Perang Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel kini mulai berdampak pada perekonomian sejumlah negara. Beberapa negara 'mengecangkan ikat pinggang' untuk menjaga terhindari krisis.
Dirangkum detikcom, Kamis (12/3/2026), negara-negara yang mulai melakukan kebijakan baru terkait perang Iran dan AS-Israel mayoritas berasal dari Asia. Kebijakan yang dilakukan mulai dari pengurangan jam masuk ke kantor hingga efisiensi bahan bakar.
Pakistan Tutup Sekolah 2 PekanPerdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif mengumumkan serangkaian kebijakan penghematan pada Senin (09/03) lalu. Mulai pekan depan, seluruh sekolah di Pakistan akan tutup selama dua minggu, berdampak pada sekitar 40 juta siswa. Perguruan tinggi dan universitas beralih ke kuliah daring selama periode yang sama.
Kantor pemerintah, kecuali perbankan, hanya akan beroperasi empat hari dalam sepekan, dengan separuh pegawai negeri bekerja dari rumah. Jatah bahan bakar untuk kendaraan dinas dipangkas setengahnya selama dua bulan, dengan pengecualian hanya berlaku untuk ambulans dan bus umum. Pembelian kendaraan dinas baru juga ditangguhkan hingga Juni 2026.
Di tingkat pejabat, para menteri kabinet dan penasihat pemerintah sepakat melepas gaji dan tunjangan mereka. Anggota legislatif federal mau pun daerah diharapkan memotong gaji secara sukarela sebesar 25%. Pemerintah juga melarang penyelenggaraan pesta makan malam buka puasa selama Ramadan.
Pakistan telah menaikkan harga bensin dan solar sebesar 55 rupee (sekitar Rp3.316) per liter, kenaikan terbesar dalam sejarah negara itu. Karena hampir seluruh kebutuhan energinya bergantung pada impor, inflasi di Pakistan sangat rentan terhadap fluktuasi harga bahan bakar global.
"Untuk menstabilkan ekonomi, kami telah mengambil keputusan-keputusan sulit," kata Sharif dalam pidatonya yang disiarkan televisi.
Thailand Terapkan WFH bagi Pegawai NegeriDi Thailand, Perdana Menteri Anutin Charnvirakul memerintahkan para pegawai negeri untuk bekerja dari rumah mulai Selasa (10/03), kecuali bagi mereka yang harus melayani masyarakat secara langsung.
Langkah lain yang diwajibkan antara lain mengatur suhu pendingin ruangan di kisaran 26-27 derajat Celsius, mengenakan kemeja lengan pendek sebagai pengganti pakaian formal, mematikan lampu dan peralatan listrik saat tidak digunakan, hingga menghindari penggunaan lift dan beralih ke tangga.
Perjalanan dinas ke luar negeri juga ditangguhkan. Pemerintah turut mengimbau masyarakat untuk melakukan carpooling guna mengurangi konsumsi bahan bakar.
Jika situasi semakin memburuk, pemerintah berencana menerapkan langkah yang lebih ketat, seperti meredupkan papan iklan di pertokoan, bioskop, dan gedung komersial, serta menutup SPBU pukul 22.00.
Thailand saat ini memiliki cadangan energi untuk sekitar 95 hari ke depan. Sebanyak 68% kebutuhan energinya dipasok dari gas alam, dan negara itu tengah mencari pasokan LNG tambahan dari Amerika Serikat, Australia, dan Afrika Selatan.
(ygs/ygs)





