New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), di tengah harga minyak berjangka global yang melanjutkan tren kenaikannya sehingga menutupi laporan inflasi.
Mengutip Xinhua, Kamis, 12 Maret 2026, indeks dolar, yang mengukur nilai dolar AS terhadap enam mata uang utama lainnya, naik 0,41 persen menjadi 99,231.
Pada penutupan perdagangan di New York, euro turun menjadi USD1,1569 dari USD1,1644 pada sesi sebelumnya, dan poundsterling Inggris melemah menjadi USD1,3407 dari USD1,3460 pada sesi sebelumnya.
Dolar AS dibeli seharga 158,89 yen Jepang, lebih tinggi dari 157,63 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS menguat menjadi 0,7799 franc Swiss dari 0,7770 franc Swiss.
Mata uang Negeri Paman Sam itu juga menguat menjadi 1,3587 dolar Kanada dari 1,3570 dolar Kanada. Dolar AS naik menjadi 9,2301 krona Swedia dari 9,1371 krona Swedia.
Baca juga: Dolar AS Tergelincir setelah Berhari-hari Menguat Bersama Harga Minyak
(Dolar AS. Foto: Freepik)
Harga minyak melonjak lagi
Adapun harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) naik 4,55 persen pada perdagangan Rabu meskipun ada upaya intervensi besar-besaran dari Badan Energi Internasional (IEA).
Badan tersebut mengumumkan anggotanya akan melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan, menandai pelepasan strategis terbesar yang pernah dilakukan. Ini sebagai upaya langsung untuk mengurangi gangguan pasokan parah yang dipicu oleh konflik yang sedang berlangsung.
Di bidang ekonomi, indeks harga konsumen (CPI) di AS meningkat sebesar 0,3 persen setelah disesuaikan secara musiman untuk bulan tersebut, sehingga tingkat inflasi 12 bulan menjadi 2,4 persen (yoy), menurut data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS. Kedua angka tersebut sesuai dengan perkiraan konsensus yang berlaku.
CPI inti, yang tidak termasuk harga makanan dan energi yang fluktuatif, mencatat kenaikan bulanan sebesar 0,2 persen dan tingkat tahunan sebesar 2,5 persen, juga sejalan dengan perkiraan para ekonom.
Sementara itu, Departemen Keuangan AS melaporkan defisit anggaran federal melampaui USD1 triliun untuk tahun fiskal hingga Februari. Namun, data tersebut menunjukkan angka tersebut jauh lebih rendah jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.




