JAKARTA, KOMPAS.com - Seorang karyawan swasta bernama Jeje (23) mengaku merasakan fenomena yang belakangan ramai disebut sebagai “krisis ojol”, yakni sulitnya mendapatkan pengemudi ojek online (ojol) pada jam-jam sibuk, khususnya sore hari menjelang waktu berbuka puasa.
Kondisi tersebut bahkan membuat pesanan ojolnya berkali-kali dibatalkan oleh pengemudi.
"Pernah menunggu sampai 20 menit, dan di-cancel sama driver tiga kali sebelum ada yang ngambil. Ini posisinya saya mau pulang dari mal dan udah malem banget, jadi jujur agak takut," ungkap Jeje saat dihubungi Kompas.com, Kamis (12/3/2026).
Baca juga: Ramai Thrifting Baju Lebaran di Pasar Senen, Dokter Ingatkan Risiko Kesehatan
Padahal, dalam kondisi normal, ia biasanya hanya membutuhkan waktu sekitar 3 hingga 5 menit untuk mendapatkan pengemudi.
Selain waktu tunggu yang menguras kesabaran, ia juga mengeluhkan pembatalan berulang yang berimbas pada melonjaknya tarif di aplikasi.
"Pas dapat malah harganya nambah, bisa naik Rp 3.000. Bahkan pernah dari awalnya Rp 19.000 gara-gara di-cancel terus akhirnya dapat di Rp 26.000," ucapnya.
Senada dengan Jeje, Ilham (26), warga Cengkareng yang memiliki usaha restoran dengan layanan pesan antar daring, juga mengaku sempat kesulitan mendapatkan pengemudi ojol.
Ia menilai, durasi pencarian pengemudi ojol untuk mengantarkan makanan ke konsumen sering kali melebihi estimasi waktu yang tertera di aplikasi.
"Ngerasain susah juga, biasanya dari makanan sebelum jadi udah dapet, ini sampai makanannya yang nunggu driver gitu," ucap Ilham.
Setelah mendapatkan pengemudi pun, biasanya pengemudi tersebut mengantarkan dua pesanan atau lebih sekaligus.
Hal ini pun berdampak pada durasi waktu antar dan kualitas makanan yang sudah menurun saat diterima oleh pembeli.
"Malah kadang ada yang pakai prioritas itu kan bayar lebih, harusnya dia anternya cuma satu, tapi driver dateng bawa satu lagi. Jadinya makin lama sampai ke customer, udah dingin pas nyampe," kata dia.
Baca juga: 27 Lapangan Padel di Jakarta Timur Tak Berizin, Penyegelan Mulai Dilakukan
Di sisi lain, meski menjadi pihak yang merasa dirugikan secara waktu dan biaya, para konsumen mengaku paham dengan kondisi yang dihadapi para pengemudi ojol.
Bagi Jeje, tarif ojol dari kacamata konsumen sebenarnya masih dalam batas wajar meski mulai mengalami kenaikan dibanding beberapa tahun lalu.
Menanggapi keluhan para konsumen, Yanto (42), seorang pengemudi ojol yang kerap mangkal di wilayah Palmerah, Jakarta Barat, membenarkan bahwa banyak rekan seprofesinya memilih mematikan aplikasi atau off bid pada jam-ham tertentu.





