan kaca beterbangan akibat tekanan bom. Sementara itu, pasukan keamanan terlihat berpatroli di berbagai ruas jalan menggunakan kendaraan lapis baja, dan anak-anak tidak lagi pergi ke sekolah karena banyak keluarga memilih berlindung di rumah.
"Orang-orang tenang," kata seorang warga yang tinggal di wilayah utara Teheran. Ia mengatakan masyarakat perlahan mulai terbiasa dengan situasi tersebut.
"Mereka mulai terbiasa hidup terlepas dari segalanya dan beradaptasi, sebisa mungkin, dengan kondisi ini," ujarnya.
Di jalanan Teheran, transportasi umum seperti bus masih beroperasi, tetapi sebagian besar dalam kondisi kosong karena warga membatasi aktivitas di luar rumah. Lalu lintas kota kini lebih banyak diisi kendaraan pengiriman barang menggunakan mobil van dan sepeda motor yang mengantar kebutuhan sehari-hari ke rumah-rumah warga.
Banyak pusat perbelanjaan dan toko tutup, meski biasanya periode ini menjadi salah satu musim paling sibuk menjelang perayaan Tahun Baru Persia, Nowruz, yang tinggal kurang dari dua minggu lagi. Meski demikian, toko bahan makanan dan toko roti tetap buka karena menjadi sumber utama kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun mengatakan dirinya sedikit lega karena serangan umumnya disebut menargetkan fasilitas keamanan atau militer. Namun dampaknya tetap dirasakan warga sekitar.
"Bayangkan sebuah kantor polisi di ujung jalan Anda terkena serangan. Semua jendela Anda pecah. Itulah yang dialami banyak orang," katanya, menambahkan bahwa suara ledakan bom juga menjadi sumber tekanan psikologis bagi warga.
Di tengah situasi tersebut, solidaritas sosial di lingkungan warga justru terlihat semakin kuat. Seorang perempuan berusia 70-an mengatakan banyak warga saling membantu, termasuk keluarga yang menawarkan tempat tinggal kepada tetangga yang rumahnya rusak akibat serangan.
Sementara itu, Adelshah Mansoori, warga Afghanistan yang bekerja di sebuah supermarket di Teheran, mengatakan banyak pelanggan kini memilih memesan barang untuk diantar ke rumah karena takut keluar.
"Sebagian besar orang tidak lagi berada di Teheran, mereka sudah pergi. Orang-orang yang masih tinggal sangat stres," katanya.
(sef/sef) Add as a preferred
source on Google




