Kasus Kanker Paru Bergeser ke Usia Muda, Dokter Ingatkan Deteksi Dini

kumparan.com
7 jam lalu
Cover Berita

Di tengah aktivitas yang semakin padat, tak sedikit orang tanpa sadar melupakan kebiasaan sederhana yang sebenarnya penting untuk menjaga kesehatan. Mulai dari rutin berolahraga hingga menjaga pola makan seimbang yang sering terabaikan karena kesibukan sehari-hari.

Padahal, berbagai studi menunjukkan bahwa kebiasaan tersebut berperan besar dalam menurunkan risiko berbagai penyakit serius, termasuk kanker. Saat ini bahkan muncul tren yang cukup mengkhawatirkan, yaitu meningkatnya kasus kanker paru pada kelompok usia yang lebih muda.

Kanker paru kini tidak lagi identik dengan kelompok usia lanjut atau perokok berat. Saat ini, semakin banyak dokter mendiagnosis penyakit tersebut pada individu berusia 30 hingga 40 tahun, termasuk mereka yang bukan perokok.

Temuan ini juga diperkuat oleh sebuah studi selama 18 tahun yang dilakukan di RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar pada 2002-2019. Penelitian tersebut menunjukkan bahwa hampir 63 persen kasus kanker terjadi pada individu berusia 30-59 tahun. Hal ini menegaskan bahwa kanker kini semakin banyak menyerang kelompok usia produktif di Indonesia.

“Meskipun merokok masih menjadi faktor risiko utama, kami semakin sering menemukan pasien berusia lebih muda dan pasien yang tidak memiliki riwayat merokok. Faktor risiko seperti perokok pasif, polusi udara, paparan di tempat kerja, serta faktor genetika adalah kontributor penting yang tidak boleh diabaikan,” kata Dr. Tanujaa Rajasekaran, Konsultan Senior, Onkologi Medis PCC dalam sesi media briefing bertajuk “Pergeseran Demografi Kanker di Indonesia: Kanker Paru pada Usia Produktif” yang digelar di kantor Maverick Indonesia beberapa waktu lalu.

Menurut Tanujaa, salah satu tantangan terbesar dalam penanganan kanker paru adalah keterlambatan diagnosis. Sebab, gejala awal seperti batuk berkepanjangan, kelelahan, nyeri dada, atau sesak napas sering kali dianggap sebagai penyakit ringan.

"Deteksi dini secara signifikan meningkatkan hasil pengobatan," tambah Tanujaa.

Ketika gejala berlangsung lebih dari beberapa minggu, kondisi tersebut tidak boleh dianggap sepele. Pemeriksaan dan evaluasi yang dilakukan lebih awal dapat memberikan perbedaan besar terhadap peluang kesembuhan serta kualitas hidup pasien.

Kabar baiknya, pengobatan kanker paru saat ini juga terus berkembang. Dalam dua dekade terakhir, pendekatan pengobatan tidak lagi hanya mengandalkan kemoterapi. Kini, terapi yang diberikan semakin terpersonalisasi sesuai dengan jenis, stadium, serta profil genetik kanker yang dimiliki pasien.

Berbagai inovasi medis juga mulai memberikan harapan baru bagi pasien. Teknologi seperti imunoterapi dan terapi radiasi proton, misalnya, menjadi salah satu terobosan penting dalam pengobatan kanker paru.

Imunoterapi bekerja dengan membantu sistem kekebalan tubuh mengenali dan menyerang sel kanker, sementara terapi proton memungkinkan radiasi diarahkan secara lebih presisi sehingga kerusakan pada jaringan sehat di sekitarnya dapat diminimalkan.

"Pengobatan yang terpersonalisasi memungkinkan kami memilih terapi yang lebih efektif dan lebih dapat ditoleransi, khususnya bagi pasien di usia produktif yang harus menyeimbangkan pengobatan dengan tanggung jawab keluarga dan pekerjaan," beber Tanujaa.

Selain perawatan medis, dukungan emosional bagi pasien dan keluarga juga menjadi bagian penting dalam proses pengobatan. Melalui layanan konseling dan dukungan kanker nirlaba CanHOPE, PCC menyediakan pendampingan bagi pasien serta caregiver di berbagai kota di Indonesia.

"Diagnosis kanker berdampak jauh melampaui kesehatan fisik," ujar perwakilan CanHOPE Indonesia. "Selama bertahun-tahun, kami melihat bahwa ketahanan emosional dan dukungan pendamping pasien sama pentingnya dengan perawatan klinis. Komitmen kami adalah memastikan tidak ada pasien yang menghadapi kanker seorang diri."

Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan,Tanujaa juga menekankan pentingnya menjaga pola makan sehat dalam kehidupan sehari-hari. “Tidak ada yang namanya superfood. Jadi pesannya selalu konsumsi balanced diet. Jadi jumlah buah, sayur, daging itu harus diperhatikan,” imbuhnya.

Menurut Tanujaa, selain memperhatikan asupan makanan sehat, rutin berolahraga juga menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan tubuh.

"Banyak studi menunjukkan pentingnya latihan atau olahraga. Penelitian juga menemukan bahwa orang yang rutin berolahraga memiliki risiko terkena kanker lebih rendah dibandingkan mereka yang jarang berolahraga," tandasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Geruduk Gedung Sate Temui Dedi Mulyadi, Ibu-ibu Beberkan Penyebab Awal Pencabutan Izin SMK IDN Bogor
• 22 jam lalutvonenews.com
thumb
Performanya dengan KTM Perlahan Membaik, Maverick Vinales Terang-terangan Mengaku Tak Menyesal Tinggalkan Aprilia
• 12 jam lalutvonenews.com
thumb
Gempa Hari Ini Magnitudo 5,0 Guncang Melonguane
• 18 jam lalurctiplus.com
thumb
Airlangga di Tokyo Conference 2026: Asia Harus Perkuat Multilateralisme di Tengah Ketegangan Global
• 18 jam laludisway.id
thumb
Sah, Friderica Widyasari Dewi Ketua Dewan Komisioner OJK
• 13 jam lalucelebesmedia.id
Berhasil disimpan.