Indeks bursa Wall Street di Amerika Serikat mayoritas ditutup turun pada perdagangan Rabu (11/3) waktu setempat. Penurunan terjadi karena investor terus mencermati perkembangan perang antara Amerika Serikat dan Iran serta lonjakan harga minyak.
Dow Jones Industrial Average merosot 289,24 poin atau 0,61% ke level 47.417,27. Sementara itu, S&P 500 turun tipis 0,08% ke level 6.775,80. Berbeda dengan dua indeks tersebut, Nasdaq Composite justru naik 0,08% dan berakhir di level 22.716,13.
Harga minyak melonjak tajam. Kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik lebih dari 4% dan ditutup di level US$ 87,25 per barel. Sementara itu, Brent crude menguat sekitar 4,8% dan mengakhiri perdagangan di level US$ 91,98 per barel.
Kenaikan harga minyak terjadi meskipun International Energy Agency (IEA) menyatakan akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangannya. Langkah ini menjadi pelepasan cadangan minyak terbesar sepanjang sejarah untuk mengatasi gangguan pasokan akibat konflik.
Chief Investment Officer Laird Norton Wetherby Ron Albahary menilai, langkah IEA belum sepenuhnya menyelesaikan persoalan yang dapat memengaruhi perekonomian global. Menurut dia, salah satu tantangan utama adalah aliran produk hasil penyulingan minyak yang melewati Selat Hormuz, seperti bahan bakar jet.
“Saya pikir pasar sedang bergulat dengan pertanyaan bagaimana jalan keluar dari situasi ini. Kedua pihak sudah bersikeras pada posisinya masing-masing, sehingga sulit melihat konflik ini akan berakhir positif dalam jangka pendek,” kata Albahary dikutip dari CNBC Internasional, Kamis (12/3).
Konflik tersebut berpotensi membuat harga minyak tetap tinggi. Pada Selasa, pasukan Amerika Serikat dilaporkan menenggelamkan beberapa kapal Iran, termasuk 16 kapal penebar ranjau, di dekat Selat Hormuz ketika Teheran berupaya menanam ranjau di jalur pelayaran strategis tersebut. Jalur ini menjadi salah satu rute penting yang memicu kekhawatiran terhadap pasokan minyak global.
Selain itu, United Kingdom Maritime Trade Operations pada Rabu (11/3), melaporkan ada tiga kapal kargo di lepas pantai Iran, salah satunya berada di Selat Hormuz, yang terkena serangan proyektil. Hal ini terjadi hanya beberapa hari setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan pada awal pekan ini bahwa perang akan segera berakhir dalam waktu sangat dekat.
Head of European Equity Strategy Barclays Emmanuel Cau mengatakan pernyataan Trump tersebut muncul setelah lonjakan volatilitas harga minyak yang sangat tajam. Menurut dia, kondisi ini dapat mengindikasikan bahwa ambang batas toleransi terhadap dampak ekonomi mulai tercapai.
“Semakin lama lonjakan harga minyak bertahan, semakin besar risiko penurunan terhadap laba perusahaan dan valuasi pasar,” kata Cau.
Sementara itu, data inflasi menunjukkan Consumer Price Index (CPI) naik 2,4% secara tahunan pada Februari. Angka ini sejalan dengan perkiraan para ekonom yang disurvei oleh Dow Jones.
Di sisi lain, saham Oracle menjadi salah satu saham yang naik. Saham perusahaan perangkat lunak ini melonjak 9% setelah laba dan pendapatan kuartal ketiga fiskalnya melampaui ekspektasi analis. Perusahaan juga menaikkan proyeksi pendapatan untuk tahun fiskal 2027.



