Bisnis.com, SURABAYA – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan musim kemarau di wilayah Jawa Timur pada 2026 akan berlangsung lebih kering bila dibandingkan periode normal tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut dipicu oleh menguatnya fenomena El Nino.
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas II Jawa Timur Anung Suprayitno menyebut dinamika atmosfer menunjukkan adanya transisi dari kondisi normal menuju El Nino kategori lemah hingga moderat. Perubahan itu diprediksi mulai terjadi setelah pertengahan 2026.
"El Nino-Southern Oscillation (ENSO) dan Indian Ocean Dipole (IOD) diprediksi pada kondisi netral hingga pertengahan tahun 2026. Selanjutnya, El Nino menguat menjadi kategori lemah hingga moderat hingga akhir tahun 2026 dengan peluang sebesar 50-60%. Kondisi ini menyebabkan musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur berpotensi lebih kering,” beber Anung, Kamis (12/3/2026).
Berdasarkan pemetaan 74 Zona Musim (ZOM) di Jawa Timur, awal musim kemarau diperkirakan mulai masuk secara bertahap. Mayoritas wilayah Jawa Timur atau sekitar 56,9% diprediksi baru akan memasuki musim kemarau pada Mei 2026. Sementara, 26 ZOM lainnya dimulai pada April 2026 dan 5 ZOM sisanya pada Juni 2026.
BMKG juga mencatat adanya pergeseran periode mulainya musim kemarau bila dibandingkan dengan rata-rata klimatologis sejak periode 1991-2020. Anung menyebut, hampir separuh wilayah Jawa Timur diprediksi akan mengalami keterlambatan.
“Perbandingan awal musim Kemarau dengan normalnya diprediksi mundur di 36 ZOM atau 46,2% dari luas wilayah Jawa Timur, 23 ZOM Sama, dan 15 ZOM Maju,” tambahnya.
Lebih lanjut, Anung mengungkapkan musim kemarau 2026 diprediksi akan berlangsung cukup panjang. Sebanyak 23% wilayah Jatim akan mengalami masa kering selama 22 hingga 24 dasarian atau setara 7 hingga 8 bulan. Puncak kekeringan diprediksi akan melanda mayoritas wilayah Jatim pada Agustus 2026 mendatang.
“Puncak musim kemarau 2026 diprediksi dominan terjadi pada Agustus 2026 sebanyak 53 ZOM atau 70,9% dari luas wilayah Jawa Timur dan puncak musim kemarau paling awal terjadi pada Juli 2026 sebanyak 15% wilayah Jawa Timur,” lanjut paparnya.
Dengan sifat hujan yang diprediksi di bawah normal pada 56 ZOM, BMKG pun mengeluarkan rekomendasi strategis terhadap sektor pangan dan sumber daya air. Masyarakat dan pemerintah daerah diminta untuk melakukan langkah antisipasi guna mencegah gagal panen dan paceklik air bersih.
“Untuk menjaga produktivitas dan mengurangi risiko gagal panen, perlunya penyesuaian varietas padi umur pendek yang tahan kering dan penyesuaian kalender tanam dari tanaman padi ke palawija,” sebutnya.
Selain itu, Anung juga menyarankan pengisian segenap waduk secara maksimal pada akhir musim hujan guna mencukupi kebutuhan konsumsi, irigasi, serta pembangkit listrik.
Di sisi lain, Anung mengatakan, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius yang sudah sepatutnya direncanakan penanggulangannya sejak dini.
Sebagai langkah mitigasi dampak ekonomi bagi petani dan nelayan, BMKG mendorong adanya diversifikasi usaha, termasuk optimalisasi produksi garam rakyat yang biasanya meningkat saat cuaca terik.
“BMKG menghimbau agar informasi Prediksi Musim Kemarau 2026 ini dijadikan sebagai bentuk peringatan dini (early warning), untuk dimanfaatkan oleh para pemangku kepentingan dalam aksi dini (early action),” pungkasnya.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5392680/original/002485800_1761486231-570624768_18084026864504418_4368634468269805834_n.jpg)


