Campak Merebak, Diskes Tetapkan KLB, Terparah di Makassar dan Sinjai

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

MAKASSAR, FAJAR— Pemprov Sulsel menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit campak di sejumlah wilayah. Saat ini, kasus tercatat terjadi di Kota Makassar dan Kabupaten Sinjai.

Kepala Dinas Kesehatan (Diskes) Sulsel Evi Mustikawati Arifin, mengatakan pihaknya telah mengeluarkan surat edaran kewaspadaan untuk mengantisipasi penyebaran penyakit yang berkaitan dengan kulit tersebut.

“Dinas sudah mengeluarkan surat edaran terkait kewaspadaan penyakit campak, sekaligus melakukan penguatan layanan kesehatan dan memastikan kesiapan Dinas Kesehatan Kota Makassar dan Kabupaten Sinjai dalam pelaksanaan ORI campak,” ujar Evi, Kamis, 12 Maret 2026.

Imunisasi campak sebenarnya sangat efektif dalam melindungi anak dari penyakit tersebut. Tingkat perlindungannya bahkan bisa mencapai lebih dari 90 persen. Namun, kasus masih dapat muncul jika cakupan imunisasi di tengah masyarakat belum merata.

“Imunisasi bukan tidak efektif. Justru vaksin campak sangat efektif. Namun, penyakit masih muncul karena cakupan imunisasi belum merata. Masih ada anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap, serta adanya kelompok rentan di masyarakat,” jelas Evi.

Campak sendiri merupakan penyakit infeksi akut yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Penularannya terjadi melalui droplet atau percikan cairan dari saluran pernapasan sehingga mudah menyebar dari satu orang ke orang lain.

Banyak kasus campak yang terjadi saat ini menyerang anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi campak atau yang imunisasinya belum lengkap. Kondisi tersebut menyebabkan kekebalan kelompok atau herd immunity di masyarakat belum terbentuk secara optimal.

Untuk menanggulangi situasi tersebut, pemerintah akan melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) atau imunisasi tanggap wabah di wilayah terdampak.

“ORI adalah upaya imunisasi massal serentak di wilayah tertentu untuk menanggulangi kejadian luar biasa penyakit menular seperti campak,” katanya.

Secara nasional, kasus campak memang mengalami peningkatan pada awal tahun 2026. Kementerian Kesehatan mencatat hingga minggu ke-8 tahun 2026 terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak yang tersebar di 29 kabupaten/kota di 11 provinsi, termasuk Sulawesi Selatan.

Pemerintah mengimbau orang tua untuk memastikan anak mendapatkan imunisasi campak lengkap sesuai jadwal guna mencegah penularan yang lebih luas, terutama menjelang meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode libur panjang.

Sementara itu, Kemenkes mencatat 10.453 suspek campak dengan 8.372 kasus terkonfirmasi dan enam kematian pada akhir Februari 2026. Terdapat 45 kejadian luar biasa (KLB) campak di 29 kabupaten/kota.

Tersebar di 11 provinsi, yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

“Pemerintah terus melakukan respons cepat untuk mencegah penularan yang lebih luas,” ujar Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Penanggulangan Penyakit Kemenkes, Andi Saguni, dilansir Kemenkes, kemarin.

Masyarakat diminta waspada menjelang libur Lebaran karena meningkatnya mobilitas dan aktivitas berkumpul dapat memicu penularan. Sebagai langkah pengendalian, Kemenkes mempercepat pelaksanaan ORI dan Catch Up Campaign imunisasi campak-rubella (MR) di wilayah terdampak maupun berisiko.

Program ini dilaksanakan di 102 kabupaten/kota dengan sasaran utama anak usia 9–59 bulan sepanjang Maret 2026. Pelayanan imunisasi dilakukan melalui berbagai titik layanan, seperti puskesmas, posyandu, satuan pendidikan (PAUD dan TK), tempat ibadah, hingga pos pelayanan mudik.

“Imunisasi merupakan perlindungan paling efektif untuk mencegah anak tertular campak,” katanya.

Selain imunisasi, masyarakat juga diimbau menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS), seperti mencuci tangan dengan sabun, menerapkan etika batuk, serta menggunakan masker saat berada di kerumunan.

Kemenkes menegaskan keberhasilan pengendalian campak sangat bergantung pada komitmen pemerintah daerah, dukungan lintas sektor, serta partisipasi masyarakat dalam memastikan cakupan imunisasi minimal 95 persen guna membentuk kekebalan kelompok dan mencegah penyebaran penyakit.

Kemenkes memastikan ketersediaan vaksin campak-rubella (MR) di Indonesia dalam kondisi aman untuk mendukung percepatan pelaksanaan imunisasi dalam merespons peningkatan kasus campak di sejumlah daerah.

Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Rizka Andalusia, menyampaikan bahwa penyediaan vaksin menjadi salah satu faktor kunci dalam pengendalian wabah campak selain kegiatan surveilans dan deteksi dini kasus.

“Pemerintah telah merencanakan percepatan pelaksanaan Outbreak Response Immunization di daerah-daerah dengan kasus tinggi,” ujar Rizka Andalusia.

Vaksin MR yang digunakan dalam program imunisasi nasional telah melalui proses evaluasi ketat terkait keamanan, mutu, dan khasiatnya. Berdasarkan hasil studi dan uji klinis, vaksin MR terbukti efektif dalam meningkatkan kekebalan tubuh terhadap campak dan rubella.

Penelitian menunjukkan peningkatan antibodi yang signifikan setelah pemberian vaksin, dengan tingkat seropositif mencapai lebih dari 90 persen pada anak yang telah divaksinasi. (edo/zuk)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Iran Menyerang Uni Emirat Arab, Kilang Minyak Terbesar Terpaksa Ditutup
• 7 jam laluerabaru.net
thumb
Sudah Cetak 15 Clean Sheet di BRI Super League, Teja Paku Alam Potensial Samai Rekor Mantan Asisten Shin Tae-yong
• 19 jam lalubola.com
thumb
DPR di MK: Pemindahan Ibu Kota Negara Tidak Dapat Dilakukan Secara Otomatis
• 16 jam lalukompas.com
thumb
Pasokan Batu Bara PLN Cukup untuk 19 Hari, Listrik Aman hingga Lebaran 
• 11 jam laluidxchannel.com
thumb
PSSI Resmi Luncurkan Jersei Baru Timnas Indonesia Produksi Kelme
• 7 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.