Mengintip Prospek Komoditas Emas dan Minyak Mentah di Tengah Gejolak Geopolitik

katadata.co.id
3 jam lalu
Cover Berita

Prospek harga komoditas emas dan minyak mentah diperkirakan akan bergerak volatil di tengah ketidakpastian global, polemik politik serta arah kebijakan moneter sepanjang tahun ini. Kendati bergerak volatil, analis menilai kedua komoditas ini masih memiliki prospek cerah. 

Analis dari Research and Development ICDX Tiffani Safinia memproyeksikan harga emas spot akan naik sekitar US$ 5.500 hingga US$ 6.000 per troy ons pada tahun ini. 

Proyeksi tersebut sejalan dengan sejumlah perkiraan lembaga keuangan global seperti Goldman Sachs Group Inc yang merevisi target harga emas dari US$ 4.900 per troy ons menjadi US$ 5.400. Selain itu J.P Morgan yang mematok target emas ke level US$ 6.300 per troy ons sementara Morgan Stanley menempatkan target US$ 4.600 sampai US$ 5.700 per troy ons sampai akhir tahun ini.

“Itu pun juga sambil melihat untuk pergerakan arah kedepannya seperti apa, arah kebijakan monitor, dinamika politiknya seperti apa,” ujar Tiffany dalam acara ICDX Commodity Outlook di Jakarta, Rabu (11/3).

Menurut Tiffany, potensi kenaikan target harga emas yang ditetapkan lembaga keuangan tersebut didorong oleh risiko geopolitik global yang persisten serta permintaan struktural dari bank sentral. Bank sentral diperkirakan akan mengakumulasi emas lebih agresif dari tahun sebelumnya.

Adapun harga logam mulia ini tercatat turun 1,17% ke level US$ 5.172 per troy ons per Rabu (11/3) pukul 22.20 waktu bagian New York. kendati demikian, harga emas spot sudah melonjak 6,20% selama satu bulan ke belakang.

Tiffany juga mengatakan potensi harga emas mencapai level tertinggi baru atau all time high masih terbuka, meskipun pergerakannya kemungkinan lebih bergejolak dibandingkan tahun sebelumnya. Hal ini disebabkan pasar masih mencermati perkembangan konflik geopolitik serta arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat.

Pada tahun 2025, harga emas mencetak 53 kali ATH, paling banyak selama beberapa dekade terakhir. Lonjakan harga emas tahun lalu ditopang oleh perannya sebagai aset safe haven (lindung nilai) dan instrumen diversifikasi yang relevan di tengah ketidakpastian global.

Ia menilai emas tetap menjadi instrumen safe haven yang diminati investor ketika ketidakpastian global meningkat. Meski demikian, emas tetap memiliki risiko koreksi sehingga investor diimbau untuk tidak berinvestasi secara emosional.

Investor juga disarankan menentukan profil risiko dan tujuan investasi sejak awal, baik untuk jangka pendek, menengah, maupun panjang. Selain itu, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan data ekonomi global serta kebijakan moneter yang dapat memengaruhi pergerakan harga emas.

Prospek Minyak Mentah di Tengah Eskalasi Geopolitik

Selain emas, komoditas yang sensitif terhadap isu geopolitik adalah minyak mentah. Research and Development ICDX Girta Putra Yoga menyatakan prospek minyak mentah hingga 2026 masih diperkirakan cenderung positif. Pergerakan harga minyak diperkirakan tetap fluktuatif dalam jangka pendek, bahkan dapat bergerak berlawanan arah dengan emas pada periode tertentu.

“Penegasan komitmen dari aliansi produsen OPEC yang menyatakan akan mempertahankan produksi sampai Desember 2026 menjadi katalis pemicu yang mengangkat kembali harga minyak mentah,” kata Girta.

Dia menjelaskan, lonjakan harga minyak dalam beberapa pekan ke belakang dipicu oleh ketegangan geopolitik yang mewarnai pembukaan 2026. Mulai dari penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh militer AS, keinginan Presiden AS Donald Trump untuk mengakuisisi Greenland dari Denmark serta dimulainya perang AS-Israel melawan Iran yang semakin bergejolak.

Kondisi tersebut mendorong harga minyak mentah kembali naik hingga menyentuh US$ 109 per barel, dari sebelumnya di level US$ 57 per barel pada awal Januari 2026.

Di tahun ini, Girta memandang harga minyak mentah masih berpotensi kuat untuk melaju bullish hingga paruh kedua tahun ini. Hal tersebut dipantau dari situasi dan perkembangan yang ada di pasar saat ini.

Dia memperkirakan level resistance (batas atas) harga minyak mentah akan berada di kisaran harga US$ 95 - US$ 100 per barel, dan level support (batas bawah) di kisaran harga US$ 80 - US$ 75 per barel. 

“Indikator yang dipantau masih akan terfokus pada perkembangan situasi di Timur Tengah, terutama perang AS – Iran, kebijakan produksi OPEC+, dan kebijakan tarif dagang Trump,” kata dia.

Sebelumnya, Kementerian ESDM atau Energi dan Sumber Daya Mineral menetapkan rata-rata harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) US$ 68,79 per barel pada Februari, atau naik 6,8% dibandingkan Januari US$ 64,41 per barel.  

Penetapan itu tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 115.K/MG.03/MEM.M/2026 tentang Harga Minyak Mentah Bulan Februari 2026.

Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Migas) Laode Sulaiman mengatakan kenaikan ICP atau harga minyak mentah Indonesia dipengaruhi oleh sejumlah faktor yang berkembang di pasar minyak global, salah satunya perang di kawasan Timur Tengah. 

“Ketegangan geopolitik tersebut memicu berbagai respons kebijakan. Aktivitas militer di kawasan strategis, termasuk latihan militer di wilayah perairan Timur Tengah yang berpotensi mempengaruhi jalur distribusi energi global,” ujar Laode dalam siaran pers, dikutip Kamis (12/3).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Dirut PT Agrinas Tak Hadir, Komisi VI DPR Putuskan Tunda Rapat untuk Bahas Program Gerai Koperasi Desa Merah Putih
• 7 jam lalujpnn.com
thumb
Banser Geruduk KPK Saat Eks Menag Yaqut Diperiksa sebagai Tersangka Korupsi Kuota Haji
• 7 menit laluliputan6.com
thumb
Menpora Erick Thohir Kutuk Pelecehan Seksual Atlet: Itu Perbuatan Jahanam!
• 9 jam lalumatamata.com
thumb
Wanita di Tangerang Diserang Rampok Usai Sahur, Emas 65 Gram Dicuri
• 18 jam laludetik.com
thumb
Satu Tahun Danantara Indonesia, Perkuat Fondasi untuk Masa Depan Generasi Indonesia
• 4 jam laluidxchannel.com
Berhasil disimpan.