Impor Minyak Mentah RI Mayoritas dari Afrika

wartaekonomi.co.id
2 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Di tengah eskalasi konflik yang terus memanas di kawasan Timur Tengah, muncul kekhawatiran di tengah masyarakat terkait ancaman kelangkaan dan lonjakan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) di dalam negeri. 

Kekhawatiran ini sering kali muncul, karena asumsi kebutuhan minyak Indonesia sangat bergantung pada negara-negara Arab.

Namun, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melaporkan, justru mayoritas pasokan minyak mentah Indonesia tidak berasal dari Timur Tengah, melainkan dari Benua Afrika.

Hal tersebut diungkapkan oleh Anggota Komite BPH Migas Fathul Nugroho, dalam acara Energy Iftar Forum 2026 di Jakarta. 

Ia menegaskan, ancaman penutupan jalur distribusi utama seperti Selat Hormuz oleh Iran, bukanlah masalah besar yang harus ditakuti secara berlebihan oleh masyarakat Indonesia.

“Sekarang sekitar 19 persen impor minyak mentah Indonesia berasal dari Saudi Arabia (Timur Tengah)."

"Kendati demikian, pemerintah sudah menyiapkan langkah preventif dengan mengimpor minyak dari negara yang tidak terdampak konflik,” ungkap Fathul.

Dari Mana Saja Indonesia Mengimpor Minyak?

Untuk memberikan gambaran yang jelas kepada publik, Fathul membeberkan porsi asal negara impor minyak mentah Indonesia berdasarkan data periode April 2025 hingga Maret 2026.

Nigeria (Afrika): Menjadi pemasok utama dengan volume 34,07 juta barel, atau mendominasi 25 persen dari total impor.

Angola (Afrika): Menyumbang 28,50 juta barel, setara dengan 21 persen dari total impor.

Arab Saudi (Timur Tengah): Berada di posisi ketiga dengan volume 28,50 juta barel, atau sekitar 19 persen.

Negara Lainnya: Memasok sisanya sebesar 47,40 juta barel atau sekitar 35 persen.

“Artinya kita lebih banyak mengimpor dari negara yang tidak terlibat konflik."

"Pasokan BBM Indonesia dipastikan tetap aman,” ujar Fathul.

Luruskan Kesalahpahaman soal "Stok Hanya Cukup 20 Hari"

Selain masalah negara asal impor, BPH Migas juga meluruskan persepsi keliru di tengah masyarakat, mengenai informasi yang menyebut cadangan BBM nasional hanya cukup untuk 20 hari ke depan.

Menurut Fathul, angka 20 hari tersebut bukan berarti stok BBM Indonesia menipis atau akan habis.

Angka itu muncul murni karena keterbatasan daya tampung tangki penyimpanan (storage) yang ada di dalam negeri.

Saat ini, kapasitas penyimpanan BBM nasional terbagi menjadi dua:

Fasilitas milik Pertamina dengan kapasitas 6,10 juta Kiloliter (KL) atau menguasai 67 persen.

Fasilitas Non-Pertamina dengan kapasitas 3,06 juta KL atau sebesar 33 persen.

Karena kapasitas tangki yang terbatas, BBM yang datang tidak bisa langsung ditimbun dalam jumlah masif untuk berbulan-bulan ke depan, melainkan terus berputar melalui manajemen rantai pasok yang terjadwal.

“Hingga saat ini, cadangan operasional BBM Indonesia tergolong aman, bahkan diproyeksikan aman hingga setelah momentum Ramadhan dan Idul Fitri 2026,” tutur Fathul.

Baca Juga: Negara Siap Tanggung Selisih, Harga BBM Subsidi Tetap

Dengan terbukanya informasi ini, pemerintah meminta masyarakat tetap tenang, tidak panik (panic buying), dan bijak dalam merespons dinamika geopolitik global.

Pemerintah bersama pelaku industri terus berkolaborasi memastikan ketahanan energi nasional tetap terjaga. (*)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
1 Tahun Danantara, Presiden Prabowo Targetkan ROA 10 Persen
• 23 jam lalutvrinews.com
thumb
Polisi: Rismon Sianipar Ajukan Restorative Justice Kasus Ijazah Palsu Jokowi
• 18 jam lalukumparan.com
thumb
DPR Mulai Bahas RUU Hukum Perdata Internasional, Pakar Singgung soal Konser
• 2 jam laludetik.com
thumb
Ramalan Shio Karier 12 Maret 2026: Naga, Ayam, Babi, Tikus dan Monyet
• 16 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Komdigi Ajak Orang Tua dan Sekolah Perkuat Perlindungan Anak di Dunia Digital
• 13 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.