Jakarta (ANTARA) - Psikolog anak dan keluarga lulusan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia Sani B. Hermawan P.Si mengingatkan orang tua dalam membangun kualitas kebersamaan dengan anak.
Menurut dia, kebersamaan orang tua dan anak tidak harus berlangsung lama terutama bagi yang sibuk bekerja, asalkan dilakukan dengan interaksi.
“Kadang orang tua sekarang bekerja, itu susah sekali mencari waktu satu jam bersama setiap harinya. Tapi dengan 15 menit saja bersama berkualitas, bisa berbagi cerita, ketawa, memeluk, itu lebih bagus kedekatannya atau manfaat emotional attachment (keterikatan emosional)-nya,” ujar Sani kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Ciptakan aktivitas menarik kurangi penggunaan gawai pada anak
Sani mengatakan kebersamaan dengan anak bisa dilakukan baik oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan dan waktu luang. Hal ini penting mengingat saat ini tidak banyak orang tua yang bisa sepenuhnya berada di rumah.
Namun, ia menilai yang perlu ditekankan bukan sekadar lamanya waktu bersama, melainkan kualitas interaksinya.
Saat bersama, komunikasi tidak langsung terbangun biasanya membutuhkan waktu. Oleh karena itu, kebiasaan untuk saling komunikasi disarankan sebaiknya dibangun sejak anak masih kecil.
Baca juga: Karakter hangat Vidi Aldiano jadi sorotan, psikolog soroti pola asuh
Ia menyarankan komunikasi tidak hanya anak ke orang tua, namun orang tua dapat mengajak anak berdialog dengan cara bertanya tanpa nada menginterogasi, tanpa menghakimi atau memberi label, serta memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan dirinya.
Kebiasaan komunikasi seperti ini hendaknya bisa terbangun sampai anak itu remaja bahkan dewasa.
“Tapi memang akan sulit ketika kebiasaan itu tidak terbangun dari kecil dan harus perlahan-lahan dimulai untuk membangun kedekatan. Tidak ada kata terlambat, tapi yang terpenting adalah niat baik untuk memperbaiki komunikasi dan hubungan,” tutur dia.
Baca juga: Dinamika si anak tengah dalam keluarga menurut psikolog
Sani mengatakan kualitas hubungan dengan anak melalui komunikasi dua arah perlu ditingkatkan. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas bersama seperti bermain gim, bercanda, atau menonton film sambil mengajak anak berdiskusi tentang jalan ceritanya.
Menurut dia, penggunaan gawai di rumah sebenarnya bisa saja dilakukan bersama selama ada interaksi dan komunikasi. Misalnya, bermain gim atau menonton film bersama sambil berdiskusi tentang apa yang dimainkan atau ditonton.
Selain itu, kegiatan ini juga bisa diganti dengan aktivitas tanpa gawai, seperti bermain ular tangga, catur, atau petak umpet.
Baca juga: Hilangnya sosok ayah berpengaruh pada mental anak
“Yang jelas ada komunikasi membahas hal itu, sehingga tidak hanya mainnya, tapi lebih ke arah kedekatan secara emosional dan membangun hubungan dua arah tadi melalui gawai sebagai materialnya atau tools-nya gitu, sebagai medianya,” imbuh dia.
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak keluarga untuk menghadirkan waktu berkualitas bersama anak melalui kegiatan #SatuJamBerkualitas di tengah meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial di kalangan anak dan remaja.
Baca juga: Menteri PPPA: Penting awasi anak main gim online cegah kekerasan
Menurut dia, kebersamaan orang tua dan anak tidak harus berlangsung lama terutama bagi yang sibuk bekerja, asalkan dilakukan dengan interaksi.
“Kadang orang tua sekarang bekerja, itu susah sekali mencari waktu satu jam bersama setiap harinya. Tapi dengan 15 menit saja bersama berkualitas, bisa berbagi cerita, ketawa, memeluk, itu lebih bagus kedekatannya atau manfaat emotional attachment (keterikatan emosional)-nya,” ujar Sani kepada ANTARA di Jakarta, Kamis.
Baca juga: Ciptakan aktivitas menarik kurangi penggunaan gawai pada anak
Sani mengatakan kebersamaan dengan anak bisa dilakukan baik oleh ayah maupun ibu, tergantung siapa yang memiliki kesempatan dan waktu luang. Hal ini penting mengingat saat ini tidak banyak orang tua yang bisa sepenuhnya berada di rumah.
Namun, ia menilai yang perlu ditekankan bukan sekadar lamanya waktu bersama, melainkan kualitas interaksinya.
Saat bersama, komunikasi tidak langsung terbangun biasanya membutuhkan waktu. Oleh karena itu, kebiasaan untuk saling komunikasi disarankan sebaiknya dibangun sejak anak masih kecil.
Baca juga: Karakter hangat Vidi Aldiano jadi sorotan, psikolog soroti pola asuh
Ia menyarankan komunikasi tidak hanya anak ke orang tua, namun orang tua dapat mengajak anak berdialog dengan cara bertanya tanpa nada menginterogasi, tanpa menghakimi atau memberi label, serta memberi ruang bagi anak untuk mengekspresikan dirinya.
Kebiasaan komunikasi seperti ini hendaknya bisa terbangun sampai anak itu remaja bahkan dewasa.
“Tapi memang akan sulit ketika kebiasaan itu tidak terbangun dari kecil dan harus perlahan-lahan dimulai untuk membangun kedekatan. Tidak ada kata terlambat, tapi yang terpenting adalah niat baik untuk memperbaiki komunikasi dan hubungan,” tutur dia.
Baca juga: Dinamika si anak tengah dalam keluarga menurut psikolog
Sani mengatakan kualitas hubungan dengan anak melalui komunikasi dua arah perlu ditingkatkan. Hal itu bisa dilakukan dengan berbagai aktivitas bersama seperti bermain gim, bercanda, atau menonton film sambil mengajak anak berdiskusi tentang jalan ceritanya.
Menurut dia, penggunaan gawai di rumah sebenarnya bisa saja dilakukan bersama selama ada interaksi dan komunikasi. Misalnya, bermain gim atau menonton film bersama sambil berdiskusi tentang apa yang dimainkan atau ditonton.
Selain itu, kegiatan ini juga bisa diganti dengan aktivitas tanpa gawai, seperti bermain ular tangga, catur, atau petak umpet.
Baca juga: Hilangnya sosok ayah berpengaruh pada mental anak
“Yang jelas ada komunikasi membahas hal itu, sehingga tidak hanya mainnya, tapi lebih ke arah kedekatan secara emosional dan membangun hubungan dua arah tadi melalui gawai sebagai materialnya atau tools-nya gitu, sebagai medianya,” imbuh dia.
Sebelumnya, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengajak keluarga untuk menghadirkan waktu berkualitas bersama anak melalui kegiatan #SatuJamBerkualitas di tengah meningkatnya penggunaan gawai dan media sosial di kalangan anak dan remaja.
Baca juga: Menteri PPPA: Penting awasi anak main gim online cegah kekerasan





