Jakarta (ANTARA) - Ketua DPRD Provinsi DKI Jakarta Khoirudin meminta Refuse Derived Fuel (RDF) di Rorotan, Jakarta Utara, agar dioptimalkan karena volume sampah Jakarta besar dan menuntut adanya solusi jangka panjang dan sistem pengelolaan yang lebih modern.
"Jakarta memproduksi sekitar 8.700 ton sampah setiap hari. Jika tidak disiapkan solusi permanen, maka risiko seperti longsor di TPST Bantargebang bisa terus berulang," kata Khoirudin di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, RDF Rorotan harus dioptimalkan pengelolaan sampah di Jakarta, apalagi pada beberapa waktu lalu terjadi peristiwa longsor tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang menelan korban.
Untuk itu, Khoirudin menilai pengembangan fasilitas RDF menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang yang saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas.
Khoirudin menegaskan bahwa volume sampah Jakarta yang sangat besar menuntut adanya solusi jangka panjang dan sistem pengelolaan yang lebih modern.
"Pemerintah telah menganggarkan dana triliunan rupiah untuk pembangunan fasilitas RDF agar pengolahan sampah Jakarta berjalan maksimal, aman bagi lingkungan, dan berkelanjutan," ujarnya.
Baca juga: Pemprov DKI operasikan RDF Rorotan pascalongsor TPST Bantargebang
Pembangunan fasilitas RDF merupakan bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah Jakarta. Saat ini, RDF Rorotan masih beroperasi secara bertahap dengan kapasitas pengolahan sekitar 700 ton sampah per hari, dan ditargetkan meningkat hingga 2.500 ton per hari setelah operasional berjalan optimal serta seluruh sistem pendukung terpenuhi.
"Fasilitas RDF seperti di Rorotan ini adalah bagian dari solusi jangka panjang. Jika dibangun di beberapa titik, kita bisa mengurangi beban sampah ke Bantargebang hingga sekitar 30 persen," ujarnya.
Saat berkunjung ke RDF Rorotan beberapa waktu lalu, dirinya menerima paparan dari pengelola terkait sejumlah tantangan operasional RDF, mulai dari proses pengangkutan sampah hingga pengendalian dampak lingkungan seperti bau dan emisi.
"Masalah sampah adalah tanggung jawab bersama. Saya mengajak seluruh warga Jakarta untuk mulai memilah sampah dari rumah, karena pengelolaan yang baik di hulu akan menentukan keberhasilan sistem pengolahan sampah di hilir," katanya.
Baca juga: Jakarta perlu terapkan hari pengambilan sampah sesuai jenis
Baca juga: DKI perketat pemilahan sampah, kurangi pengiriman ke Bantargebang
"Jakarta memproduksi sekitar 8.700 ton sampah setiap hari. Jika tidak disiapkan solusi permanen, maka risiko seperti longsor di TPST Bantargebang bisa terus berulang," kata Khoirudin di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, RDF Rorotan harus dioptimalkan pengelolaan sampah di Jakarta, apalagi pada beberapa waktu lalu terjadi peristiwa longsor tumpukan sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang yang menelan korban.
Untuk itu, Khoirudin menilai pengembangan fasilitas RDF menjadi salah satu langkah strategis dalam mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap TPST Bantargebang yang saat ini telah mengalami kelebihan kapasitas.
Khoirudin menegaskan bahwa volume sampah Jakarta yang sangat besar menuntut adanya solusi jangka panjang dan sistem pengelolaan yang lebih modern.
"Pemerintah telah menganggarkan dana triliunan rupiah untuk pembangunan fasilitas RDF agar pengolahan sampah Jakarta berjalan maksimal, aman bagi lingkungan, dan berkelanjutan," ujarnya.
Baca juga: Pemprov DKI operasikan RDF Rorotan pascalongsor TPST Bantargebang
Pembangunan fasilitas RDF merupakan bagian dari transformasi sistem pengelolaan sampah Jakarta. Saat ini, RDF Rorotan masih beroperasi secara bertahap dengan kapasitas pengolahan sekitar 700 ton sampah per hari, dan ditargetkan meningkat hingga 2.500 ton per hari setelah operasional berjalan optimal serta seluruh sistem pendukung terpenuhi.
"Fasilitas RDF seperti di Rorotan ini adalah bagian dari solusi jangka panjang. Jika dibangun di beberapa titik, kita bisa mengurangi beban sampah ke Bantargebang hingga sekitar 30 persen," ujarnya.
Saat berkunjung ke RDF Rorotan beberapa waktu lalu, dirinya menerima paparan dari pengelola terkait sejumlah tantangan operasional RDF, mulai dari proses pengangkutan sampah hingga pengendalian dampak lingkungan seperti bau dan emisi.
"Masalah sampah adalah tanggung jawab bersama. Saya mengajak seluruh warga Jakarta untuk mulai memilah sampah dari rumah, karena pengelolaan yang baik di hulu akan menentukan keberhasilan sistem pengolahan sampah di hilir," katanya.
Baca juga: Jakarta perlu terapkan hari pengambilan sampah sesuai jenis
Baca juga: DKI perketat pemilahan sampah, kurangi pengiriman ke Bantargebang





