JAKARTA, DISWAY.ID -- Lonjakan harga minyak dunia yang hampir menyentuh 120 dolar AS per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah mulai menjadi perhatian banyak negara, termasuk Indonesia.
Meski demikian, Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan pemerintah masih optimistis menghadapi tekanan tersebut.
Menurutnya, Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 dinilai masih cukup kuat untuk menahan dampak gejolak harga energi global.
BACA JUGA:Bazaar Lebaran Kemenperin, Berkah 1.000 Mushaf Alquran hingga 3 Ribu Liter Minyak Goreng
BACA JUGA:Gus Ipul Minta Sekolah Rakyat Permanen di Sigi dan Lombok Tengah Dipercepat
Purbaya menjelaskan, rata-rata harga minyak mentah sepanjang tahun ini masih berada di bawah asumsi yang digunakan dalam APBN.
Tercatat, hingga Februari 2026, realisasi Indonesian Crude Price (ICP) tercatat sebesar 68,8 dolar AS per barel.
"Ini sudah memasukkan kenaikan hingga US$120 per barel yang sebentar itu. Ini masih di bawah asumsi APBN sebesar US$70 per barel," kata Purbaya dalam konferensi pers di kantor Kemenkeu, Jakarta, Rabu 11 Maret 2026.
Ia mengungkapkan, harga minyak mentah Indonesia dalam APBN 2026 dipatok pada level 70 Dollar AS per barel, itu pun realisasinya masih dibawah rata-rata.
Mengacu itu, Purbaya menilai lonjakan harga minyak dunia saat ini belum memberikan dampak signifikan.
BACA JUGA:Prabowo Targetkan Danantara Setor Rp800 Triliun per Tahun ke Negara
BACA JUGA:Mendagri: Daerah yang Berhasil Lindungi Anak dari Dampak Media Sosial akan Dapat Insentif
Apalagi mengurangi subsidi bahan bakar minyak.
"Masih terdapat ruang fiskal untuk mengantisipasi kenaikan harga dalam pelaksanaan APBN 2026," ujarnya.
Ia menegaskan, rupiah masih realit dalam batas yang terkendali jika dibandingakn dengan mata uang negara kawasan.
- 1
- 2
- »




