Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin berkomentar soal posisi TNI yang akan jadi Wakil Komandan International Stabilization Force (ISF). Kata Sjafrie, posisi itu bisa dicapai karena sejumlah perwira tinggi TNI punya potensi level internasional.
"Potensi dari perwira-perwira kita itu achieve. Jadi potensi dan achievement itu akan kita tunjukkan secara internasional. Makanya kita mengusulkan bahwa ada perwira tinggi kita yang bisa ikut mendampingi di dalam ISF," kata Sjafrie, usai bertemu Menhan Australia, Richard Marles, di Kemhan, Kamis (12/3).
Tapi, Sjafrie enggan menjawab sosok perwira yang akan memimpin pasukan itu.
"Jangan dulu dong. Itu kan urusannya Panglima," ucap Sjafrie.
Rencana Pengiriman Pasukan TerkiniBagaimana dengan rencana pengiriman pasukan terkini? Sjafrie menjelaskan, Indonesia masih menanti perkembangan dari Board of Peace (BoP) terkini yang terpengaruh konflik Amerika Serikat-Israel dan Iran.
"Saya kira kita semua ikuti perkembangan secara global antara Israel, Amerika Serikat, dan Iran. Itu cukup banyak kita lihat laporan-laporan yang memerlukan perhatian khusus," ucap Sjafrie.
Mau bagaimanapun, kata Sjafrie, penerjunan pasukan ke mana pun, yang dibawa adalah kepentingan nasional.
"Sikap Indonesia adalah yang pertama adalah kepentingan nasional. Kepentingan nasional ini adalah amanat dari konstitusi kita, yaitu kita harus melindungi tumpah darah Indonesia," ucap Sjafrie.
Sebetulnya, saat ini, pasukan yang akan berangkat sudah siap.
"Presiden sudah menginstruksikan kepada kami untuk mempersiapkan pasukan, dan ini sedang, sudah, dan kita siap untuk berangkat, tetapi kita menunggu perkembangan dari BOP," tutup Sjafrie.





